>Arti Dzikir Dalam Tharekat

23 02 2011

>

Pengertian Dzikir

Ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi menyebut kata dzikir dalam beragam makna.

a. Dzikir (dzikir) adalah al Qur’an, sebagaimana terekam dalam surat al Hijr ayat9

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.

b. Dzikir adalah shalat jum’at, sebagaimana tertera dalam al Qur’an dalam surat al Jumu’ah ayat 9.

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian menuju dzkir kepada Allah.

c. Dzikir diartikan sebagai ilmu, sebagaimana terekam dalam al Qur’an surat al Anbiya’ ayat 7.

Kami tiada mengutus Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Sebagian ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dzikir adalah ilmu tentang yang halal dan yang haram.”

Dzikir adalah lafal musytarak (memiliki lebih dari satu makna), mencakup ilmu, shalat, al Qur’an dan dzikir kepada Allah. Tetapi yang dijadikan sebagai patokan dalam lafal musytarak adalah makna yang paling banyak digunakan berdasarkan kebiasaan. Kebanyakan dalam teks al Qur’an dan Hadits, kata dzikir dimaksudkan sebagai tasbih, tahlil, takbir, dan shalawat kepada Nabi. Allah berfirman dalam surat an Nisa’ ayat 103, “Apabila kalian sudah menyelesaikan shalat, maka berdzikirlah kalian kepada Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.”

Sedangkan makna selain itu harus disertai dengan petunjuk keadaan atau lafal. Lafal dzikir paling banyak digunakan dalam arti dzikir kepada Allah. Jarang sekali lafal ini dimaksudkan sebagai ilmu sebagaimana dalam firman Allah, “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu).” Maksud dari dzikir di sini adalah ilmu, karena adanya petunjuk, yaitu pertanyaan. (Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf)

Dzikir diartikan dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir salawat dan baca al Qur’an ialah seperti firman Allah dalam surat al Anfal ayat 45, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya.” Dan firman Allah dalam surat al Muzammil ayat 8, “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, Allah telah berfirman, “Aku bersama hamba-Ku selama dia berdzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Hakim) dan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Bisr bahwa seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at islam itu terlalu banyak bagiku. Maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang aku dapat berpegang teguh dengannya.” Beliau menjawab, “Selama lisanmu masih basah menyebut Allah.” (HR. Tirmidzi)

Menurut Ibnu Athaillah, “Dzikir adalah membebaskan diri dari sikap lalai dan lupa dengan menghadirkan hati secara terus-menerus bersama Allah.” Sebagian kalangan mengatakan bahwa dzikir adalah menyebut secara berulang-ulang dengan hati dan lisan nama Allah, salah satu sifat-Nya, salah satu hukum-Nya, atau lainnya, yang dengannya seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Fungsi Dan Kedudukan Dzikir

Dzikir merupakan dasar untuk setiap maqam yang dibangun di atasnya, sebagaimana fondasi adalah landasan yang akan didirikan di atasnya serupa dinding, bangunan, dan atap. Dzikir membuahkan maqam-maqam dan ahwal yang diupayakan oleh para salik. Karena tidak ada jalan lain untuk meraih buah dzikir kecuali dari pohon dzikir. Setiap kali pohon itu tumbuh besar, maka akarnya akan semakin kuat dan buahnya akan semakin banyak.

Apabila seorang hamba asyik dan tenggelam dengan kelalaiannya, maka dia tidak mungkin dapat menempuh tingkat-tingkat perjalanan yang mengantarkannya untuk sampai kepada makrifatullah. Seseorang tidak akan terhindar dari kelalaiannya kecuali dengan dzikir. Lalai berarti tidur atau matinya hati. Ketaatan para sufi terhadap perintah Tuhan ialah mereka memperbanyak dzikir kepada-Nya, dzikir menjadikan kehidupan mereka seperti kehidupan para malaikat, sehingga dunia tidak pernah terlintas dalam hati mereka, dan tidak melupakan mereka dari berhubungan dengan kekasih mereka, yaitu Allah Swt. Bahkan mereka melupakan kepentingan diri dengan bersimpuh lama-lama di hadapan Tuhan mereka. Mereka melenyapkan segala sesuatu selain-Nya. Mereka selalu mengingat Allah di mana pun mereka berada dalam keadaan berdiri, berjalan, duduk, dan berbaring sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 191

Yang mengingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Hai Tuhan kami ! Engkau tidak jadikan ini (semua) tidak sia-sia ! Maha Suci Engkau ! Lantaran itu, peliharalah kami (dari pada) siksa neraka.

Seorang sufi senantiasa berzikir kepada Tuhannya di setiap situasi dan kondisinya. Dengan dzikir itu dadanya menjadi lapang, hatinya menjadi tenang dan rohnya menjadi luhur. Sebab, dia meraih keuntungan dengan menjadi teman duduk Tuhannya. Allah berfirman dalam hadits qudsi, “Ahli dzikir kepada-Ku adalah teman duduk-Ku (HR. Ahmad)”

Orang yang mengenal Allah adalah orang yang senantiasa tekun berzikir dan memalingkan hatinya dari kesenangan-kesenangan dunia yang fana, sehingga Allah menjaganya dan melindunginya dari semua urusannya. Hal ini tidak mengherankan. Sebab barang siapa bersabar, dia pasti akan berhasil. Dan barang siapa yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.

a. Menurut Abu Qasim al Qusyairi

Imam Abu Qasim al Qusyairi mengatakan, “Dzikir adalah lembaran kekuasaan, cahaya penghubung, pencapaian kehendak, tanda awal perjalanan yang benar dan bukti akhir perjalanan menuju Allah. Tidak ada sesuatu setelah dzikir. Semua perangai yang terpuji merujuk kepada dzikir dan bersumber darinya.”

Dia juga berkata, “Dzikir adalah unsur penting dalam perjalanan menuju al Haq. Bahkan, dia adalah pemimpin dalam perjalanan tersebut. Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dia tekun dalam berdzikir.”

b. Menurut Ibnu Qayim al Jauziah

Ibnu Qayim berkata, “Tidak diragukan bahwa hati dapat berkarat seperti halnya besi dan perak. Dan alat pembersih hati adalah dzikir. Dzikir dapat membersihkannya, sehingga dia menjadi seperti cermin yang bersih. Apabila seseorang meninggalkan dzikir, maka hatinya akan berkarat. Dan apabila dia berzikir, maka hatinya menjadi bersih.

