>JADILAH KUNCI KEBAIKAN

23 02 2011

>

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]

Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :

  1. Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.
  2. Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.
  3. Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.
  4. Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
  5. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.
  6. Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.
  7. Menasehati manusia ketika bergaul dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.
  8. Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])
  9. Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain. Apabila keinginan seseorang kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.
[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194).

[2] Al-Zalzalah : 7-8.

[3] Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr.





>Cahaya Hati

22 02 2011

>

“Allah Ta’ala menerangi alam dengan cahaya makhluk-­Nya, dan menerangi hati manusia dengan cahaya sifat-sifat-­Nya. Oleh karena itu, cahaya alam bisa terbenam, akan tetapi cahaya hati dan kegaiban hati tidak bisa terbenam. Seperti kata penyair, “Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam, sedangkan matahari hati tidak pernah terbenam. “

Cahaya bagi alam semesta, adalah cahaya Allah yang menerangi hati para hamba yang mengetahui kebenaran, dan menghiasi batin hamba yang saleh dan taat. Oleh karena itu, hati hamba yang telah mendapat sinar Ilahiyah, tidak pernah redup dan selamanya akan bersinar, seperti matahari menyinari rembulan yang menyinarkan cahaya sepanjang malam. Cahaya itu memberi ketenangan dan keteduhan di hati. Cahaya dari Al­lah yang menyelusup masuk ke dalam hati insan melebihi sejuknya sinar rembulan, memantulkan penawar ke dalam jiwa manusia sehingga bertambah akrablah sang hamba dengan Al Khaliq.

Cahaya Allah yang berupa sifat-sifat Allah yang suci dan mulia bersinar di dalam hati sanubari manusia, memperteguh keyakinan sehingga si hamba mendapat kesejukan dan kenikmatan dalam jiwanya. Merasakan kesejukan dan kelezatan iman dalam jiwa akan menumbuhkan ketenangan yang sangat diperlukan oleh jiwa yang resah gelisah. Jiwa akan menjadi sakinah dan mutmainnah setelah mendapat sinar yang menerangi hidup manusia lahir dan batin. Ketenangan jiwa yang mendapat sinar dari Allah Swt. akan memberi kekuatan, keteguhan dalam mempertahankan hidup suci dalam ketaatan, serta memperkokoh (istiqamah) mempertahankan keimanan clan keyakinan.

Allah Jalla Jalaluh telah menerangi alam semesta ini dengan cahaya matahari, bulan dan bintang. Cahaya itu adalah pantulan dari cahaya makhluk ciptaan Allah. Akan tetapi memancarkan cahaya abadi dari kemuliaan sifat-sifat-Nya ke dalam hati sanubari manusia. Itulah yang abadi, tidak pernah redup, tidak pernah mati, Matahari yang bersinar di langit bisa redup, akan tetapi matahari yang bersinar di hati tak pernah redup. Itulah sinar Allah yang memantul ke dalam hati hamba-hamba yang tekun beribadah.





>Manajemen Qalbu Dengan Dzikrullah & Suluk

22 02 2011

>

Tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti:

  1. jalan atau petunjuk jalan atau cara,
  2. Metode, system (al-uslub),
  3. mazhab, aliran, haluan (al-mazhab),
  4. keadaan (al-halah)
  5. tiang tempat berteduh,tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Menurut Al-Jurjani ‘Ali binMuhammad bin ‘Ali (740-816 M),tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta ’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

DZIKRULLAH (Menggapai Ketenteraman Hati)

Di dalam ajaran Islam, dzikrullah berarti menjaga hati untuk selalu menyebut dan mengingat Allah Swt.

Menurut kalangan sufi, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dan Ibn Athaillah,

Dzikir kepada Allah Swt memiliki tiga bagian.

Pertama, dzikir lisan-disebut dzikr jali (jelas);
yaitu mengingat Allah Swt dengan ucapan lisan, yang berupa ucapan pujian, syukur, dan doa kepada-Nya. Misalnya, seseorang mengucapkan tahlil (la ilaha illaallah), tasbih (subhanallah), dan takbir (allahu akbar).

Rasulullah memberi contoh dzikir, seperti disebutkan di dalam hadits, “Kalau aku membaca subhanallah wa al-hamdu lillahi wa la ilaha illallah wallahu akbar, maka bacaan itu lebih aku gemari daripada mendapatkan kekayaan sebanyak apa yang berada di bawah sinar matahari.” (HR Muslim).

Kedua, dzikir hati-disebut dzikr khafi (sembunyi);
yaitu mengingat Allah Swt dengan khusyuk karena ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Seseorang yang melakukan dzikir semacam ini, hatinya senantiasa memiliki hubungan dengan-Nya; merasa kehadiran Allah Swt di dalam dirinya. Ketika berdzikir, kita sesungguhnya dekat dengan Allah Swt.

Ketiga, dzikir jiwa-raga, dzikr haqiqi;
yaitu mengingat Allah Swt yang dilakukan seluruh jiwa dan raga, baik lahiriah maupun batiniah, di mana dan kapan saja. Jiwa dan raga kita hanya mengerjakan perintah-perintah Allah Swt dan menghindarkan diri dari berbagai larangan-Nya. Inilah tingkatan paling tinggi dalam mengingat Allah Swt, seperti diakui kalangan sufi.

Faedah-Faedah Dzikir :
Bila seseorang benar-benar melaksanakan dzikir sesuai dengan yang dikehendaki Allah Swt dan Rasul-Nya, maka setidaknya ada 20 faedah yang diperoleh oleh orang tersebut, yaitu :

  1. Baik sangka kepada Allah Swt.
  2. Mendapat rahmat dan inayah dari Allah Swt.
  3. Memperoleh sebutan dari Allah Swt dihadapan hamba-hamba pilihan.
  4. Membimbing hati dengan mengingat dan menyebut Allah Swt.
  5. Melepaskan diri dari azab Allah Swt.
  6. Memelihara diri dari godaan setan dan membentengi diri dari maksiat.
  7. Mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
  8. Mendapatkan derajat yang tinggi disisi Allah Swt.
  9. Memberikan sinar kepada hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa.
  10. Menghasilkan tegaknya suatu rangka dari Iman dan Islam.
  11. Menghasilkan kemuliaan dan kehormatan di hari kiamat.
  12. Melepaskan diri dari perasaan menyesal.
  13. Memperoleh penjagaan dan pengawalan dari para malaikat.
  14. Menyebabkan Allah Swt bertanya kepada para malaikat yang menjadi utusan Allah Swt tentang keadaan orang-orang yang berdzikir itu.
  15. Menyebabkan berbahagianya orang-orang yang duduk beserta orang-orang yang berdzikir, walaupun orang orang tersebut tidak berbahagia.
  16. Menyebabkan dipandang “ahlul ihsan”, dipandang orang-orang yang berbahagia dan pengumpul kebajikan.
  17. Menghasilkan ampunan dan keridhaan Allah Swt.
  18. Menyebabkan terlepas dari pintu fasiq dan durhaka. Karena orang yang tiada mau menyebut Allah Swt (berdzikir) dihukum orang yang fasiq.
  19. Merupakan ukuran untuk mengetahui derajat yang diperoleh disisi Allah Swt.
  20. Menyebabkan para Nabi dan orang Mujahidin (syuhada) menyukai dan mengasihi.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa dengan dzikir kepada Allah Swt, akan tergapai ketenteraman hati, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [013]:28).

Oleh karena itu, mari kita tingkatkan dzikir kita kepada Allah Swt, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun, agar hati kita selalu tenteram lantaran selalu ingat kepada Allah Rabbul Izzati, amin.

SULUK : UZLAH ADALAH PINTU TAFAKUR

TIADA SESUATU YANG SANGAT BERGUNA BAGI HATI SEBAGAIMANA UZLAH UNTUK MASUK KE MEDAN TAFAKUR.

Kalam-kalam Hikmat pertama hingga ke sebelas telah memberi gambaran tentang keperibadian tauhid yang halus-halus. Seseorang yang mencintai Allah s.w.t dan mahu berada di sisi-Nya sangat ingin untuk mencapai keperibadian yang demikian. Dalam membentuk keperibadian itu dia gemar mengikuti landasan syariat, kuat beribadat dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Dia sering bangun pada malam hari untuk melakukan sembahyang tahajud dan selalu pula melakukan puasa sunat. Dia menjaga tingkah-laku dan akhlak dengan mencontohi apa yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w.

Hasil daripada kesungguhannya itu terbentuklah padanya keperibadian seorang muslim yang baik. Walaupun demikian dia masih tidak mencapai kepuasan dan kedamaian. Dia masih tidak mengerti tentang Allah s.w.t. Banyak persoalan yang timbul di dalam kepalanya yang tidak mampu dihuraikannya. Dia telah bertanya kepada mereka yang alim, tetapi dia tidak mendapat jawapan yang memuaskan hatinya. Jika ada pun jawapan yang baik disampaikan kepadanya dia tidak dapat menghayati apa yang telah diterangkan itu. Dia mengkaji kitab-kitab tasauf yang besar-besar. Ulama tasauf telah memberikan penjelasan yang mampu diterima oleh akalnya namun, dia masih merasakan kekosongan di satu sudut di dalam dirinya. Bolehlah dikatakan yang dia sampai kepada perbatasan akalnya.

Hikmat 12 ini memberi petunjuk kepada orang yang gagal mencari jawapan dengan kekuatan akalnya. Jalan yang disarankan ialah uzlah atau mengasingkan diri dari orang ramai. Jika dalam suasana biasa akal tidak mampu memecahkan kubu kebuntuan, dalam suasana uzlah hati mampu membantu akal secara tafakur, merenungi perkara-perkara yang tidak boleh difikirkan oleh akal biasa. Uzlah yang disarankan oleh Hikmat 12 ini bukanlah uzlah sebagai satu cara hidup yang berterusan tetapi ia adalah satu bentuk latihan kerohanian bagi memantapkan rohani agar akalnya dapat menerima pancaran Nur Kalbu kerana tanpa sinaran Nur Kalbu tidak mungkin akal dapat memahami hal-hal ketuhanan yang halus-halus, dan tidak akan diperolehi iman dan tauhid yang hakiki.

Hati adalah bangsa rohani atau nurani iaitu hati berkemampuan mengeluarkan nur jika ia berada di dalam keadaan suci bersih. nur yang dikeluarkan oleh hati yang suci bersih itu akan menerangi otak yang bertempat di kepala yang menjadi kenderaan akal. Akal yang diterangi oleh nur akan dapat mengimani perkara-perkara ghaib yang tidak dapat diterima oleh hukum logik. Beriman kepada perkara ghaib menjadi jalan untuk mencapai tauhid yang hakiki.

Nabi Muhammad s.a.w sebelum diutus sebagai Rasul pernah juga mengalami kebuntuan akal tentang hal ketuhanan. Pada masa itu ramai pendeta Nasrani dan Yahudi yang arif tentang hal tersebut, tetapi Nabi Muhammad s.a.w tidak pergi kepada mereka untuk mendapatkan jawapan yang mengganggu fikiran baginda s.a.w, sebaliknya baginda s.a.w telah memilih jalan uzlah.

Ketika umur baginda s.a.w 36 tahun baginda s.a.w melakukan uzlah di Gua Hiraa. Baginda s.a.w tinggal sendirian di dalam gua yang sempit lagi gelap, terpisah dari isteri, anak-anak, keluarga, masyarakat hinggakan cahaya matahari pun tidak menghampiri baginda s.a.w. Amalan uzlah yang demikian baginda s.a.w lakukan secara berulang-ulang sehingga umur baginda s.a.w mencapai 40 tahun. Masa yang paling baginda s.a.w gemar beruzlah di Gua Hiraa’ ialah pada bulan Ramadan. Latihan uzlah yang baginda lakukan dari umur 36 hingga 40 tahun itu telah memantapkan rohani baginda s.a.w sehingga berupaya menerima tanggungjawab sebagai Rasul. Latihan semasa uzlah telah menyucikan hati baginda s.a.w dan meneguhkannya sehingga hati itu mampu menerangi akal untuk mentafsir wahyu secara halus dan lengkap. Wahyu yang dibacakan oleh Jibrail a.s hanyalah singkat tetapi Rasulullah s.a.w dapat menghayatinya, memahaminya dengan tepat, mengamalkannya dengan tepat dan menyampaikannya kepada umatnya dengan tepat meskipun baginda s.a.w tidak tahu membaca dan menulis.

Begitulah kekuatan dan kebijaksanaan yang lahir dari latihan semasa uzlah. Tanpa latihan dan persiapan yang cukup seseorang tidak dapat masuk ke dalam medan tafakur tentang ketuhanan. Orang yang masuk ke dalam medan ini tanpa persediaan dan kekuatan akan menemui kebuntuan. Jika dia masih juga merempuh tembok kebuntuan itu dia akan jatuh ke dalam jurang gila.

Orang awam hidup dalam suasana: “Tugas utama adalah menguruskan kehidupan harian dan tugas sambilan pula menghubungkan diri dengan Allah s.w.t”. Orang yang di dalam suasana ini sentiasa ada masa untuk apa juga aktiviti tetapi sukar mencari kesempatan untuk bersama-sama Allah s.w.t. Orang yang seperti ini jika diperingatkan supaya mengurangkan aktiviti kehidupannya dan memperbanyakkan aktiviti perhubungan dengan Allah s.w.t mereka memberi alasan bahawa Rasulullah s.a.w dan sahabat-sahabat baginda s.a.w tidak meninggalkan dunia lantaran sibuk dengan Allah s.w.t.

Mereka ini lupa atau tidak mengerti bahawa Rasulullah s.a.w dan para sahabat telah mendapat wisal atau penyerapan hal yang berkekalan. Hati mereka tidak berpisah lagi dengan Allah s.w.t. Kesibukan menguruskan urusan harian tidak membuat mereka lupa kepada Allah s.w.t walau satu detik pun. Orang yang mata hatinya masih tertutup dan cermin hatinya tidak menerima pancaran Nur Sir, tidak mungkin hatinya berhadap kepada Allah s.w.t ketika sedang sibuk melayani makhluk Allah s.w.t. Orang yang insaf akan kelemahan dirinya akan mengikuti jalan yang dipelopori oleh Rasulullah s.a.w dan diikuti oleh para sahabat iaitu memisahkan diri dengan semua jenis kesibukan terutamanya pada satu pertiga malam yang akhir. Tidak ada hubungan dengan orang ramai. Tidak dikunjung dan tidak mengunjungi. Tidak ada surat khabar, radio dan televisyen. Tidak ada perhubungan dengan segala sesuatu kecuali perhubungan dengan Allah s.w.t.

Dalam perjalanan tarekat tasauf amalan uzlah dilakukan dengan bersistematik dan latihan yang demikian dinamakan suluk. Orang yang menjalani suluk dinamakan murid atau salik. Si salik menghabiskan kebanyakan daripada masanya di dalam bilik khalwat dengan diawasi dan dibimbing oleh gurunya. Latihan bersuluk memisahkan salik dengan hijab yang paling besar bagi orang yang baharu menjalani jalan kerohanian iaitu pergaulan dengan orang ramai. Imannya belum cukup teguh dan mudah menerima rangsangan daripada luar yang boleh menggelincirkannya untuk melakukan maksiat dan melalaikan hatinya daripada mengingati Allah s.w.t. Apabila dia dipisahkan dari dunia luar jiwanya lebih aman dan tenteram mengadakan perhubungan dengan Allah s.w.t.

Semasa beruzlah, bersuluk atau berkhalwat, si murid bersungguh-sungguh di dalam bermujahadah memerangi hawa nafsu dan tarikan duniawi. Dia memperbanyakkan sembahyang, puasa dan berzikir. Dia mengurangkan tidur kerana memanjangkan masa beribadat. Kegiatan beribadat dan pelepasan ikatan nafsu dan duniawi menjernihkan cermin hatinya. Hati yang suci bersih menghala ke alam ghaib iaitu Alam Malakut. Hati mampu menerima isyarat-isyarat dari alam ghaib. Isyarat yang diterimanya hanyalah sebentar tetapi cukup untuk menarik minatnya bagi mengkaji apa yang ditangkap oleh hatinya itu. Terjadilah perbahasan di antara fikirannya dengan dirinya sendiri. Pada masa yang sama dia menjadi penanya dan penjawab, murid dan pengajar. Perbahasan dengan diri sendiri itu dinamakan tafakur.

Pertanyaan timbul dalam fikirannya namun, fikirannya tidak dapat memberi jawapan. Ketika fikirannya meraba-raba mencari jawapan, dia mendapat bantuan daripada hatinya yang sudah suci bersih. Hati yang berkeadan begini mengeluarkan nur yang menerangi akal, lalu jalan fikirannya terus menjadi terang. Sesuatu persoalan yang pada mulanya difikirkan rumit dan mengelirukan, tiba-tiba menjadi mudah dan terang. Dia mendapat jawapan yang memuaskan hatinya kepada persoalan yang dahulunya mengacau fikiran dan jiwanya. Dia menjadi bertambah berminat untuk bertafakur menghuraikan segala kekusutan yang tidak dapat dihuraikannya selama ini. Dia gemar merenung segala perkara dan berbahas dengan dirinya, menghubungkannya dengan Tuhan sehingga dia mendapat jawapan yang memuaskan hatinya. Semakin dia bertafakur semakin terbuka kegelapan yang menutupi fikirannya. Dia mula memahami tentang hakikat, hubung-kait antara makhluk dengan Tuhan, rahsia Tenaga Ilahi dalam perjalanan alam dan sebagainya.

Isyarat-isyarat tauhid yang diterima oleh hatinya membuat mata hatinya melihat bekas-bekas Tangan Allah s.w.t dalam alam maya ini. Dia dapat melihat bahawa semuanya adalah ciptaan Allah s.w.t, gubahan-Nya, lukisan-Nya dan peraturan-Nya. Hasil dari kegiatan bertafakur tentang Tuhan membawa dia bermakrifat kepada Allah s.w.t melalui akalnya. Makrifat secara akal menjadi kemudi baginya untuk mencapai makrifat secara zauk.

Dalam pengajian ketuhanan akal hendaklah tunduk mengakui kelemahannya. Akal hendaklah sedar bahawa ia tidak mampu memahami perkara ghaib. Oleh itu akal perlu meminta bantuan hati. Hati perlu digilap supaya bercahaya. Dalam proses menggilap hati itu akal tidak perlu banyak mengadakan hujah. Hujah akal melambatkan proses penggilapan hati. Sebab itulah Hikmat 12 menganjurkan supaya mengasingkan diri. Di dalam suasana pengasingan nafsu menjadi lemah dan akal tidak lagi mengikut telunjuk nafsu. Baharulah hati dapat mengeluarkan cahayanya. Cahaya hati menyuluh kepada alam ghaib. Apabila alam ghaib sudah terang benderang baharulah akal mampu memahami hal ketuhanan yang tidak mampu dihuraikannya sebelum itu.
Source : Al-Hikam

Nasehat :
Syekh Naqsybandi QS, pilar utama Tarekat Naqsybandi memberi nasihat kepada khalifahnya, Syekh Ala’ud-Din al-Bukhari QS,

“Jangan dengarkan orang terpelajar yang menyangkal tarekat. Jika engkau mendengarnya, maka selama tiga hari Setan akan mengendalikan dirimu. Jika engkau tidak bertobat dalam tiga hari, dia akan menguasai orang itu selama 40 hari, dan jika tidak bertobat dalam 40 hari, engkau akan menerima kutukan selama 1 tahun.”

Kini di masa kita, banyak sekali orang yang menyangkal tarekat. Tinggalkan mereka, jangan berargumen dengan mereka. Mereka seperti Abu Jahal, Rasulullah SAW berkata kepadanya, tetapi ia tidak menerimanya. Kita tidak lebih kuat daripada Rasulullah SAW.

(Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS)
source : SUFIMUDA

‎”Nur Cahaya yg tersimpan dalam hati itu datangnya dari Nur yg datang langsung dari perbendaharaan ghaib.”

“Adakalanya hati itu terhenti pada sinar cahaya-cahaya itu, sebagaimana terhijabnya nafsu dengan padatnya benda-benda makhluk.” (Al-Hikam)

Nur keyakinan yg ada dlm hati orang-orang arif salurannya langsung daripada Nur ala nur. Allah telah menerangi alam benda yg dzohir ini dg cahaya benda buatanNYA. Dan Allah menerangi hati batin itu dg cahaya sifat-sifatNYA.

Dg cahaya matahari kita melihat benda2 alam, tetapi hanya dg nur iman keyakinan kita dpt melihat langsung kpd Allah yg menjadikan benda.

Hijab yg dpt menghalangi manusia berjalan kpd Allah itu adakalanya Nur dan adakalanya kegelapan. Bila yg menghentikan perjalanan kpd Allah itu ilmu, maka itu bernama hijab Nur. Dan bila yg menghalangi perjalanan itu berupa adat kebiasaan dan syahwat, maka itu bernama hijab kegelapan.Hati dpt silau oleh Nur Cahaya ilmu, sebagaimana silaunya nafsu dg kegelapan benda. Sedang Allah dibalik semua itu.





>Sesungguhnya Doa Kita itu Sudah Terkabul Semua

4 02 2011

>

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu…”
(Q.S Al Mumun:60)

Saya setiap hari berdoa, tapi kenapa tidak juga dikabulkan? Perkataan tersebut bukanlah hal baru, sebab hampir setiap manusia pernah mengucapkan sekaligus meragukan kebenaran Firman Alloh tersebut di atas.

Perasaan bahwa doa kita tidak terkabul sebenarnyalah hanyalah ilusi fikiran kita sendiri. Dan hal ini diperkuat oleh bisikan syetan yang membisikkan rasa was-was dan ragu ke dalam hati kita. Juga sikap dan perilaku kita yang tidak selaras dengan Daya Hidup dari Tuhan. Serta ketidak mampuan dalam memaknai segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya sebagai bagian dari bimbingan, pembelajaraan, dan pendewasaan diri dari Tuhan. Sehingga dengan demikian semakin mengeras dan mengkristallah keyakinan tersebut di dalam hati kita. Dan semua itu terjadi karena lemahnya Iman, Ilmu, Amal dan ke ikhlasan hati.

Agar Doa berhasil, harus ada sinkronisasi yang tepat antara Tuhan dengan diri anda. Karena ketika anda berdoa tidak pada kondisi Ikhlas atau “Zero Area”. Anda berdoa dengan masih membawa ego diri yg kuat, apa yg diucapkan tidak sesuai dengan yang ada dihati. Anda seringkali masih merasa sangsi akan terkabulnya doa dan tanpa disadari pula anda fokus “Pada Apa Yg Anda TIDAK Inginkan”, bukan Fokus Pada Yang Anda INGINKAN. Sehingga dengan demikian artinya sirkuit energi antara Tuhan dengan Anda tidak tersambung dengan baik. Ahirnya yang terjadi adalah justru sesuatu yang kita TIDAK INGINKAN atau jauh dari yang kita inginkan.