Berkaratnya hati disebabkan dua perkara, yakni lalai dan dosa. Dan yang dapat membersihkannya juga dua perkara, yakni istigfar dan dzikir.

Barang siapa yang lalai dalam kebanyakan waktunya, maka karat di hatinya akan menumpuk sesuai dengan tingkat kelalaiannya. Apabila hati berkarat, maka segala sesuatu tidak tergambar di dalamnya sesuai dengan faktanya. Dia akan melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran, dan melihat kebenaran dalam bentuk kebatilan. Sebab, ketika karat hati itu bertumpuk, hati menjadi gelap, sehingga bentuk-bentuk kebenaran tidak tergambar sebagaimana adanya.

Apabila karat hati bertumpuk, maka hati menjadi hitam dan pandangannya menjadi rusak, sehingga dia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat mengingkari kebatilan. Inilah siksaan hati yang paling berat. Sumber dari semua itu adalah kelalaian dan mengikuti hawa nafsu. Keduanya menghilangkan cahaya hati dan membutakannya. Allah berfirman dalam surat al Kahfi ayat 28 yang artinya : “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.”

c. Menurut Ahmad Zaruq

Dalam Qawa’id at Tasawwuf, Ahmad Zaruq mengatakan, “Keistimewaan itu terdapat dalam ucapan, perbuatan dan benda-benda. Dan keistimewaan yang paling agung adalah keistimewaan dzikir. Sebab, tidak ada amal anak Adam yang paling dapat menyelamatkannya dari siksa Allah selain dzikir kepada-Nya. Allah telah menjadikan segala sesuatu seperti minuman. Masing-masing memiliki manfaat khusus. Dengan demikian, setiap yang umum dan yang khusus harus diperhatikan sesuai dengan kondisi setiap orang.”

d. Menurut Ahmad Ibn Ujaibah

Ahmad ibn Ujaibah berkata, “Tidak akan terbuka pintu maqam ridla bagi seorang hamba melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya, yaitu :

  1. Dia tenggelam dalam nama tunggal (Allah). Dzikir dengan nama tunggal ini hanya khusus bagi orang-orang yang telah mendapat izin dari seorang mursyid kamil.
  2. Dia bergaul dengan orang-orang yang berzikir
  3. Dia konsisten dalam mengerjakan amal saleh, dan bersih dari noda. Dengan kata lain, dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa Nabi Muhammad Saw

Kesimpulannya, para pendidik spiritual dan para mursyid kamil telah menasihati para salik selama dalam perjalanan mereka menuju Allah dan telah menjelaskan kepada mereka bahwa jalan praktis yang dapat mengantarkan mereka untuk sampai kepada Allah dan mencapai ridla-Nya adalah memperbanyak dzikir di setiap keadaan dan bergaul dengan orang-orang yang berdzikir. Sebab, jiwa orang-orang yang berdzikir dapat memutuskan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada kejahatan. (Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf, hlm. 98-100)





>Hizib NAQS ; The Ultimate Power

22 02 2011

>

Apakah Hizib itu?
hizib adalah doa yang disusun para wali yang masih dikeramatkan. Hizib yang mengandung fadhilah dan khasiat yang luar biasa ini adalah kumpulan ayat-ayat Alqur’an, dzikir dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah), hanya saja yang membedakan setiap hizib antara lain asrar yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang sesuai dengan karakter Wali sang penyusun.

Sementara, kandungan dalam hizib terdapat banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian doa sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizib juga biasanya mengandung lebih banyak ismul a’zham (asma Allah yang agung) yaitu nama Allah seperti yang terkandung diantara “KAf dan NUN”.

Dengan kata lain, hijib yang terbentuk bukan saja atas keinginan para wali saja namun yang diterima dari Rasululloh langsung dan diterima dari Ilham Allah SWT.

Oleh para Awliya hizib disusun dan dirancang ada yang untuk konsumsi umum sehingga semua orang boleh meng­amalkannya untuk memperkuat benteng diri dan sebagainya. Ada juga yang dirancang untuk kalangan tertentu yang dianggap memiliki kemampuan lebih dari yang lain.

Mengamalkan suatu hizib tidak terlepas dari cobaan atau ujian (ada efek negatif), biasanya cobaannya itu ada yang berbentuk kedigjayaan atau kesaktian berbukti (menonjol), atau rezekinya berlimpah, menjadi kaya raya, punya kharisma wibawa dan sebagainya. Semua cobaan itu akan membuat kita sombong atau minder. Makanya ketika kita memulai mengamalkan hizib harus lebih ikhlas dan sepenuhnya berserah diri pada Allah agar kita mampu menghadapi semua cobaan yang datang.


Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :

1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang.

2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu

3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka

4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

5. Surat Al Mujaadilah ayat 19 :
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi.

6. Surat Mujadiilaah ayat 22 :
Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at.

Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri.

Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Ustadz Sayyid Qutb menyeru kepada kita utk hidup di bawah naungan Al-Quran –sebagaimana ia hidup di dalamnya- utk menemukan rahasia, tabiat & kunci-kuncinya.

Hidup di bawah naungan Al-Quran, bukan berari mempelajari Al-Quran & membacanya serta menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Namun yang dimaksud disini adalah hidup di bawah naungna Al-Quran: Manusia berada di bawah naungannya; dalam berbagai suasana & kondisi; dalam bergerak, saat lelah, saat bertarung, & saat sedih serta saat bergembira & senang. Seperti yang terjadi pd masa awal turunnya Al-Quran.! ;Hidup dengannya dalam menghadapi kejahiliaan yang menggejala dipermukaan bumi saat ini; dalam hatinya, niatnya & geraknya; terpatri dalam jiwanya yang selalu bergelora akan ruh Islam; dalam jiwa umat manusia & dalam kehidupannya & kehidupan seluruh manusia juga.

Hidup yang berhadapan dg kejahiliaan; dg berbagai penomena-fenomenanya, tindak-tanduknya & adat istiadatnya; dg seluruh geraknya & tekanan yang dilancarkannya, bahkan -jika perlu- perang dengannya sebagai usaha utk mempertahankan aqidah rabbaniyah, sistem rabbani, segala methode & gerak yang bermanhaj robbani.

Inilah lingkungan Al-Quran yang mungkin manusia bisa hidup di dalamnya, merasakan kenikmatan hidup di dalamnya, karena dg lingkungan demikianlah Al-Quran turun, sebagaimana dalam lingkungan begitu pula Al-Quran diamalkan. Bagi siapa yang tidak mau menjalani kehidupan seperti itu, maka dirinya akan jauh & terkucil dari hidayah Al-Quran, walaupun mereka tenggelam dalam mempelajarinya, membacanya & menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.

Usaha yang mesti kita kobarkan utk membangun jembatan antara orang-orang yang mukhlis & Al-Quran bukanlah tujuan kecuali setelah melintasi jembatan tersebut hingga sampai pd satu tempat lain & berusaha menghidupkan lingkungan Al-Quran secara baik; dg amal & pergerakan. Hingga pd saatnya nanti mereka akan merasakan keberadaan Al-Quran; menikmati kenikmatan yang telah Allah anugrahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. (4)

Dan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik dalam membaca, mentadabburkan, & mendapatkan rahasia-rahasia & kandungan Al-Quran, beliau berkata : “Sesungguhnya Al-Quran harus dibaca, para generasi umat islam hendaknya menelaahnya dg penuh kesadaran. Harus ditadabburi bahwasannya Al-Quran memiliki arahan-arahan yang hidup, selalu diturunkan hingga hari ini guna memberikan solusi pd masalah yang terjadi saat ini & menyinari jalan menuju masa depan yang gemilang. Bukan hanya sekedar ayat dibaca dg merdu & indah, / sekedar dokumentasi akan hakekat peristiwa yang terjadi pd masa lampau.

Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita mendapatkan darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pd saat ini & mendatang, sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi islam pertama, saat mereka mengambil & mengamalkan arahan-arahan & petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam kehidupan mereka. Saat kita membaca Al-Quran dg penuh penghayatan, maka kita akan dapati apa yang kita inginkan; Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik dalam jiwa kita yang pelupa ! kita juga akan dapati kalimat-kalimatnya yang teratur, ungkapan-ungkapannya yang indah, & petunjuk-petunjuknya yang hidup, mengalir & bergerak serta mengarahkan menuju petunjuk jalan yang lurus” (5)

Disebutkan –dalam pembukaan surat Ali Imron sebagai surat peperangan & pergerakan- tentang kenikmatan hidup dg Al-Quran & syarat-syarat utk mencapai & meraihnya. Akan tampak disana kerugian yang mendalam antara kita & Al-Quran jika kita tidak berusaha mengamalkannya secara baik, menghadirkan dalam persepsi kita bahwa Al-Quran ini diberikan kepada umat yang giat & punya kesemangatan hidup, memiliki eksistensi diri dg baik, & menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupn umat ini.

Akan tampak disana dinding pemisah yang sangat tinggi antara jiwa kita & Al-Quran, selama kita membacanya / mendengarnya seakan ia hanya sekedar bacaan ibadah saja & tidak memiliki hubungan denga realita kehidupan manusia saat ini.

Mukjizat Al-Quran yang mengagumkan meliputi, saat dia diturunkan guna menghadapi realita tertentu & umat tertentu, pd masa dari masa-masa sejarah yang tertentu, khususnya umat ini yang berada dalam menghadapi perang yang sangat besar yang berusaha mengubah sejarah ini & sejarah umat manusia seluruhnya. Namun –besamaan dg ini- Al-Quran diperlakukan, dihadirkan & dimiliki hanya utk menghadapi kehidupan modern saja, seakan-akan dia diturunkan pd saat menanggulangi jamaah Islam pd permasalahan yang sedang berlangsung, dalam peperangan yang terjadi dg jahiliyah disekitarnya.

Agar kita dapat meraih kekuatan yang dimiliki Al-Quran, mendapatkan hakekat yang terdapat di dalamnya dari kehidupan yang menyeluruh, meraih petunjuk yang tersimpan utk jamaah muslimah pd setiap generasi. Maka selayaknya kita harus menghadirkan persepsi kita seperti generasi Islam pertama saat diturunkan kepada mereka Al-Quran pertama kali sehingga mereka bergerak dalam realita kehidupan mereka secara nyata.

Dengan teori ini kita akan dapat melihat kehidupan yang bergerak di tengah kehidupan generasi Islam pertama, & begitupun dg kehidupan kita saat ini; kita merasakan bahwa Al-Qur’an akan selalu bersama kita saat ini & nanti –masa mendatang-, & Al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan saja yang jauh dari kehidupan nyata yang terbatas. (6)

“Bahwa nash-nash Al-Quran tidak akan dapat difahami dg baik hanya melalui pemahaman dari petunjuk-petunjuk secara bayan & bahasa saja, namun yang pertama kali -dan sebelum yang lainnya- yang harus dilakukan adalah dg merasakan kehidupan dalam suasana sejarah pergerakan & dalam realita positif, & menghubungkannya dg realita kehidupan nyata. Karena Al-Qur’an tidak akan terbuka rahasianya hanya melalui pandangan yang jauh ini kecuali dalam wujud persesuaian realita sejarah, sehingga akan tampak sentuhan-sentuhannya yang kontinyu, objektivitasnya yang terus menerus. Namun bagi siapa yang bergerak dg ajarannya saja, yaitu mereka yang hanya membahas nash-nash Al-Quran dari segi bahasa & bayan saja, maka hanya akan mendapat luarnya saja, sementara bagian dalamnya jauh dari hatinya. (7)

Sesungguhnya Al-Quran memiliki tabiat pergerakan & misi yang nyata, hidup & bergerak, dari sini berarti Al-Quran tidak akan bisa dirasakan & dinikmati dg baik kecuali bagi siapa yang bergerak secara benar & pasti dalam realita kehidupannya. Beliau berkata : “sesungguhnya Al-Qur’an tidak bisa dirasakan kecuali yang turun & bergelut dalam kancah peperangan ini, bergerak seperti yang terjadi sebelumnya saat pertama kali diturunkan Al-Quran. Sedangkan mereka Mempelajari Al-Quran dari segi bayan / sekedar seninya saja, maka tidak akan dapat memiliki hakekat kebenaran sedikitpun darinya hanya sekedar duduk-duduk, berdiam diri & merasa tenang, namun jauh dari kancah pertempuran & jauh dari pergerakan.