Jadi agar Aliran Energi Ilahi mengalir :

  1. Anda harus bersikap sebagai seorang Faqir yang sangat membutuhkan Karunia Tuhan, ibarat kutub (-) minus dalam sirkuit listrik.
  2. Masuki keadaan Zero Area, sebuah keadaan dimana semua hambatan diri, mental blocking, dan Energi blocking terbuka semuanya.
  3. Tentukan dengan jelas keinginan anda, jadi pastikan ke arah mana energi Ilahi tersebut hendak di alirkan.
  4. Kondisikan mental, fikiran, dan hati anda agar selaras dengan nilai-nilai Ilahiah, itu artinya anda bergetar selaras dengan Tuhan.

SESUNGGUHNYA DOA KITA SUDAH TERKABUL
Saya ingin sukses koq malah gagal terus? Saya ingin dapat pekerjaan, koq masih nganggur saja? Saya ingin lunas hutang koq malah tambah besar? Saya ingin kurus, koq malah tambah gemuk? Dan masih banyak doa yang kita inginkan tapi yang didapat malah justru sebaliknya. Sesungguhnya doa kita sudah dikabulkan, saya katakan lebih tegas lagi, YA..DOA KITA SUDAH DIKABULKAN 100%.

Mari kita buktikan, pada saat anda berdoa ingin sukses, bagaimana perasaan hati anda? Bagaimana perasaan syukur atas keberhasilan yg pernah anda peroleh selama ini? Atau seberapa besar nilai kekecewaan anda terhadap kekurangan yg telah anda dapatkan? Bagaimana penilaian anda pada orang-orang sukses? Misalnya, Orang sukses itu pelit, orang sukses itu sombong, dsb, dst. Semakin banyak penilaian negatif anda tentang orang sukses, maka sesungguhnya anda sedang berkata “SAYA TIDAK SIAP UNTUK JADI ORANG SUKSES, SEBAB ORANG SUKSES BANYAK NEGATIFNYA”. Saat berdoa ingin sukses, tetapi hati anda serba merasa kekurangan, berarti yg anda harapkan sebenarnya kekurangan itu. Nah, bukankah itu berarti doa anda sudah DIKABULKAN?

Jika masih bingung, mari kita lihat satu ilustrasi lagi…
Kita semua ingin hidup terbebas dari hutang, betul? Jika anda sepakat dengan saya menjawab betul, mari kita lihat sejenak dengan hati nurani. Hidup tanpa hutang itu enak….setuju? Pasti sebagian besar akan menjawab setuju, memang enak hidup tanpa hutang. Tapi saat anda berdoa ingin terbebas dengan hutang, apa yg anda rasakan? Betapa sesaknya dada anda membayangkan tagihan-tagihan yg menggunung. Intinya anda fokus pada besarnya hutang, bukan nikmatnya bebas dari hutang. Apa yg terjadi? Jika anda fokus pada besarnya hutang, maka tidak ubahnya anda menarik energi hutang semakin besar dalam kehidupan anda…

Sangat penting untuk menyelaraskan doa dan perasaan kita (alam bawah sadar), perasaan akan menarik energi sangat kuat dari alam semesta…jadi ketika doa kita tidak selaras dengan perasaan, maka energi dalam perasaan tersebut justru yg akan menarik sesuatu yg serupa dengannya….. (hukum Tarik Menarik)

Perasaan (alam bawah sadar) 88% lebih kuat dari pikiran kita 22%. Justru pikiran merupakan hasil dari perasaan kita….jadi hati-hati juga berusaha untuk berfikir positif jika perasaan kita justru sebaliknya….karena semakin kuat berusaha berfikir positif, kalau tidak selaras dengan hati yg terjadi adalah pikiran negatif yg semakin kuat….

Nah biar doa kita berhasil, mulailah selaraskan antara pikiran dan hati kita dengan Tuhan….





>Kalam Hikmah

12 01 2011

>

Ilaahi Lastu lil Fidausi Ahlaa,
Walaa Aqwaa ‘Alaa Naaril Jahiimi
Fahablii Taubatan Waghfir Dzunuubii,
Fainnaka Ghaafirudz Dzambil ‘Azhiimi…

Ya Allah Gusti Pangeran hamba mohon rahmatMu
Hamba sadar tidak pantas jadi penghuni surgaMu
Namun hamba tidak kuat nanggung siksa nerakaMu
Hamba mohon padaMu buka pintu taubatMu

Ya Allah Gusti Pangeran hamba mohon bimbingan
Jalan menuju padaMu sangat banyak rintangan
Hamba tak sanggup menahan segala bentuk goncangan
Bak air menerjang rumah sawah dan ladang

Ya Allah Gusti Pangeran hamba mohon ridhoMu
Melawan hawa nafsu dengan daya upayaMu
Tipu daya hawa nafsu datang tak pernah jemu
Hamba mohon padaMu dg pertolonganMu

1. Jangan berambisi untuk memiliki dan menguasai sesuatu apapun, raih dan cintai sesuatu itu atas dasar memelihara amanat dan anugerah Allah. Oleh karenanya, jika ingin dicintai Allah maka jangan berpaling kepada selain diri-Nya dan jika ingin dicintai makhluk maka jangan mengharapkan yang ada padanya..!!!

2. Bagi orang yang rindu perjumpaan dengan kekasih Allah, hari Jum’at adalah kesempatan untuk memperbanyak baca Shalwat Nabi..!

3. Sabtu adalah hari diturunkannya Nabi Adam dari Syurga dan juga para Syaitan yang selalu mendatangi manusia untuk berbuat kufur kepada-Nya.. Memperbanyak bacaan dan zikir Istighfar adalah sebagai amalan yang paling baik untuk menjernihkan jiwa dan akal pikiran. (

4. Ahad itu bahasa arab yang berarti satu. Maka hari ahad berarti hari pertama dalam putaran sepekan. Mengawali perjalanan hari sebaiknya zikir “SUBHANALLAH” sebanyak mungkin (minimal empat ribu di dalam hati). Semoga Allah memberikan kejernihan hati, jiwa dan akal pikiran dalam perjalanan sepekan mendatang, sehingga dalam menghadapi persoalan hidup tetap bersikap tenang yang pada akhirnya mendapat solusi dari-Nya..!!


5. Hari senin sebagai awal hari dimana orang-orang bergegas menjemput rezeki Allah. Oleh karenanya, jadikanlah kalimat “ALHAMDULILLAH” sebagai zikiran dihari Senin ini. Insya Allah dengan memperbanyak zikiran tersebut, Allah akan melimpahkan rezeki yang berkah dan penuh rahmah..! (

6. Banyak orang yang mempercayai bahwa hari Selasa adalah hari NAAS, sehingga tidak sedikit orang membatalkan untuk bepergian, perayaan bahkan transaksi dalam bisnis. Padahal Allah menciptakan semua hari itu baik. Karenya perbanyak baca TAHLIL yaitu kalimat thayyibah “LAA ILAAHA ILLAA ALLAH”. Yakinilah, hanya Allah dengan kekuasaan-Nya dapat merubah sesuatu jadi atau tidak..!!! .

7. Zikir “ALLAHU AKBAR” pada hari Rabu dapat dijadikan senjata untuk memperdaya segala bentuk ilmu hitam dan sekaligus juga sebagai tameng dari rayuan syaitan..!!!

8. Hari ini (Kamis 9 April 2009) Bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada sebuah pilihan untuk menentukan masa depan Bangsa yang diamanatkan pada wakil rakyat. Pilihan yang paling baik ialah menyerahkan Nasib Bangsa dan Negara hanya pada Allah. Maka sebelum mencontreng bacalah kalimat “LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYIL ‘AZHIIM.” Jadikan kalimat tersebut sebagai zikiran setiap hari Kamis minimal 4000 X..!!!

9. Serahkan segala urusanmu pada Allah, karena semua urusan muaranya hanya pada kehendak dan kekuasaan Allah. Usaha dan ikhtiar bagi seorang hamba itupun atas dasar kehendak-Nya dan semua kejadian yang berlaku di alam semesta juga atas dasar kekuasaan-Nya. KH4.

10. Mencari teman memang mudah apabila untuk hura-hura, tapi sungguh susah mencari teman untuk menjadi saudara seiman. Berjalan menuju Allah, saling mengingatkan, saling memberi nasihat dalam menghadapi persoalan hidup. Teman seiman ialah saudara Ruhaniah yang menerima dirimu apa
adanya, baik maupun buruk, senang maupun susah..!!!

11. Hidup tak ada yang sempurna, banyak hal yang tak sesuai dengan harapan, tapi yang paling baik dalam menyikapinya ialah: “Menerima apa saja yang Allah turunkan untuk kita walau hal tersebut tak sesuai dengan harapan kita.” (

12. Jangan mengharapkan sesuatu dengan nafsumu, karena sesuatu yang diharap terkadang dapat mengotori dan merusak hati. Jangan pula menolak sesuatu yang datang kepadamu walau dirimu tak menginginkannya, karena yang datang kepadamu bisa jadi baik untukmu dan masa depanmu. Sikap yang baik dan benar untukmu ialah berserah diri sepenuhnya pada Allah, hal itu lebih baik untukmu dalam membersihkan hati dan jiwamu..!!!

13. Hati orang yang beriman adalah rumah Allah yang tak boleh diisi oleh apa atau siapapun kecuali sang empunya rumah. Bebaskan jiwa dan pikiran kita dengan pandangan lurus hanya kepada Allah, agar mata batin kita tetap jernih dalam memandang dan menjalani anugerah besar Allah yang bernama KEHIDUPAN.

14. Secara kodrati manusia dianugerahi nafsu dalam dirinya, yang dapat membawa seseorang menuju kebaikan atau bahkan sebaliknya menuju kesesatan. Oleh karena nafsu bersifat kodrati maka ia tidak mungkin dibunuh dan dimusnahkan, melainkan ditaklukkan dan dikelola dengan penuh kesadaran dan keimanan yang baik agar kita selamat dunia dan akhirat. Salah satu cara menaklukkan nafsu ialah dengan jalan Zikir kepada-Nya..! KEHIDUPAN. .

15. Keinginanmu terkadang tidak sama dengan ketetapan Tuhan. Ketidak puasanmu menerima hidup apa adanya sebagai tanda nafsu telah menguasai jiwa dan hati yang menyebabkan kian jauhmu dari-Nya. Maka kendalikan hawa nafsumu dengan bimbingan syariat dan hakikat agar hati dan ruhmu tetap suci dalam genggaman Tuhan. Yakinilah bahwa apapun yang ditetapkan Tuhan itu pasti baik untukmu.

16. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53.

17. Secara fisik setiap manusia memiliki kebutuhan pokok yg tak bisa ditawar yakni Makan, Minum dan Berpakaian agar tubuhnya tidak mudah sakit dan fisiknya dapat berkembang dg baik. Maka demikian pula dg wilayah ruhaniah, juga memiliki kebutuhan yg mesti dipenuhi, yakni Amal Ibadah, Ilmu Agama (Tauhid) dan Zikir (Syuhud). Apabila ketiganya dipenuhi dg baik akan dapat menyelamatkan hidup di dunia maupun akhirat. .

18. Tanda Allah sayang pada hamba-Nya, ialah akan dicobanya dengan kesulitan. Karena dengan kesulitan dan kekurangan maka secara otomatis akan memunculkan daya juang pada diri hamba. Maka berhati-hati dan waspadalah bila selalu diberi kemudahan. Baik itu kemudahan materi, pangkat, maupun kedudukan. Karena setiap yang datang dari-Nya pada hakikatnya adalah anugerah dan juga sekaligus sebagai cobaan bagi hamba.

19. Dunia adalah persinggahan sementara dalam perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya yakni Akhirat. Oleh karenanya, segala peristiwa suka maupun duka selama menjalani kehidupan inipun bersifat fana atau sementara. Sikap pasrah dan tunduk pada putusan Allah, serta keluasan dan kelapangan hati dalam menjalani dinamika kehidupan dunia ini adalah bekal utama untuk dapat meraih kebahagiaan abadi disisi-Nya (Surga-Nya). KH15 (Kalam Hikmah Senin, 20 April 2009).

20. Sikap sabar dalam menghadapi semua persoalan hidup adalah satu anugerah dari Allah, tidak semua orang mendapat anugerah tersebut. Jika ada sifat sabar dalam dirimu, maka bersyukurlah kepada yg memberi kesabaran pada dirimu yaitu Allah SWT. .

21. Tak ada seorangpun yang terbebas dari persoalan dunia. Dan setiap persoalan yang menghampiri seseorang, sesungguhnya pada ketika itu Allah sedang memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk lebih dekat dengan-Nya. Maka kesabaran dan keikhlasan hamba dalam menghadapi persoalan hidup adalah kunci pembuka pintu untuk berjumpa, bercumbu dan bermesraan dengan-Nya di dalam kenikmatan yang abadi. .

22. Dalam kehidupan, banyak orang yang berusaha menghindari takdir malah ketemu takdir. Usaha menghindar dari sesuatu yang tak disukai malah berjumpa dengan yang lebih tidak disukai. Memang, terkadang sesuatu yang tak disukai nafsu, justeru menurut Allah baik untukmu dan masa depanmu, begitu pula sesuatu yang disukai nafsu, malah menurut Allah tidak baik untukmu dan masa depanmu. .

23. Menghadapi berbagai macam kemelut hidup, terkadang membuat hati lelah, gelisah dan nyaris patah semangat, karena persoalan demi persoalan datang seolah tak kunjung usai. Jangan putus asa wahai anak-anakku, karena Allah tidak akan membiarkanmu terlunta-lunta dalam menghadapinya. Percayalah bahwa pertolongan Allah sangat dekat terhadap orang yang bersih hatinya dan istiqomah mengabdi kepada-Nya. .

24. Memberi disaat mampu itu biasa, yang luar biasa ialah memberi disaat butuh diberi. Pemberian yang hakiki ialah bukan sekedar materi, sikap yang menyejukkan hati dan melapangkan jiwa adalah pemberian yang tak ternilai. Jika tidak bisa memberi dengan materi maka seyum yang tulus adalah bentuk sikap yang dapat menentramkan jiwa bagi yang menerimanya.

25. Hidup adalah rangkaian anugerah dan cobaan. Orang yang berani hidup adalah orang yang tabah, kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan dengan segala resikonya. Oleh karenanya, tetaplah waspada dengan meningkatkan ketabahan, daya juang dan kesabaran dalam menghadapi tiap ujian dari-Nya, baik itu ujian berupa kesenangan maupun kesulitan dan musibah.

26. Allah telah mengukur kehidupan yang paling tepat bagi setiap hamba-Nya. Jika tidak puas dengan ketetapan-Nya yang terkadang tidak sesuai dengan nafsumu, hal tersebut hanya akan membuat kian tenggelam dalam kekecewaan dan keputus asaan. Maka satu-satunya jalan adalah berdamai dengan segala bentuk keadaan dan jalani saja hidup ini dengan keimanan seiring budi pekerti yang baik, agar kita selamat dunia akhirat.

27. Apapun yang terjadi pada dirimu adalah sesuai dengan ketetapan Allah, itulah takdir hidupmu! Perlu engkau ketahui, bahwa tak ada satupun makhluk yang bisa merubah takdirmu. Oleh karenanya, jangan takut dan gelisah dalam menerima dan melihat takdir kehidupan dirimu. Percayalah, bahwa Allah memilih yang terbaik untukmu dalam menetapkan takdir perjalanan hidupmu!

28.Ilaahi Lastulil Fidausi Ahlaa, Walaa Aqwaa ‘Alaa Naaril Jahiimi, Fahablii Tawbataw Waghfir Dzunuubii, Fainnaka Ghaafirudz Dzambil ‘AzhiimiYa Allah Gusti Pangeran hamba mohon rahmat-Mu. Hamba sadar tidak pantas jadi penghuni surga-Mu. Namun hamba tidak kuat nanggung siksa neraka-Mu. Hamba mohon pada-Mu buka pintu taubat-Mu.Ya Allah Gusti Pangeran hamba mohon bimbingan. Jalan menuju pada-Mu sangat banyak rintangan. Hamba tak sanggup menahan segala bentuk goncangan. Bak air menerjang rumah sawah dan ladang.Ya Allah Gusti Pangeran hamba mohon ridho-Mu. Melawan hawa nafsu dengan daya upaya-Mu. Tipu daya hawa nafsu datang tak pernah jemu. Hamba mohon pada-Mu dengan pertolongan-Mu

29Kehidupan dunia ibarat lautan nafsu yang sangat dahsyat gelombang ombaknya. Tidak sedikit orang yang tenggelam dalam lautan nafsu karena lalai terhadap Allah. Karenanya, tetaplah berzikir (selalu ingat) pada Allah, kapanpun dan dimanapun agar selamat dunia akhirat. Seperti ikan yang hidup di air laut, kendatipun sekitarnya asin tapi badanya tidak terkontaminasi dengan rasa asin air laut, karena ikan itu hidup

30.Janji Allah pada hamba-Nya ialah: “Barangsiapa yang takwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberikan rizki dari sumber yang tiada disangka-sangka; dan barangsiapa yang tawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya), sesungguhnya Allah melaksanakan segala urusan, dan benar-benar Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath-Thalaq: 1-2).

31.Ya Allah Gusti Pangeran mohon keselamatan. Dari tipu daya dunia pengaruh iblis dan setan. Hamba sudah tidak tahan mengahadapi godaan. Yang datang berdendang dengan nada rayuan. Ya Allah Gusti Pangeran hamba simpuh pada-Mu. Hamba yang dhoif dan hina mohon belas kasih-Mu. Kemana lagi mengharap selain hanya diri-Mu. Hamba mohon pada-Mu dengan sifat rahmat-Mu.

32.Setiap manusia diberi kelibihan dan kekurangan untuk saling melengkapi. Menyukuri apapun yg ada pd dirinya sbg tanda orang yg menegerti hakikat diri & Tuhannya.

33.Orang yang selalu menerima nasihat dan berusaha mengamalkannya adalah termasuk golongan orang yang akan meraih sukses dalam kehidupannya, baik untuk hidup di dunia maupun bekal ke akhirat. Berbeda dengan orang-orang kerdil dan picik yang tak perduli dengan nasihat dan fatwa, mereka mudah terperangkap oleh tipu daya nafsunya dan jalan hidupnya pun akan terlunta-lunta, jauh dari kebahagiaan dunia dan akhirat.

34.Astaghfirullah Rabbal Baraayaa, Astaghfirullah Minal Khathayaa, Rabbiizidnii ‘Ilman Naafi’aa, Wawafi’nii ‘Amalan Maqbuulaa.Ya Allah Gusti, ampunilah hamba dari segala dosa dan kekhilafan, hamba mohon bimbingan serta petunjuk-Mu, tuk melaksanakan segala perintah-Mu, dan menjauhi setiap larangan-Mu. Ya Allah Gusti, kuatkanlah hamba dalam mengarungi kehidupan dunia, lepaskanlah hamba dari tipu dayanya, jauhkanlah hamba dari kejahatannya, tetapkanlah hamba dalam pengabdiannya. Ya Allah Gusti, hamba bersimpuh dihadapan-Mu seraya melihat-Mu, hamba mengharap belas kasih-Mu, curahan rahmat-Mu serta rido-Mu yang meliputi perjalanan hidupku. Ya Allah Gusti, sinarilah hamba dengan cahaya-Mu yang tidak menyilaukan, kerinduan hamba tuk jumpa dengan-Mu, kerinduan hamba melihat wujud-Mu, kerinduan hamba pada Nur Nabi-Mu.

35.Jangan berambisi untuk memiliki dan menguasai sesuatu apapun, raih dan cintai sesuatu itu atas dasar memelihara amanat dan anugerah Allah. Oleh karenanya, jika ingin dicintai Allah maka jangan berpaling kepada selain diri-Nya dan jika ingin dicintai makhluk maka jangan mengharapkan yang ada padanya..!!!5 jam yang lalu

36. Serahkan segala urusanmu pada Allah, karena semua urusan muaranya hanya pada kehendak dan kekuasaan Allah. Usaha dan ikhtiar bagi seorang hamba itupun atas dasar kehendak-Nya dan semua kejadian yang berlaku di alam semesta juga atas dasar kekuasaan-Nya.

37.Hidup itu ujian yang harus disikapi dengan kesabaran dan meningkatkan kewaspadaan disetiap persoalan. Hidup wajib disyukuri, karena telah diberi kesempatan menikmati fasilitas-Nya. Hidup adalah perjalanan takdir yang harus diterima dengan penuh kesadaran dan senang menerima apapun yang telah ditetapkan Allah. Shalawat dan Rahmat Allah turun pada setiap orang yang mendapat petunjuk memahami serta mengamalkannya.!!!

38. Jangan sombong dengan status yang ada pada dirimu, karena itu adalah anugerah dari Allah yang setiap saat dapat diambil oleh-Nya tanpa sepengetahuanmu. Syukurilah dengan apa yang ada padamu niscaya Allah akan melimpahkan berkah dalam hidupmu.

39.Hidup ialah perjuangan tuk meraih sesuatu, jangan berhenti sebelum mendapat yang diraih, karena putus asa adalah satu kekalahan dalam perjuangan hidup. Taklukan cita yang dicinta dengan sikap waspada agar tak terkena mara bahaya. Percayalah, bahwa Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya yang mempunyai semangat juang hidup dengan sikap Laa Hawla Walaa Quwwata illaa Billaah. Dari-Nya, Dengan-Nya, Untuk-Nya dan Milik-Nya.

40.Sumber penyakit hati ialah SU-UZHON (buruk sangka). Su-uzhon itu virus penyakit hati yang paling berbahaya, karena dengan diawali su-uzhon akan timbul kebencian dan dapat berlanjut pada pembicaraan yang membawa fitnah serta mengakibatkan perpecahan antar teman dan saudara bahkan keluarga terdekat. Waspadalah dengan virus su-uzhon yang menyelinap dalam hatimu, jangan kasih kesempatan su-uzhon berkembang dalam dirimu.!

liqoa.blogspot.com/2009/05/16-30.html





>Change Or Die

12 01 2011

>

Oleh: A Ilyas Ismail
Di alam ini, segala hal berubah, dan tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Pada masa kita sekarang, perubahan berjalan sangat cepat, bahkan dahsyat dan dramatik. Kita semua, tak bisa tidak, berjalan bersama atau seiring dengan perubahan itu. Tak berlebihan bila Alan Deutschman pernah menulis buku, untuk mengingatkan kita semua, dengan judul agak ekstrim, “Change or Die” (Berubah atau Mati).