Bahwa hakekat Al-Quran ini, selamanya tidak akan dapat direngkuh oleh orang-orang yang malas; & bahwa rahasia yang terkandung didalamnya tidak akan muncul bagi siapa yang terpengaruh dg ketentraman & ketenangan beribadah kepada selain Allah, bergaul utk thogut-thogut musuh Allah & umat Islam. (8)

Bahwa pengertian diatas dikuatkan dg pernyataan lainnya : “Demikianlah Al-Quran akan terus bergerak pd hari ini & esok –masa mendatang- dalam memunculkan kebangkitan Islam, menggerakannya dalam jalan dawah yang terprogram”.

Gerakan ini tentunya butuh kepada Al-Quran yang memberikan ilham & wahyu. Ilham dalam manhaj haraki, konsep & langkah-langkahnya, sedangkan wahyu mengarahkan konsep & langkah tersebut jika dibutuhkan, & memberi kekuatan batin terhadap apa yang akan dihadapi di penghujung jalan.

Al-Quran –dalam persepsi ini- tidak hanya sekedar ayat-ayat yang dibaca utk meminta berkah, namun didalamnya berlimpahan kehidupan yang selalu turun atas jamaah muslimah yang bergerak bersamanya, mengikuti arahan-arahannya, & mengharap ganjaran & janji Allah SWT.

Inilah yang kami maksud bahwa Al-Quran tidak akan terbuka rahasia-rahasianya kecuali bagi golongan muslim yang berinteraksi dengannya utk merealisasikan petunjuk-petunjuknya di alam realita, bukan bagi mereka yang hanya sekedar membacanya utk meminta berkah ! bukan bagi mereka yang membacanya hanya utk belajar seni & keilmuan, & juga bukan bagi mereka yang hanya mempelajari & membahas dalam bidang bayan saja !

Mereka semua sama sekali tidak akan mendapatkan dari Al-Quran sesuatu apapun, karena Al-Quran tidak diturunkan bukan utk sekedar dipelajari & dijadikan mata pelajaran namun sebagai pelajaran pergerakan & taujih –pemberi petunjuk & arahan-.” (9)

Karena itu, bersegeralah memperbaiki pemahaman Al-Quran & mentadabburkannya, berinteraksi dengannya seputar teori pergerakan, menggunakan kunci-kunci yang memberi petunjuk dalam berinteraksi & mentadabburkan Al-Qur’an. Karena yang demikian sesuai dg tabiat dasar Al-Quran yang mulia & karakteristiknya yang unik. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah “Realita pergerakan” sebagai kunci dalam berinteraksi dg Al-Kitab yang mengagumkan & mukjizat yang indah & memberi petunjuk.

”Karena itu gerakan Islam akan selalu berhadapan –yang menjadi kebutuhan & tuntutan- setiap kali berulang masa ini (masa penghalangan dawah Islam di Mekkah antara tahun kesedihan & Hijrah), seperti yang dihadapi gerakan Islam sekarang di era modern ini.

Dan yang demikian harus disertai dg keadaan, situasi, kondisi, kebutuhan, & tuntuan realita amaliyah seperti saat diturunkannya Al-Quran pertama kali. Dan hal tersebut guna mengetahui arah tujuan nash & aspek-aspek petunjuk-petunjuknya, meneropong sentuhan-sentuhannya yang selalu bergerak di tengah kehidupan yang selalu berhadapan dg realita sebagaimana makhluk hidup yang bergerak –berinteraksi dengannya / berseberangan dengannya. Pandangan ini merupakan perkara yang sangat urgen guna memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran & merasakan kenikmatan bersamanya. Sebagaimana ia juga sangat penting utk dapat memanfaatkan petunjuk-petunjuknya setiap kali berulang suasana & situasi di masa sejarah yang akan datang, khususnya zaman yang sedang kita hadapi saat ini, saat kita bergelut dalam pergerakan dawah islam.

Bahwa tidak akan ditemukan pandangan ini kecuali mereka yang bergerak secara pasti dg agama ini dalam menghadapi & memberantas kejahilian modern, karena umat akan menghadapi peristiwa, suasana & situasi seperti yang di hadapi oleh generasi awal dawah & kaum kaum muslimin bersamanya. (10)

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
kam min fiatin qaliilatin ghalabat fiatan katsiiratan bi idznillah, wallahu ma’ashshaabiriin.
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. 2: 249)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 
( QS.Al Fatihah : 5)
كهيعص
1. Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad ( QS.Maryam : 1)
حم عسق
Haa Miim ‘Ain Siin Qaaf (QS.Al Shura 1-2)
خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. ( QS. Al Baqarah 2:7 )
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. ( QS.Yaa Siin :65 )
لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
“La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhiim”
“Siapa yang membaca ” HAUQOLAH ” setiap hari 100 x maka tidak akan terkena miskin” ( HR.Dailami ).
“Maukah kamu aku beritahu tentang kalimat yang menjadi simpanan syurga dan dapat memasukkan ke dalam syurga ?, yaitulah kalimat ” HAUQOLAH “.( HR.Muslim ).

Ada Sebuah Kisah Dari Mbah Guugle :
Setelah Allah menciptakan para malaikat pemikul Arasy, Allah berfirman kepada mereka : “Pikullah Arasy-Ku !!” Tetapi mereka tidak kuat untuk memikulnya. Lalu Allah menjadikan masing-masing malaikat tersebut memiliki kekuatan seperti kekuatan seluruh malaikat yang ada di semua langit tujuh. Lalu Allah pun berfirman kembali kepada mereka, “Pikullah Arasy-Ku !!”. Namun apa daya, mereka, para malaikat pemikul Arasy tersebut masih belum mampu memikul Arasy. Lalu Allah kemudian menambah tenaga / kekuatan malaikat tersebut setara dengan gabungan kekuatan para malaikat yang ada di langit dan seluruh manusia yang ada di bumi. Kemudian Allah berfirman kembali, “Pikullah Arasy-Ku!!” Tetapi tetap mereka belum juga mampu untuk memikul Arasy. Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka, “Katakanlah, Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah.”

Setelah mereka mengucapkan kalimat Hauqolah tersebut, mereka menjadi mampu untuk mengangkat / memikul Arasy, namun kaki-kaki mereka menjadi terjerembab dan menancap sampai pada lapis bumi ketujuh dan terus melesat seperti kecepatan kekuatan angin, sehingga telapak kaki mereka tidak berpijak, mereka pun menjadi bergelantungan berpegangan terhadap Arasy. Karena terjadi hal seperti tersebut, mereka terus-menerus mengucapkan kalimat Hauqolah itu, dan tidak berani main-main dalam mengucapkannya, karena takut sewaktu-waktu mereka akan jatuh, sementara mereka sedang asyik memikul Arasy.

Dengan demikian para malaikat pemikul Arasy itu, memikulnya dan Arasy pun memikul / menarik mereka (saling tarik-menarik), sehingga masing-masing menanggung beban berat atas kekuasaan Allah SWT.

Maraji’
(1). lihat: Muqaddimah Fi Zhilalil Quran & Biodata Sayyid Qutb pd surat Al-Araf.
(2). Lihat: Al-Manhaj Al-Haraki Fi Az-Zhilal.
(3). Lihat: Khasais At-Tashawur Al-Islami, Sayyid Qutb, hal. 7-8
(4). Lihat: Fi Zhilalil Qur’an, jil. 2, hal. 1016-1017
(5). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 61
(6). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 348-349
(7). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil 3, hal. 1453
(8). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1864
(9). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1948
(10). Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 2121-2122

Sumber: al-ikhwan.net





>Cahaya Hati

22 02 2011

>

“Allah Ta’ala menerangi alam dengan cahaya makhluk-­Nya, dan menerangi hati manusia dengan cahaya sifat-sifat-­Nya. Oleh karena itu, cahaya alam bisa terbenam, akan tetapi cahaya hati dan kegaiban hati tidak bisa terbenam. Seperti kata penyair, “Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam, sedangkan matahari hati tidak pernah terbenam. “

Cahaya bagi alam semesta, adalah cahaya Allah yang menerangi hati para hamba yang mengetahui kebenaran, dan menghiasi batin hamba yang saleh dan taat. Oleh karena itu, hati hamba yang telah mendapat sinar Ilahiyah, tidak pernah redup dan selamanya akan bersinar, seperti matahari menyinari rembulan yang menyinarkan cahaya sepanjang malam. Cahaya itu memberi ketenangan dan keteduhan di hati. Cahaya dari Al­lah yang menyelusup masuk ke dalam hati insan melebihi sejuknya sinar rembulan, memantulkan penawar ke dalam jiwa manusia sehingga bertambah akrablah sang hamba dengan Al Khaliq.

Cahaya Allah yang berupa sifat-sifat Allah yang suci dan mulia bersinar di dalam hati sanubari manusia, memperteguh keyakinan sehingga si hamba mendapat kesejukan dan kenikmatan dalam jiwanya. Merasakan kesejukan dan kelezatan iman dalam jiwa akan menumbuhkan ketenangan yang sangat diperlukan oleh jiwa yang resah gelisah. Jiwa akan menjadi sakinah dan mutmainnah setelah mendapat sinar yang menerangi hidup manusia lahir dan batin. Ketenangan jiwa yang mendapat sinar dari Allah Swt. akan memberi kekuatan, keteguhan dalam mempertahankan hidup suci dalam ketaatan, serta memperkokoh (istiqamah) mempertahankan keimanan clan keyakinan.

Allah Jalla Jalaluh telah menerangi alam semesta ini dengan cahaya matahari, bulan dan bintang. Cahaya itu adalah pantulan dari cahaya makhluk ciptaan Allah. Akan tetapi memancarkan cahaya abadi dari kemuliaan sifat-sifat-Nya ke dalam hati sanubari manusia. Itulah yang abadi, tidak pernah redup, tidak pernah mati, Matahari yang bersinar di langit bisa redup, akan tetapi matahari yang bersinar di hati tak pernah redup. Itulah sinar Allah yang memantul ke dalam hati hamba-hamba yang tekun beribadah.





>Manajemen Qalbu Dengan Dzikrullah & Suluk

22 02 2011

>

Tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti:

  1. jalan atau petunjuk jalan atau cara,
  2. Metode, system (al-uslub),
  3. mazhab, aliran, haluan (al-mazhab),
  4. keadaan (al-halah)
  5. tiang tempat berteduh,tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Menurut Al-Jurjani ‘Ali binMuhammad bin ‘Ali (740-816 M),tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta ’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

DZIKRULLAH (Menggapai Ketenteraman Hati)

Di dalam ajaran Islam, dzikrullah berarti menjaga hati untuk selalu menyebut dan mengingat Allah Swt.

Menurut kalangan sufi, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dan Ibn Athaillah,

Dzikir kepada Allah Swt memiliki tiga bagian.

Pertama, dzikir lisan-disebut dzikr jali (jelas);
yaitu mengingat Allah Swt dengan ucapan lisan, yang berupa ucapan pujian, syukur, dan doa kepada-Nya. Misalnya, seseorang mengucapkan tahlil (la ilaha illaallah), tasbih (subhanallah), dan takbir (allahu akbar).

Rasulullah memberi contoh dzikir, seperti disebutkan di dalam hadits, “Kalau aku membaca subhanallah wa al-hamdu lillahi wa la ilaha illallah wallahu akbar, maka bacaan itu lebih aku gemari daripada mendapatkan kekayaan sebanyak apa yang berada di bawah sinar matahari.” (HR Muslim).

Kedua, dzikir hati-disebut dzikr khafi (sembunyi);
yaitu mengingat Allah Swt dengan khusyuk karena ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Seseorang yang melakukan dzikir semacam ini, hatinya senantiasa memiliki hubungan dengan-Nya; merasa kehadiran Allah Swt di dalam dirinya. Ketika berdzikir, kita sesungguhnya dekat dengan Allah Swt.

Ketiga, dzikir jiwa-raga, dzikr haqiqi;
yaitu mengingat Allah Swt yang dilakukan seluruh jiwa dan raga, baik lahiriah maupun batiniah, di mana dan kapan saja. Jiwa dan raga kita hanya mengerjakan perintah-perintah Allah Swt dan menghindarkan diri dari berbagai larangan-Nya. Inilah tingkatan paling tinggi dalam mengingat Allah Swt, seperti diakui kalangan sufi.