Perubahan pada hakekatnya adalah ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlangsung konstan (ajek), tidak pernah berubah, serta tidak bisa dilawan, sebagai bukti dari wujud dan kuasa-Nya (QS. Ali Imran [3]: 190-191). Namun, perubahan yang dikehendaki, yaitu perubahan menuju kemajuan, tidak datang dari langit (given) atau datang secara cuma-cuma (taken for granted). Hal ini, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah diri mereka sendiri (QS. Al-Ra`d [13]: 11).

Untuk mencapai kemajuan, setiap orang harus merencanakan perubahan, dan perubahan itu harus datang dan dimulai dari diri sendiri. Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam. Itu sebabnya, kepada orang yang bertanya soal hijrah dan jihad, Nabi berpesan. Kata beliau, “Ibda’ bi nafsik, faghzuha” (mulailah dari dirimu sendiri, lalu berperanglah!). (HR. al-Thayalisi dari Abdullah Ibn `Umar).


Seperti diharapkan Nabi SAW dalam riwayat di atas, perubahan dari dalam dan dari diri sendiri merupakan pangkal segala perubahan, dan sekaligus merupakan kepemimpinan dalam arti yang sebenarnya. Hakekat kepemimpinan adalah kepemimpinan atas diri sendiri. Dikatakan demikian, karena seorang tak mungkin memimpin dan mengubah orang lain, bila ia tak sanggup memimpin dan mengubah dirinya sendiri.

Perubahan dalam diri manusia dimulai dari perubahan cara pandang atau perubahan paradigma pikir (mindset). Manusia tak mungkin mengubah hidupnya, bilamana ia tak mampu mengubah paradigma pikirnya. Karena itu, kita disuruh mengubah pikiran kita agar kita dapat mengubah hidup kita (Change Our Thinking Change Our Life).

Selanjutnya, perubahan paradigma harus disertai dengan perubahan dalam penguasaan ilmu dan keterampilan. Perubahan yang satu ini memerlukan pembelajaran dan pembiasaan (learning habits) yang perlu terus diasah.

Akhirnya, perubahan diri itu, menurut Imam al-Ghazali, membutuhkan tindakan nyata (al-Af`al). Ilmu hanya menjadi kekuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor pamungkas, dan menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah cita-cita (harapan) menjadi realita (kenyataan). Wallahu a`lam!

Dimuat di Republika edisi 7 Januari 2011





>Manusia Beo

11 01 2011

>

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah binti Abu Bakar r.a. dikatakan bahwa Rasulullah saw senantiasa mengingat Allah SWT (zikir) dalam setiap saat. Pada hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kalau aku membaca subhanallah, alhamdulillah, la ilaaha illallah, dan Allahu Akbar, bacaan itu lebih aku gemari daripada mendapatkan kekayaan sebanyak apa yang berada di bawah sinar matahari” (HR Muslim).

Kita mukminin dan mukminat yang rakyat biasa, yang pedagang, yang pengusaha, yang penguasa, yang ulama, yang pegawai negeri sipil/swasta, yang tentara/ polisi, setiap hari mengucapkan zikir subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, la ilaaha illallah. Tetapi mengapa kita tetap jauh dari Allah SWT? Maling sandal, maling ayam, maling kambing, maling aspal, maling hutan, jalan terus. Suap, pungli, jalan terus. Korupsi, kolusi, nepotisme, jalan terus, dan seterusnya.

Syahdan ada seekor burung beo yang sangat fasih mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, dan la ilaaha illallah. Setiap saat diulang-ulangnya dengan sangat jernih kalimat-kalimat zikir itu.

Suatu hari burung beo itu disambar kucing. Terdengar nyaring suaranya yang sedang sekarat, “keak, keak, keak…!” Kemudian mati. Pemiliknya, seorang kiai sepuh pengasuh pondok pesantren, terlihat amat sedih. Burung itu mengerang kesakitan dipangkuan Pemilik Pondok sampai terdiam tidak bernyawa.

Dengan rasa sedih pemilik pondok mengubur Burung Beo yg telah mati, Dia sangat kehilangan burung Beo yg selalu menjadi penghibur hatinya selepas lelah mengajar. Semejak kematian burung Beo, Pemilik pondok selalu diam dan termenung hingga menimbulkan tandatanya pada para santrinya.

Para santri datang menanyakan kenapa Guru begitu sedih sekali setelah kematian burung Beo? Apakah Guru terlalu sayang pada burung Beo hingga menyebabkan guru bersedih?

Pak kiai bertanya, apakah kalian tahu mengapa aku merasa begitu sedih dan menangis? Aku terbayang bahwa sebagian dari kita akan mati seperti matinya burung beo itu. Burung itu setiap saat mengucapkan kalimah zikir, tetapi ketika mati ucapan yang keluar adalah keak, keak, keak…!

Aku menangis membayangkan bahwa sebagian dari kita setiap hari berzikir mengucapkan subhaanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, la ilaaha illallah, tetapi ketika sakaratul maut tiba kita tidak membawa zikir tersebut. Alangkah amat menyedihkan! Alangkah celakanya! Lalu pak kiai sepuh itu melanjutkan, kita tidak berzikir seperti berzikirnya anak gembala kambing dalam kisah Umar bin Khatab yang amat terkenal itu.

Ketika dilihatnya seorang anak gembala miskin dengan pakaian compang camping sedang menggembalakan kambing yang amat banyak milik majikannya, Umar bin Khatab bertanya, Nak, bolehkah kubeli kambing yang sedang kau gembalakan itu satu ekor? Si anak gembala menjawab, Kambing ini bukan milikku, tetapi milik majikanku. Aku tidak boleh menjualnya. Umar bin Khatab membujuk, Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya? Dijawab, Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya. Umar bin Khatab terus membujuk, Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Lagi pula aku mau membeli kambing yang kecil saja supaya lebih tidak ketahuan. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk beli baju atau roti. Anak gembala itu tidak tergiur. Dia tetap tidak mau menjual kambing yang bukan miliknya.

Umar bin Khatab dengan nada yang ditinggikan (marah) berkata, Mengapa kamu ini, bodoh benar! Kambing itu amat banyak. Majikan kamu tidak tahu jumlah-nya. Kalau kamu jual satu, majikan kamu tidak akan tahu. Di sini juga tidak ada orang lain. Hanya ada aku dengan kamu. Tidak ada orang lain yang tahu. Lihat di sekitar kamu, apa ada yang lihat? Nih uangnya, bawa sini kambingnya! Kamu takut sama siapa? Anak gembala miskin yang pakaiannya compang-camping itu, dengan tetap tegar menjawab, Takut Allah. Allah menyaksikan. Allah Mahatahu!

Mendengar jawaban anak gembala itu, Umar bin Khatab, lelaki tinggi besar, gagah perkasa, jago perang, jago berkelahi, amir al mu’minin (pemimpin kaum beriman), menangis. Lemah lunglai seluruh sendi tubuhnya.

Anak gembala itu walaupun miskin, menghadirkan Allah dalam setiap denyut dan detak kehidupannya. Walaupun miskin dia tidak menjual imannya dengan uang atau harta. Walaupun secara lisan mungkin dia tidak mengucapkan kalimah zikir, tetapi dari tindakannya dia berzikir. Zikir yang sesungguhnya, Selalu mengingat Allah! Selalu menghadirkan Allah! Sedangkan kita mukminin dan mukminat yang rakyat biasa, yang pedagang, yang pengusaha, yang penguasa, yang ulama, yang pegawai negeri sipil/swasta, yang tentara/polisi, sebagian terbanyak dari kita bukan sedang berzikir tetapi sedang membeo. Astaghfirullah…, kita cuma beo!***
by. f4ni.wordpress.com





>Hijab (Tirai Penutup)

9 01 2011

>Kenapa Tuhan Yang Maha Kuasa memberi keterbatasan pada manusia sehingga manusia tidak mampu langsung “melihat” Nya? Itu disebabkan karena kebanyakan mata manusia tidak mampu melihat betapa luar biasa “CAHAYA” yang terpancar pada Dzat-Nya. Hanya manusia yang berusaha keras ingin melihat, dan sudah memiliki PERSIAPAN KHUSUS yang mampu untuk melihat CAHAYA MAHA CAHAYA. Kecuali bila Anda diijinkan Tuhan melalui jalan pintas.

Dia akhirnya tersungkur, pingsan, tidak sadarkan diri, ekstase saat ingin melihat Dzat-nya yang sangat terang. Matanya nyaris buta bila dia tidak pingsan. Bahkan bisa-bisa langsung lenyap tanpa bekas. Menjadi arang bahkan debu pun saya rasa masih luar biasa.

Dialah Nabi Musa atau Moses –begitu orang Barat menyebut – saat menantang agar Tuhan menampakkan diri dalam wujud fisik. Bayangkan saja bagaimana bila kita melihat matahari dalam jarak ratusan kilometer sebagaimana jarak Musa melihat Tuhan? Pasti Musa akan terbakar habis, bis! Itu hanya satu matahari, bagaimana bila …dua…tiga…empat… semilyar sinar matahari yang kekuatan membakarnya dijadikan satu?

Sejatinya, Tuhan adalah Dzat yang Bukan Maha Pembakar. Dia adalah Maha Lembut dan Welas Asih, sehingga akhirnya dia menyapa Musa dengan bahasa kasih sayang. Tuhan memberikan cara untuk melihat-Nya: Hai Musa, Kau harus ekstase!. Musa hanya diminta untuk tidak menyadarkan “diri” yang masih diliputi oleh tirai kemanusiaan. Diri yang belum siap untuk bertatap “MUKA” dengan-NYA.

Bagaimana sesungguhya kehebatan CAHAYA TUHAN? Dalam Kitab Suci disebutkan dengan bahasa analogi, bahasa perumpamaan, agar manusia berpikir. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan CAHAYA-NYA adalah ibarat misykat. Dalam misykat itu ada PELITA. PELITA itu ada dalam KACA. KACA itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada API yang menyentuhnya. CAHAYA DI ATAS CAHAYA! ALLAH menuntun kepada CAHAYA-NYA, siapa saja yang Ia kehendaki. Dan ALLAH membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh ALLAH mengetahui segala sesuatu. (QS AN NUR, 35).

Kenapa Tuhan membuat perumpamaan dengan MISYKAT, KACA, PELITA, MINYAK DAN POHON? Jawaban ini tercantum dalam Hadits: Allah mempunyai tujuh puluh hijab (Tirai Penutup) CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya.

Masalah utama dalam untuk mengenali Dzat Tuhan yang tidak terbatas adalah ilmu dan pengetahuan dan akal kita sebagai manusia yang terbatas. Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.

Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas? Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.

Dari sisi lain, wujud tanpa batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah TUHAN SEMESTA ALAM. Sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas. Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan?

Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin, sedangkan sifat- sifat wajib al-Wujud berbeda dengan sifat yang lainnya. Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat-Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh: Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”. Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Tuhan.

Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang DZAT YANG TANPA BATAS melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil. Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal.

Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat. Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia?

Ketika kita mengarahkan pikiran ke arah realitas DZAT TUHAN, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup. Itulan sebabnya, DZAT TUHAN dalam kitab suci hanya dipaparkan dalam bahasa perumpamaan saja. Namun perumpamaan dalam kitab suci, kita yakin bukan asal perumpamaan.