Faedah-Faedah Dzikir :
Bila seseorang benar-benar melaksanakan dzikir sesuai dengan yang dikehendaki Allah Swt dan Rasul-Nya, maka setidaknya ada 20 faedah yang diperoleh oleh orang tersebut, yaitu :

  1. Baik sangka kepada Allah Swt.
  2. Mendapat rahmat dan inayah dari Allah Swt.
  3. Memperoleh sebutan dari Allah Swt dihadapan hamba-hamba pilihan.
  4. Membimbing hati dengan mengingat dan menyebut Allah Swt.
  5. Melepaskan diri dari azab Allah Swt.
  6. Memelihara diri dari godaan setan dan membentengi diri dari maksiat.
  7. Mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
  8. Mendapatkan derajat yang tinggi disisi Allah Swt.
  9. Memberikan sinar kepada hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa.
  10. Menghasilkan tegaknya suatu rangka dari Iman dan Islam.
  11. Menghasilkan kemuliaan dan kehormatan di hari kiamat.
  12. Melepaskan diri dari perasaan menyesal.
  13. Memperoleh penjagaan dan pengawalan dari para malaikat.
  14. Menyebabkan Allah Swt bertanya kepada para malaikat yang menjadi utusan Allah Swt tentang keadaan orang-orang yang berdzikir itu.
  15. Menyebabkan berbahagianya orang-orang yang duduk beserta orang-orang yang berdzikir, walaupun orang orang tersebut tidak berbahagia.
  16. Menyebabkan dipandang “ahlul ihsan”, dipandang orang-orang yang berbahagia dan pengumpul kebajikan.
  17. Menghasilkan ampunan dan keridhaan Allah Swt.
  18. Menyebabkan terlepas dari pintu fasiq dan durhaka. Karena orang yang tiada mau menyebut Allah Swt (berdzikir) dihukum orang yang fasiq.
  19. Merupakan ukuran untuk mengetahui derajat yang diperoleh disisi Allah Swt.
  20. Menyebabkan para Nabi dan orang Mujahidin (syuhada) menyukai dan mengasihi.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa dengan dzikir kepada Allah Swt, akan tergapai ketenteraman hati, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [013]:28).

Oleh karena itu, mari kita tingkatkan dzikir kita kepada Allah Swt, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun, agar hati kita selalu tenteram lantaran selalu ingat kepada Allah Rabbul Izzati, amin.

SULUK : UZLAH ADALAH PINTU TAFAKUR

TIADA SESUATU YANG SANGAT BERGUNA BAGI HATI SEBAGAIMANA UZLAH UNTUK MASUK KE MEDAN TAFAKUR.

Kalam-kalam Hikmat pertama hingga ke sebelas telah memberi gambaran tentang keperibadian tauhid yang halus-halus. Seseorang yang mencintai Allah s.w.t dan mahu berada di sisi-Nya sangat ingin untuk mencapai keperibadian yang demikian. Dalam membentuk keperibadian itu dia gemar mengikuti landasan syariat, kuat beribadat dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Dia sering bangun pada malam hari untuk melakukan sembahyang tahajud dan selalu pula melakukan puasa sunat. Dia menjaga tingkah-laku dan akhlak dengan mencontohi apa yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w.

Hasil daripada kesungguhannya itu terbentuklah padanya keperibadian seorang muslim yang baik. Walaupun demikian dia masih tidak mencapai kepuasan dan kedamaian. Dia masih tidak mengerti tentang Allah s.w.t. Banyak persoalan yang timbul di dalam kepalanya yang tidak mampu dihuraikannya. Dia telah bertanya kepada mereka yang alim, tetapi dia tidak mendapat jawapan yang memuaskan hatinya. Jika ada pun jawapan yang baik disampaikan kepadanya dia tidak dapat menghayati apa yang telah diterangkan itu. Dia mengkaji kitab-kitab tasauf yang besar-besar. Ulama tasauf telah memberikan penjelasan yang mampu diterima oleh akalnya namun, dia masih merasakan kekosongan di satu sudut di dalam dirinya. Bolehlah dikatakan yang dia sampai kepada perbatasan akalnya.

Hikmat 12 ini memberi petunjuk kepada orang yang gagal mencari jawapan dengan kekuatan akalnya. Jalan yang disarankan ialah uzlah atau mengasingkan diri dari orang ramai. Jika dalam suasana biasa akal tidak mampu memecahkan kubu kebuntuan, dalam suasana uzlah hati mampu membantu akal secara tafakur, merenungi perkara-perkara yang tidak boleh difikirkan oleh akal biasa. Uzlah yang disarankan oleh Hikmat 12 ini bukanlah uzlah sebagai satu cara hidup yang berterusan tetapi ia adalah satu bentuk latihan kerohanian bagi memantapkan rohani agar akalnya dapat menerima pancaran Nur Kalbu kerana tanpa sinaran Nur Kalbu tidak mungkin akal dapat memahami hal-hal ketuhanan yang halus-halus, dan tidak akan diperolehi iman dan tauhid yang hakiki.

Hati adalah bangsa rohani atau nurani iaitu hati berkemampuan mengeluarkan nur jika ia berada di dalam keadaan suci bersih. nur yang dikeluarkan oleh hati yang suci bersih itu akan menerangi otak yang bertempat di kepala yang menjadi kenderaan akal. Akal yang diterangi oleh nur akan dapat mengimani perkara-perkara ghaib yang tidak dapat diterima oleh hukum logik. Beriman kepada perkara ghaib menjadi jalan untuk mencapai tauhid yang hakiki.

Nabi Muhammad s.a.w sebelum diutus sebagai Rasul pernah juga mengalami kebuntuan akal tentang hal ketuhanan. Pada masa itu ramai pendeta Nasrani dan Yahudi yang arif tentang hal tersebut, tetapi Nabi Muhammad s.a.w tidak pergi kepada mereka untuk mendapatkan jawapan yang mengganggu fikiran baginda s.a.w, sebaliknya baginda s.a.w telah memilih jalan uzlah.