Perumpamaan ini hanya bisa bisa diinterpretasi dengan akal yang panjang dan hati nurani yang bersih, bening, tenang dan ikhlas. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana jalan atau cara untuk sampai pada pintu Tuhan, selanjutnya Bertemu dan Mampu untuk “melihat” Dzat-Nya?

Pada artikel saya terdahulu telah disebutkan bahwa jalan untuk menuju Tuhan adalah perjalanan untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit, kotoran, nafsu-nafsu kemanusiaan sehingga kita akhirnya hati kita benar-benar bersih, berkilau dan akhirnya memiliki MATA HATI YANG BISA MELIHAT DZAT-NYA. Nurani yang terkoneksi secara otomatis sehingga “KEMANA KAU MENGHADAP DISITULAH WAJAH ALLAH.”

Sekarang, marilah kita menganalisa secara lebih detail apa saja HIJAB/ PENGHALANG/ TABIR PENUTUP/ DINDING yang harus dilewati oleh para pejalan sunyi yang dengan gigih ingin bertemu, bertamu, dan melihat WAJAHNYA YANG MAHA INDAH….

70 RIBU HIJAB

Dalam Hadits disebutkan sebagai berikut: Allah mempunyai tujuh puluh (riwayat lain menyebut tujuh ribu, tujuh puluh ribu) hijab CAHAYA dan KEGELAPAN. Seandainya DIA membukanya, niscaya CAHAYA WAJAHNYA akan membakar siapa saja yang melihatnya. Berarti manusia dari awalnya berstatus MAHJUB: dalam keadaan tertutupi dinding/hijab dari Tuhan. Manusia tidak mampu melihat TAJALLI pada Dzat-Nya (Tajalli: Menyatakan diri setelah hijab-Nya terbuka/tersingkap.

Dari TUJUP PULUH HIJAB tadi, menurut Al Ghazali bisa dikategorikan menjadi TIGA.

  1. PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. 
  2. KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN. 
  3. KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA.

PERTAMA: YANG TERHIJAB OLEH KEGELAPAN MURNI. 

  1. Tidak yakin ADA Tuhan (ATEIS). 
  2. Yakin penyebab segala sesuatu BERASAL DARI MATERI, DAN DARI ALAM. 
  3. Sibuk dengan DIRI SENDIRI, tidak sempat mempertanyakan penyebab terwujudnya alam semesta. Terlena dengan HAWA NAFSU, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Hawa Nafsu adalah sesembahan yang paling dibenci oleh Allah SWT.” Ketiga hijab ini memiliki banyak varian lagi.

KEDUA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA YANG BERCAMPUR DENGAN KEGELAPAN.

  1. Kegelapan berasal dari INDERA, Kegelapan berasal dari DAYA KHAYAL, Kegelapan berasal dari RASIO/ AKAL YANG SALAH.
  2. Menyembah BERHALA hingga percaya TUHAN BERJUMLAH DUA ATAU BANYAK. Termasuk percaya alam semesta itu Tuhan Yang Maha Indah. Percaya bahwa Tuhan bisa dilihat (mahsus). Mereka yang terhijab oleh CAHAYA KETINGGIAN, KECEMERLANGAN, KEKUASAAN, yang kesemuanya memang CAHAYA-CAHAYA ALLAH SWT (seperti menyembah bintang). Percaya bahwa Tuhan itu adalah Matahari, Tuhan adalah semua hal yang bercahaya> percaya bahwa Tuhan adalah CAHAYA MUTLAK YANG MENGHIMPUN SEMUA CAHAYA. Masih banyak lagi variasi hijab tingkat ini.
  3. Menganggap Tuhan bertubuh, yakin bahwa keberadaan Tuhan BISA DITUNJUKKAN di arah tertentu misalnya DI ATAS, termasuk mereka yang percaya bahwa Tuhan berada di luar alam dunia atau di dalam dunia. Sesungguhnya mereka ini tidak mengetahui bahwa persyaratan dasar sesuatu yang dapat dicerna akal adalah kemungkinannya untuk melampaui segenap arah dan ruang.
  4. Mereka yang menyimpulkan dengan akal namun salah KESIMPULAN. Menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki sifat mendengar, melihat, mengetahui, menghendaki sesuai dan menyetarakan dengan sifat-sifat manusiawi. Sifat Tuhan adalah sama seperti sifat manusia. Masing masing memiliki variasi hijab.

KETIGA, YANG TERHIJAB OLEH CAHAYA MURNI SEMATA-MATA. 
Kategori ketiga ini berjumlah sangat banyak, namun untuk mempermudah bisa dipilah sbb:

  1. Mengetahui benar-benar sifat-sifat Allah SWT tidak sama dengan manusia.
  2. Percaya penggerak semua benda planet ini adalah malaikat yang berjumlah banyak. Percaya bahwa Ar Rabb (Tuhan Maha Pengatur dan Pemelihara) adalah Penggerak seluruh benda. Padahal, Ia wajin DINAFIKAN DARI SEGALA BENTUK KEMAJEMUKAN.
  3. Percaya bahwa Perbuatan MENGGERAKKAN BENDA-BENDA SECARA LANGSUNG sepantasnya merupakan bentuk PELAYANAN KEPADA TUHAN. Percaya bahwa TUHAN MAHA PENGATUR ini adalah memiliki penggerak utama lagi dengan cara mengeluarkan perintah bukan menangani secara langsung. Ringkasnya, mereka yang masih terliputi HIJAB TINGKAT TINGGI ini terhijab oleh CAHAYA-CAHAYA MURNI.
  4. Ini adalah hijab bagi ORANG-ORANG YANG TELAH SAMPAI DI AKHIR PERJALANAN (Al Washilun). Mereka percaya AL MUTHA (yang ditaati) ini, bagaimanapun juga masih memiliki sifat yang berlawanan dengan KEESAANNYA YANG MURNI DAN KESEMPURNAAN YANG MUTLAK. Padahal, YANG DITAATI/YANG DIPATUHI yaitu sesuatu yang menjadi penghubung antara Tuhan dengan alam semesta ini, dalam hubungannya dengan AL WUJUD AL HAQQ adalah seperti matahari dengan cahaya murni atau bara api dalam hubungannya dengan substansi api.

Ini juga hijab bagi mereka yang telah sampai di akhir perjalanan. Yaitu pemahaman bahwa TUHAN ADALAH YANG MAHA TERSUCIKAN DARI PARADIGMA KEMANUSIAAN, baik itu oleh mata maupun oleh mata hati. Mereka mengalami keadaan yang menyebabkan TERBAKARNYA SEGALA YANG PERNAH DICERAP OLEH PENGELIHATAN, lalu ia sendiri ikut larut kendati masih terus menatap KEINDAHAN dan KESUCIAN disamping menatap dirinya sendiri dalam KEINDAHAN yang diraihnya dengan telah mencapai HADRAT ILAHIYAH.

Selain itu, masih ada golongan kecil yang sebenarnya sudah sampai di akhir perjalanan spiritual namun ternyatan masih terhijab, yaitu mereka yang berada pada tingkat KHAWASUL KHAWAS (yang spesial di antara yang spesial). Mereka telah TERBAKAR oleh cahaya WAJAH-NYA dan telah TENGGELAM dalam gelombang KEAGUNGAN. Mereka tidak lagi memiliki perhatian pada diri sendiri, karena DIRI TELAH FANA! Tidak ada satupun yang ada kecuali YANG MAHA SATU DALAM KETUNGGALAN: Ini sesuai dengan Firman-Nya: SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA.

Yang perlu diketahui, ada pula yang tidak menjalani pendakian atau MIKRAJ dengan cara setahap demi setahap untuk menyingkirkan hijab atau penghalang sebagaimana yang harus dilakoni oleh Nabi Ibrahim Khalilullah A.S. (Sahabat Tuhan). Ada yang cepat telah meraih MAKRIFAT yaitu mampu MENSUCIKAN TUHAN DENGAN CARA YANG BENAR. Mereka tiba-tiba bisa diserbu oleh TAJALLI ILAHI (Ketersingkapan Hijab di antara Tuhan dan manusia) sehingga cahaya-cahaya wajah-Nya membakar segala yang bisa dicerap oleh pengelihatan mata indera maupun mata hati sebagaimana jalan yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW, sang Habibullah (Kekasih Tuhan).

by. wongalus.wordpress.com





>Sabar, Syukur, Sholat

8 01 2011

>

♣¤══¤۩۞۩ஜ ¤ SYUKUR ¤ ஜ۩۞۩¤══¤♣

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Bila kita diberi sesuatu oleh seseorang suatu barang, maka kita berterima kasih kepadanya seraya berdo’a kebaikan atas orang tersebut. Sebanyak kebaikan yang kita terima dari orang lain sebanyak itu pula kita berterima kasih atas pemberian tersebut. Namun berapa banyak kebaikan yang Allah berikan atas kita? dapatkan kita menghitungnya barang sedetik saja pemberian dari Allah. Lalu berapa banyak Syukur yang harus kita lakukan tiap detiknya karena banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita? bisakah kita bersyukur sebanyak nikmat yang kita terima dari Allah?

Menurut Al-Habib Quraish Al-Athos, Syukur itu harus memiliki 3 komponen agar dapat disebut sebagai Syukur, yaitu hati, lisan dan badan. 3 komponen ini haruslah ada dalam syukur tersebut, dan bila ada satu saja yang tidak ikut dalam syukur maka belum dapat disebut sebagai syukur. Lalu bila begitu apakah wujud syukur itu? menurut beliau salah satu wujud syukur adalah Sholat dan Haji karena didalam Sholat dan Haji itulah ke-3 komponen tersebut dapat terpenuhi.

Lalu kemudian terfikir akan kita tentang ayat yang menyatakan bahwa “Sedikit diantara umat-Ku yang bersykur” padahal dalam 1 waktu sholat berapa orang yang sholat? dalam 1 musim haji berapa banyak yang berhaji? lalu kenapa Allah berfirman bahwa sedikit hambanya yang bersyukur? lalu bagaimana pula sahabat Umar ibn Khotob berdo’a agar dimasukkan kepada golongan yang sedikit tersebut? Lalu apakah kemudian kita juga termasuk golongan yang sedikit tersebut? ataukah ayat tersebut salah?

Mungkin inilah makna dari ucapan Habib, bila syukur itu memiliki 3 komponen, apakah sholat kita sudah menjadi wujud sykur kita? apakah hati kita hadir dalam sholat kita? baik saya sendiri masih merasa belum mampu menhadirkan hati secara mutlak didalam sholat, sehingga kemudian sholat yang saya kerjakan belum bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bila saya mampu secara mutlak maka insyaAllah tidak bakalan saya melakukan barang 1 saja perbuatan keji dan mungkar.

Menurut Habib, sholat kita itu masih seperti orang yang mabok, yang antara hati dan kenyataannya tidak dapat sinkron sehingga yang terjadi adalah badan dan lisannya sholat tapi hatinya bertamasya entah sampai dimana. banyak yang berhaji tapi hatinya terkait dengan tanah airnya, hartanya, keluarganya, hadiah-hadiah yang harus dibeli, oleh-oleh, dll sehingga pantaslah Allah berfirman demikian, karena memang sedikit sekali dari kita yang mampu menghadirkan hatinya dalam setiap syukur yang kita lakukan.