Ketika umur baginda s.a.w 36 tahun baginda s.a.w melakukan uzlah di Gua Hiraa. Baginda s.a.w tinggal sendirian di dalam gua yang sempit lagi gelap, terpisah dari isteri, anak-anak, keluarga, masyarakat hinggakan cahaya matahari pun tidak menghampiri baginda s.a.w. Amalan uzlah yang demikian baginda s.a.w lakukan secara berulang-ulang sehingga umur baginda s.a.w mencapai 40 tahun. Masa yang paling baginda s.a.w gemar beruzlah di Gua Hiraa’ ialah pada bulan Ramadan. Latihan uzlah yang baginda lakukan dari umur 36 hingga 40 tahun itu telah memantapkan rohani baginda s.a.w sehingga berupaya menerima tanggungjawab sebagai Rasul. Latihan semasa uzlah telah menyucikan hati baginda s.a.w dan meneguhkannya sehingga hati itu mampu menerangi akal untuk mentafsir wahyu secara halus dan lengkap. Wahyu yang dibacakan oleh Jibrail a.s hanyalah singkat tetapi Rasulullah s.a.w dapat menghayatinya, memahaminya dengan tepat, mengamalkannya dengan tepat dan menyampaikannya kepada umatnya dengan tepat meskipun baginda s.a.w tidak tahu membaca dan menulis.

Begitulah kekuatan dan kebijaksanaan yang lahir dari latihan semasa uzlah. Tanpa latihan dan persiapan yang cukup seseorang tidak dapat masuk ke dalam medan tafakur tentang ketuhanan. Orang yang masuk ke dalam medan ini tanpa persediaan dan kekuatan akan menemui kebuntuan. Jika dia masih juga merempuh tembok kebuntuan itu dia akan jatuh ke dalam jurang gila.

Orang awam hidup dalam suasana: “Tugas utama adalah menguruskan kehidupan harian dan tugas sambilan pula menghubungkan diri dengan Allah s.w.t”. Orang yang di dalam suasana ini sentiasa ada masa untuk apa juga aktiviti tetapi sukar mencari kesempatan untuk bersama-sama Allah s.w.t. Orang yang seperti ini jika diperingatkan supaya mengurangkan aktiviti kehidupannya dan memperbanyakkan aktiviti perhubungan dengan Allah s.w.t mereka memberi alasan bahawa Rasulullah s.a.w dan sahabat-sahabat baginda s.a.w tidak meninggalkan dunia lantaran sibuk dengan Allah s.w.t.

Mereka ini lupa atau tidak mengerti bahawa Rasulullah s.a.w dan para sahabat telah mendapat wisal atau penyerapan hal yang berkekalan. Hati mereka tidak berpisah lagi dengan Allah s.w.t. Kesibukan menguruskan urusan harian tidak membuat mereka lupa kepada Allah s.w.t walau satu detik pun. Orang yang mata hatinya masih tertutup dan cermin hatinya tidak menerima pancaran Nur Sir, tidak mungkin hatinya berhadap kepada Allah s.w.t ketika sedang sibuk melayani makhluk Allah s.w.t. Orang yang insaf akan kelemahan dirinya akan mengikuti jalan yang dipelopori oleh Rasulullah s.a.w dan diikuti oleh para sahabat iaitu memisahkan diri dengan semua jenis kesibukan terutamanya pada satu pertiga malam yang akhir. Tidak ada hubungan dengan orang ramai. Tidak dikunjung dan tidak mengunjungi. Tidak ada surat khabar, radio dan televisyen. Tidak ada perhubungan dengan segala sesuatu kecuali perhubungan dengan Allah s.w.t.

Dalam perjalanan tarekat tasauf amalan uzlah dilakukan dengan bersistematik dan latihan yang demikian dinamakan suluk. Orang yang menjalani suluk dinamakan murid atau salik. Si salik menghabiskan kebanyakan daripada masanya di dalam bilik khalwat dengan diawasi dan dibimbing oleh gurunya. Latihan bersuluk memisahkan salik dengan hijab yang paling besar bagi orang yang baharu menjalani jalan kerohanian iaitu pergaulan dengan orang ramai. Imannya belum cukup teguh dan mudah menerima rangsangan daripada luar yang boleh menggelincirkannya untuk melakukan maksiat dan melalaikan hatinya daripada mengingati Allah s.w.t. Apabila dia dipisahkan dari dunia luar jiwanya lebih aman dan tenteram mengadakan perhubungan dengan Allah s.w.t.

Semasa beruzlah, bersuluk atau berkhalwat, si murid bersungguh-sungguh di dalam bermujahadah memerangi hawa nafsu dan tarikan duniawi. Dia memperbanyakkan sembahyang, puasa dan berzikir. Dia mengurangkan tidur kerana memanjangkan masa beribadat. Kegiatan beribadat dan pelepasan ikatan nafsu dan duniawi menjernihkan cermin hatinya. Hati yang suci bersih menghala ke alam ghaib iaitu Alam Malakut. Hati mampu menerima isyarat-isyarat dari alam ghaib. Isyarat yang diterimanya hanyalah sebentar tetapi cukup untuk menarik minatnya bagi mengkaji apa yang ditangkap oleh hatinya itu. Terjadilah perbahasan di antara fikirannya dengan dirinya sendiri. Pada masa yang sama dia menjadi penanya dan penjawab, murid dan pengajar. Perbahasan dengan diri sendiri itu dinamakan tafakur.

Pertanyaan timbul dalam fikirannya namun, fikirannya tidak dapat memberi jawapan. Ketika fikirannya meraba-raba mencari jawapan, dia mendapat bantuan daripada hatinya yang sudah suci bersih. Hati yang berkeadan begini mengeluarkan nur yang menerangi akal, lalu jalan fikirannya terus menjadi terang. Sesuatu persoalan yang pada mulanya difikirkan rumit dan mengelirukan, tiba-tiba menjadi mudah dan terang. Dia mendapat jawapan yang memuaskan hatinya kepada persoalan yang dahulunya mengacau fikiran dan jiwanya. Dia menjadi bertambah berminat untuk bertafakur menghuraikan segala kekusutan yang tidak dapat dihuraikannya selama ini. Dia gemar merenung segala perkara dan berbahas dengan dirinya, menghubungkannya dengan Tuhan sehingga dia mendapat jawapan yang memuaskan hatinya. Semakin dia bertafakur semakin terbuka kegelapan yang menutupi fikirannya. Dia mula memahami tentang hakikat, hubung-kait antara makhluk dengan Tuhan, rahsia Tenaga Ilahi dalam perjalanan alam dan sebagainya.

Isyarat-isyarat tauhid yang diterima oleh hatinya membuat mata hatinya melihat bekas-bekas Tangan Allah s.w.t dalam alam maya ini. Dia dapat melihat bahawa semuanya adalah ciptaan Allah s.w.t, gubahan-Nya, lukisan-Nya dan peraturan-Nya. Hasil dari kegiatan bertafakur tentang Tuhan membawa dia bermakrifat kepada Allah s.w.t melalui akalnya. Makrifat secara akal menjadi kemudi baginya untuk mencapai makrifat secara zauk.