Mungkin sekian dulu dari saya, maaf jika ada salah dan khilaf

♣¤══¤۩۞۩ஜ ¤ Pintu Kesadaran ¤ ஜ۩۞۩¤══¤♣

►¤ TAKJUB ¤
Pepatah jawa bilang, Ojo nggumunan ~ jangan mudah takjub. Ini tentu ditujukan ketika melihat kemampuan Makhluk, baik manusia ataupun Jin dan Khodam.
Karena takjub adalah termasuk salah satu kunci dari pintu kesadaran kita. Begitu kita takjub, maka pintu kesadaran terbuka. Dan dg mudah dia akan mengendalikan kita.
Takjublah kpd Allah, dan ucapkan MASYA’ ALLAH dan SUBHANALLAH, bila melihat keajaiban..

Para pecinta seni mistik dan benda-benda ghaib. Semacam akik, permata, pusaka, keris, dll. Sangat rentan terhadap bahaya utk dikuasai khodam dan jin penunggu benda mistik tsb. Sekilas si manusia yg jadi tuannya, namun lambat laun dia akan dibelokkan dari aqidah dan jauh dari agama…
Maka waspadalah selalu…

Selain Takjub. Jurus untuk memanipulasi pikiran dan mengendalikan orang adalah menimbulkan Rasa Bersalah. Orang diserang dg logika-logika yg menyudutkan dan menjatuhkan mental lawan melalui rasa bersalahnya.
Wahai sahabat, ketahuilah. Dalam suatu pertempuran, tidak ada salah & benar. Jadi jangan takut..
Maju terus pantang mundur,
walau… engkau dikeroyok.

►Setelah mencapai Pencerahan, kita dapat mengerjakan segalanya dengan cepat dan tepat. Jika batin kita masih gelap, kita jarang sekali mengerjakan sesuatu dengan benar. Maka kegelapan batin adalah dosa yang terbesar, sebaliknya Pencerahan batin adalah pahala yang terbesar. -Guru Ching Hai.

►Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman.
Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan. (SHORINJI KEMPO)
Berdakwah itu sesuai dg bahasa yg dipahami audiens. Adakalanya sesejuk embun pagi. Adakalanya menyengat bagai matahari siang. Itulah dakwah yg hidup & dinamis.

►Belajar tasawuf itu tidaklah menjadikan kita lemah. Justru membuat kita dapat bersikap dg tepat. Kasih sayang & kelembutan hati itu tdk sama dg kelemahan.
Karena sifat Allah itu bukan hanya Pengasih dan penyayang saja. Ada 99 asmaul husna. …Termasuk juga Maha Kuat dan Perkasa.

►Nabi Saw bersabda bahwa,“Seutama-utama amal adalah yang disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala. Amal yang banyak tanpa disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala adalah tidak berguna, dan amal yang sedikit jika disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala adalah bermanfaat.”

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS Ali Imran [3] : 31)

►Selamat pagi sahabat NAQS..
Sedikit ilmu namun bermanfaat, itu lebih baik dari segudang ilmu namun tdk pernah di pake.
Dzikir di NAQS Methode cuma satu, namun itu adalah raja dirajanya Dzikir. Fadzkuruni adzkurkum.. Dzikirmu disambut oleh DzikirNya.
Perbanyaklah syukur dg mengamalkan apa yg telah kamu peroleh utk menyelesaikan masalahmu sendiri, keluarga, & sahabatmu..

►Untuk mendoakan orang lain, seperti : merubah perilakunya agar menjadi baik, atau doa utk kesuksesan dan keberhasilan anak, atau utk membuka hatinya agar terbuka terhadap Islam.
cukup kirimi dia Doa fatihah dg rutin tiap selesai sholat fard…lu.

Demikian juga penyaluran energi NAQS utk penyembuhan. Baca aja s. Fatihah di saat menyalurkan energi dan akhiri dg doa, “ILAHI ANTA MAQSUDI WA RIDLOKA MATHLUBI.”

Demikian juga utk soal ekonomi, baca S. Alfatihah sehabis sholat fardlu. Lalu mintalah apa yg kau inginkan.

Insya Allah, Gusti Allah ngijabahi…

►Di saat berdoa, itu sama dg kita menanam sebuah benih. Maka rawatlah, siramilah, dan pupuklah. Agar benih itu tumbuh, dan berbuah. Bukankah Allah sudah mengajari kita lewat peristiwa-peristiwa di alam semesta. Bukankah seorang bayi umumnya bth 9 bulan di kandung ibu, baru bisa lahir.
Demikian juga doa. Bukankah Allah telah berjanji, “UD’UNI ASTAJIB LAKUM, Berdoalah maka akan Aku kabulkan.” janji Allah pasti ditepati.

Oleh karena itu berdoalah dg penuh iman dan keyakinan, artinya tetap teguh keyakinanmu walau belum terlihat hasil doamu.. Tetap buka hati dan fikiran, karena jawaban Doa kita terkadang datang dalam bentuk lain dan dari arah yg tiada kita sangka. Oleh karena itu langkah selanjutnya setelah berdoa adalah : Sabar, syukur, eling dan waspada..

►”Barangsiapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikan ia kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara, dan menang tanpa bala.” (Nashaihul ‘ibad – syekh Nawawi)
►Sugih tanpa bondo atau kaya tanpa harta maksudnya, walaupun dia tdk kaya harta namun dia dapat merasakan ketenangan & kebahagiaan hidup. Hal ini berarti secara ekonomi dia senantiasa dicukupi Allah, walaupun tdk sampai berlebih.
►Yang pertama adalah Kaya Jiwa, lalu Kaya Ilmu, kemudian Kaya Saudara & Harta.
Itu urutannya kang babeena azam. Kecuali anda dapat harta warisan, langsung kaya mendadak. Ha..ha..ha..

►”Barangsiapa berniat untuk memperoleh akhirat, maka Allah menghimpunkan potensinya, membuatnya kaya jiwa dan duniapun datang padanya dengan berlimpah. ‎Tetapi, barangsiapa berniat memperoleh dunia, maka Allah mencerai beraikan urusannya, membuat kemelaratan di depan matanya dan tidak memperoleh dunia, kecuali apa yg telah ditentukan untuknya.” (HR. Ibnu Majah)
diambil dari kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi.

♣¤══¤۩۞۩ஜ ¤ SABAR & SHOLAT ¤ ஜ۩۞۩¤══¤♣
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat,sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.s. al-Baqarah [2]: 153).
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 45-46)

►¤SABAR¤
Adalah suatu kondisi medan energi pribadi yang bergetar dengan kokoh, stabil, & dinamis. Sehingga intrusi maupun interferensi gelombang energi yang datang dari luar sedahsyat apapun terjangan gelombang itu tidak dapat mengusik kestabilan getarannya. Dia tetap kokoh tegak berdiri dan tetap berputar mengorbit/thowaf pada inti Cahaya Kehidupan.

►Sakinah
adalah sebuah mekanisme auto balance yang menyertai kondisi sabar. Yaitu sebuah mekanisme yg akan memulihkan kondisi ketenangan dinamis sebuah medan energi pribadi, yg diakibatkan oleh guncangan yg terjadi akibat adanya sebuah benturan dari terjangan badai energi.

►Sholat adalah puncak dari semua pelatihan di dalam NAQS Methode. Syari’at, tharekat, hakekat, & makrifat semuanya terkumpul dalam sholat.
Di saat anda sholat, diri anda sedang beresonansi dg spektrum energi dari 7 lapis langit dan 7 lapis bumi.
Tegakkanlah sholat dg sempurna. Itulah pintu meraih kesuksesan abadi dunia akherat.

►Inti sari dari pelajaran syariat adalah pelajaran mengenai kedisplinan dalam menempuh jalan kebaikan.

Dan intisari tharekat adalah formulasi khusus dari pelajaran syareat agar tujuan dari pelaksananaan syariat itu bs tercapai dg efektif dan efisien.
Intisari hakekat adalah tumbuhnya kesadaran diri akan jati diri yg sejati dan hubungannya dg alam semesta dan Tuhan.

Dan intisari Makrifat adalah tumbuhnya pohon kebijaksanaan & kesadaran ilahiah (kecerdasan spiritual) di dalam diri.

Hasil dari kesemuanya itu akan terlihat pada meningkatnya kualitas sholatnya, yaitu tercapainya kekhusyu’an di dalam sholat dan ke ikhlasan dalam beribadah.
Sholat yg macam inilah yg disebut dg Assholatu mikrojul mukminin (sholat adalah pengalaman mikrajnya orang yg beriman). Serta sholat macam inilah yg mempunyai bekas yg mendalam di dalam kepribadian, sehingga terjadilah behaviour transformation (perubahan perilaku) yg baik, yg menjauhkannya dari perbuatan keji dan munkar.

►Sahabat Utsman r.a. Berkata :
ada sembilan kemuliaan utk orang yg menegakkan sholat.
1. Dicintai Allah swt.
2. Sehat badannya.
3. Dijaga oleh malaikat.
4. Turun berkah pada rumah tangganya.
5. Dari wajahnya memancar aura yg cemerlang.
6. Allah akan melembutkan hatinya.
7. Bisa melewati shirathal mustaqiem secepat kilat.
8. Selamat dari apa neraka.
9. Allah akan menempatkannya beserta orang-orang yg tdk takut dan tdk sedih (wali-wali Allah).





>Hakikat Surat Al Fatihah

8 01 2011

>

PENGANTAR

Al-Fatihah dinamakan juga Ummul kitab yang berarti induk kitab atau pokok kitab, karena isinya sangat luas mencakup seluruh isi Al Qur’an[1,2]. Dinamakan juga tujuh yang diulang-ulang (Sab’ul Matsaani) karena selalu dibaca pada setiap rakaat shalat [6]. Tanpa al-Fatihah shalat Umat Islam dikatakan batal dan tidak sah, hal ini yang menunjukkan peran fundamental dari surat ini sebagai induk dari surat-surat selanjutnya. Pengertian-pengertian diatas merupakan pengertian umum yang diberikan kepada surat al-Fatihah karena berbagai keistimewaannya.

Namun, sejauh ini pengertian di atas diungkapkan dari segi peribadahan. Untuk tinjauan risalah ini, saya mencoba menelusurinya lebih rinci dengan menyertakan konsep fisis yang sudah umum diketahui. Pada beberapa bab sebelumnya, saya sempat menyinggung sedikit informasi tentang Basmalah sebagai awal mula penciptaan. Berikut ini saya uraikan lebih rinci dari konsep dan penafsiran yang mendasarinya sampai penafsiran surat pertama sampai ketujuh dalam konteks penciptaan makhluk dan perjalanan ruhani untuk kembali menemui Allah SWT.

Dengan menggunakan firman “kun fa yakuun” sebagai manifestasi kehendak Allah SWT, terungkap kaitan yang jelas antara firman “kun fa yakuun”(QS 36:82) dengan kalimat “Basmalah” (Qs 1:1) yang tercantum sebagai ayat pertama dari surat al-Fatihah.

Untuk menguraikan secara lebih terinci kaitan “kun fa yakuun” dengan “Basmalah” serta surat al-Fatihah secara utuh, maka kita akan meninjau surat al-Fatihah dalam konteks penciptaan semua makhluk yang merupakan Pembukaan Kitab karena merupakan surat yang pertama dalam susunan al-Qur’an.

Risalah yang Anda baca sebagai Blogebook ini merupakan bagian Bab 12 dari risalah mawas diri Kun Fa Yakuun : Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu yang terdiri dari 1432 halaman. Bagian ini telah mengalami revisi dengan revisi palibng akhir tanggal 1-9-2009.

Dari Tauhid menjadi Basmalah Sebagai Pokok Tujuh Ayat Al-Fatihah

Kalimat “Basmalah” menurut penafsiran Ibnu Arabi [141] dalam kitab “Tafsirul Qur’anil Karim” terdiri dari 18 huruf yang terucapkan. Sedangkan yang tertera pada tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat diuraikan menjadi terpisah huruf demi huruf, maka jumlah huruf yang terpisah berjumlah 22.

Kendati demikian, menurut hemat saya sebenarnya terdapat huruf Alif tambahan yang dinyatakan secara simbolis yang menyertai huruf Ba dan terartikulasikan dengan Kekuasaan Al-Rahmaan ketika manusia mengatakannya dengan lidah atau ketika berbicara yaitu lafaz “Alif” dengan nilai 111. Sehingga total terdapat empat huruf Alif tersembunyi sebelum huruf Ba. Oleh karenanya kalimat Basmalah dapat menjadi 23 huruf dimana Ism Dzatiyah Allah teraktualisasikan sebagai 23 pasang kromosom manusia. Dan karena itu pula manusialah yang menjadi mediator Penampilan Tuhan. Dalam hal ini, sebagai suatu keyakinan Islam, maka Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, hamba dan KekasihNya menjadi KEY atau KUNCI supaya penampilan Tuhan pada manusia muncul menjadi Jamal dan Jalalnya [Kemahagungan dan KemahaindahanNya]. Dari sini pula maka tugas manusia Muhammad sebagai sosok Nabi dan Rasul terakhir dengan amanah untuk menyiarkan Islam sebagai tuntunan hidup mendapat tugas untuk memaknai, mengucapkan dan mengaktualkan secara nyata kalimat Basmalah menjadi Ummul Kitab al-Qur’an maupun menjadi pedoman hidup semua manusia.

Satu huruf Alif yang tertulis sebelum huruf Ba menyatakan aktualisasi dari Asma Elementer Allah yang pertama kali dikenali dengan akal pikiran dan dimaknai dengan Qolbu al-Mu’minun (QM). Sehingga huruf tersebut merupakan simbol penegakan ke-Esa-an Tuhan yang kelak menjadi dasar penguraian sistem ilmu pengetahuan yang terpahami manusia sampai akhirnya simbol Penegak itu dibunyikan dengan hembusan nafas al-Rahmaan.

Tiga huruf Alif yang terartikulasikan dengan “berbicara” yang tersembunyi di dalam lafaz “Bism” dalam kalimat Basmalah merepresentasikan tiga alam besar yaitu,

1. Alif Pertama mewakili Alam Ilahi Yang Haq – menurut pengertian Dzat, sehingga alam ini tidak lain adalah zona Ahadiyyah yang gaib mutlak.
2. Alif kedua adalah Sifat dan Asma yang terkonfirmasikan pertama kali sebagai Asma ar-Rahmaan dan ar-Rahiiim namun alam ini belum tercitra alam inderawi. Dalam terminologi alam jamak tasawuf disebut zona Wahidiyah.
3. Alif ketiga adalah alam Af’al Allah yang maujud dan tercitra secara inderawi sebagai penampakkan Asma-asma dan Sifat-sifat Allah di alam inderawi atau zona Tajalli Shuhudi.

Menurut pakar tafsir al-Qurtubhi (w. 671 H), seperti dikutip M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah jilid 1[6], penulisan huruf alif pada Basmalah adalah karena pertimbangan praktis semata karena kalimat ini sering ditulis dan diucapkan, sehingga untuk mempersingkat tulisan ini ia ditulis tanpa alif. Menurut penafsiran Az-Zarkasyi (w. 794 H) dalam kitabnya “al-Burhan” disebutkannya bahwa penulisan al-Qur’an memang mengandung rahasia-rahasia tertentu. Dalam hal menanggalkan huruf Alif pada tulisan atau kata-kata di alam al-Qur’an, az-Zarkasyi mengemukakan kaidah yang intinya adalah bahwa penanggalan huruf alif itu mengisyaratkan bahwa ada sesuatu dalam rangkaian katanya yang tidak terjangkau oleh panca indera. Dalam Basmalah, kata Allah dan ar-Rahmān tidak dapat terjangkau dengan hakikatnya. Kedua kata itu tidak dapat digunakan kecuali untuk menunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Kata Bismi yang dirangkaikan dengan Allah dan ar-Rahmān bermaksud mengisyaratkan hal itu. Atas dasar itu pula maka penulisan kata bismi pada surah Iqra’ ditulis dengan menggunakan huruf alif, karena surah tersebut yang dikemukakan adalah yang disifati dengan Rabb/pemelihara, sedangkan pemeliharaan Tuhan sudah cukup jelas terlihat pada seluruh hamba-hamba-Nya. Rasyid Khalifah (w. 1990 M) berpendapat bahwa ditanggalkannya huruf alif pada Basmalah adalah agar jumlah huruf-huruf ayat ini menjadi 19 huruf, tidak duapuluh. Ini karena angka 19 mempunyai rahasia yang berkaitan dengan al-Qur’an.

Menurut hemat saya, dari berbagai penafsiran mengenai makna kerahasiaan huruf Alif dalam kata bismi dalam Basmalah diatas, sebenarnya terdapat suatu hal penting yang menunjukkan bahwa kalimat Basmalah sebagai suatu kalimah pembuka dalam mengawali semua penciptaan alam nyata mengandung pengertian bahwa penciptaan atau kehidupan itu sendiri selamanya adalah atas suatu anugerah Allah semata yang mempunyai 7 Asma dan Sifat Allah, al-Hayyu, al-Qayyum, al-Iradah, al-Qudrah, ar-Rahmaan dan ar-Rahiim.

Ke 7 Asma dan Sifat itu adalah maujud dari sifat Allah yang Maha Berilmu. Sifat ini secara langsung akhirnya menjadi dasar dari maujud (yaitu yang diwujudkan karena Kekuasaan Allah SWT) alam semesta dan isinya sebagai kontinuitas firman “Kun fa yakuun” (QS 36:82). Firman Kun Fa Yakuun dinyatakan setelah Ahadiyyah Dzat terkonfirmasikan dari kalimat tauhid sepuluh huruf sebagai Pertolongan Allah yaitu “Laa ilaaha illa Huwa” dalam penyaksian pra-eksistensi (QS 7:172) setelah “Bala…” dinyatakan oleh makhluk pertama yaitu Nur Muhammad. Karena itu, di alam lahiriah akan muncul sebagai kalimat tauhid “Laa ilaaha illaa Allah” (12 huruf Arab) yang dinyatakan dan akhirnya muncul firman-Nya sebagai surat al-Ikhlas (QS 112:1), “Qul huwallaahu Ahad (Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa”)” sebagai kalimah penciptaan pertama ketika Allah berkehendak mandiri untuk memperkenalkan eksistensi Diri-Nya. Dari penauhidan dengan al-Ikhlas [112]:1 ini maka Allah dikenali sebagai Alif Lām Lām Ha, 4 huruf Arab yang menyatakan eksistensi-Nya di Ahadiyyah Dzat sebagai Yang Maha Esa.

Setelah penauhidan oleh Diri-Nya Sendiri, maka Dia menetapkan as-Shamadiyyah-nya sebagai “Allaahush Shamad (Allah tempat meminta)” (QS 112:2). Sehingga segala sesuatunya aktual “jika dan hanya jika” semua makhluk bergantung hanya kepada-Nya sebagai harga mutlak ketidakterbatasan Diri-Nya sebagai Yang Maha Berkuasa.

Ketika ayat ke-1 sampai ke-4 terucapkan-Nya secara penuh sebagai surat ke-112 atau al-Ikhlas maka 2 pasang Sifat-Nya maujud menjadi 4 sifat yaitu al-Hayyu & al-Qayyum dan Al-Iradah & Al-Qudrah. Jadi, di wilayah Ahadiyyah dan Shamadiyyah Diri-Nya dikenali oleh Diri-Nya sendiri aku “Mengenal Allah dengan Allah” demikian sabda Nabi SAW selanjutnya menegaskan hakikat penauhidan yang mampu dilakukan oleh makhluk terbatas.

Dengan Allah sebagai Dzat yang secara langsung menyatakan keinginan dan kehendak-Nya dalam menampilkan Kekuasaan-Nya dalam penciptaan makhluk sebagai suatu proses, maka Allah menganugerahkan pengetahuan-Nya kepada manusia secara khusus, dan semua makhluk secara umum, dalam batasan potensinya masing-masing untuk mengenal-Nya, dan bertasbih memuja dan memuji-Nya yang dinyatakan dalam QS 59:1 dan QS 57:1-7.
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi telah bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Bijaksana. Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (QS 57:1-7)

Dari Sebuah Titik Menjadi Lingkaran

Penciptaan setelah cetusan “kun fa yakuun“ dapat digambarkan sebagai pecahnya simetri kekekalan Allah untuk memperkenalkan diri-Nya dengan cara menciptakan makhluk yang menjadi citra kesempurnaan-Nya. Maujud dari al-Iradah dan al-Qudrah, hanya dipenuhi oleh bentuk titik yang berproses sebagai awal kemudian menjadi lingkaran.

Bentuk demikianpun sejatinya dimaksudkan Allah untuk manusia yang mampu menggali dan memahami ilmu pengetahuan-Nya. Maksud saya, jangan beranggapan bahwa bentuk demikianlah yang hanya dimiliki oleh Allah SWT sebagai Maha Pencipta. Tidak, bukan itu maksudnya, tetapi bentuk titik yang menjadi lingkaran adalah bentuk atau format pengetahuan mendasar yang dipilihkan oleh-Nya untuk manusia yang berkecerdasan terbatas.

Dan dengan demikian juga maka semua penciptaan akan didasarkan prinsip keterbatasan ini yang difirmankan Allah sebagai “sesuai dengan ukuran atau kadar”, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS 54:49, 15:21)”. Hal ini akan mempengaruhi semua bentuk makhluk selanjutnya dan kita kenal kemudian sebagai kuantifikasi.

Di alam semesta kita ini, bentuk titik menjadi lingkaran itulah yang telah dipilihkan-Nya karena mewakili Asma-asma dan Sifat-sifat-Nya yang terpahami oleh akal pikiran manusia. Artinya, dalam bentuk fundamental ini, baik mikro dan makro, awal dan akhir akan menutup kedirinya sendiri, artinya semuanya dari Pencipta dan akan kembali kepada Pencipta pula akhirnya. Hal ini juga menetapkan makna bahwa antara yang lahir dan yang batin seperti ditegaskan QS 57:3 tidak lain adalah Pencipta juga.

Namun, untuk bertemunya titik awal dan akhir, yang lahir dan yang bathin, manusia sebagai makhluk yang berada dalam wadah penciptaan yang terbatas, harus mampu menyingkapkan hakikat eksoterisnya langkah-demi langkah dengan mempelajari yang terletak diantara keduanya yakni alam semesta dan dirinya sendiri (manusia sebagai makhluk berakal danmampu memaknai AdaNya sebelum semua makhluk mengucapkan “ada” sebagai 141 huruf). Lantas manusia harus merubuhkan hambatan psikologisnya yaitu realitasnya sebagai makhluk fisikal yang sebenarnya adalah penjaranya atau Penjara Ghairil.

by. atmonadi.com








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.