Dalam pengajian ketuhanan akal hendaklah tunduk mengakui kelemahannya. Akal hendaklah sedar bahawa ia tidak mampu memahami perkara ghaib. Oleh itu akal perlu meminta bantuan hati. Hati perlu digilap supaya bercahaya. Dalam proses menggilap hati itu akal tidak perlu banyak mengadakan hujah. Hujah akal melambatkan proses penggilapan hati. Sebab itulah Hikmat 12 menganjurkan supaya mengasingkan diri. Di dalam suasana pengasingan nafsu menjadi lemah dan akal tidak lagi mengikut telunjuk nafsu. Baharulah hati dapat mengeluarkan cahayanya. Cahaya hati menyuluh kepada alam ghaib. Apabila alam ghaib sudah terang benderang baharulah akal mampu memahami hal ketuhanan yang tidak mampu dihuraikannya sebelum itu.
Source : Al-Hikam

Nasehat :
Syekh Naqsybandi QS, pilar utama Tarekat Naqsybandi memberi nasihat kepada khalifahnya, Syekh Ala’ud-Din al-Bukhari QS,

“Jangan dengarkan orang terpelajar yang menyangkal tarekat. Jika engkau mendengarnya, maka selama tiga hari Setan akan mengendalikan dirimu. Jika engkau tidak bertobat dalam tiga hari, dia akan menguasai orang itu selama 40 hari, dan jika tidak bertobat dalam 40 hari, engkau akan menerima kutukan selama 1 tahun.”

Kini di masa kita, banyak sekali orang yang menyangkal tarekat. Tinggalkan mereka, jangan berargumen dengan mereka. Mereka seperti Abu Jahal, Rasulullah SAW berkata kepadanya, tetapi ia tidak menerimanya. Kita tidak lebih kuat daripada Rasulullah SAW.

(Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS)
source : SUFIMUDA

‎”Nur Cahaya yg tersimpan dalam hati itu datangnya dari Nur yg datang langsung dari perbendaharaan ghaib.”

“Adakalanya hati itu terhenti pada sinar cahaya-cahaya itu, sebagaimana terhijabnya nafsu dengan padatnya benda-benda makhluk.” (Al-Hikam)

Nur keyakinan yg ada dlm hati orang-orang arif salurannya langsung daripada Nur ala nur. Allah telah menerangi alam benda yg dzohir ini dg cahaya benda buatanNYA. Dan Allah menerangi hati batin itu dg cahaya sifat-sifatNYA.

Dg cahaya matahari kita melihat benda2 alam, tetapi hanya dg nur iman keyakinan kita dpt melihat langsung kpd Allah yg menjadikan benda.

Hijab yg dpt menghalangi manusia berjalan kpd Allah itu adakalanya Nur dan adakalanya kegelapan. Bila yg menghentikan perjalanan kpd Allah itu ilmu, maka itu bernama hijab Nur. Dan bila yg menghalangi perjalanan itu berupa adat kebiasaan dan syahwat, maka itu bernama hijab kegelapan.Hati dpt silau oleh Nur Cahaya ilmu, sebagaimana silaunya nafsu dg kegelapan benda. Sedang Allah dibalik semua itu.





>Khatmu ’l-Khwājagān Kabir (Panjang)

21 01 2011

>Dalam Tarekat Naqsybandi, latihan spiritual harian dan zikir bersama mingguan yang dikenal sebagai Khatmu ’l-Khwājagān ( خَتْمُ الخَواجَكانِ ) merupakan praktik yang penting yang tidak boleh ditinggalkan oleh murid. Zikir Khatmu ’l-Khwājagān dilakukan dengan posisi duduk bersama Syekh dalam suatu majelis. Zikir ini dilakukan seminggu sekali, khususnya pada Kamis atau Jumat malam, dua jam sebelum matahari terbenam. Zikir Khatmu ’l-Khwājagān terdiri atas dua kategori, yaitu: khatm panjang dan khatm pendek.

Khatmu ’l-Khwājagān Kabir (Panjang)


108 batu, terdiri atas 100 kerikil kecil, 7 kerikil yang agak besar dan satu batu besar digunakan untuk menghitung ulangan kalimat zikir.

Bagikan 79 kerikil kecil di antara yang hadir, termasuk Syekh, masing-masing mendapat jumlah yang sama sesuai dengan jumlah yang hadir. Imam memegang sisa 21 kerikil kecil, 7 kerikil besar dan satu batu besar.

Syekh lalu memulai Khatm, yang dilakukan dengan suara pelan (dalam hati).

Niat
Niyyatu ādā’ al-khatm ibtighā’ ridhwān Allāhi ta`ala
Berniat untuk melakukan Khatm untuk mencari rida Allah SWT.

Syahadat (3 kali)
Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah SWT.

Istighfar (70 kali)
Astaghfirullah
Aku memohon ampun kepada Allah SWT.

Astaghfirullaah al-Azhiim alladzii laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qayyuum wa atuubu ilayh/Innahuu huwa tawwaabur- rahiim/Min kulli dzanbin wa ma`shiyyatin, min kulli maa yukhaalifu diinal Islaam, min kulli maa yukhaalifusy- Syarii’ah, min kulli maa yukhaalifuth-Tharii’qah, min kulli maa yukhaaliful Haqiiqah, min kulli maa yukhaaliful `Azhiimah, min kulli maa yukhaaliful Ma`rifaat, yaa Arhamar Raahimiin

Aku memohon ampun kepada Allah SWT Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maha Hidup, Yang Mandiri, dan aku bertaubat kepada-Nya, atas segala dosa dan kemaksiatan, Atas segala yang bertentangan dengan agama Islam, atas segala yang bertentangan dengan syariat (hukum Islam), atas segala yang bertentangan dengan tarekat (jalan), atas segala yang bertentangan dengan haqiqat (kebenaran), atas segala sesuatu yang bertentangan dengan azimat (kesungguhan), atas segala yang bertentangan dengan makrifat (realitas pengetahuan spiritual), Wahai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Syekh lalu membaca doa berikut:
Allaahumma yaa musabbibal Asbaab, yaa Mufattihal Abwaab, yaa Muqallibal Quluubi wal-Abshaar, yaa Dalilal Mutahayyiriin, yaa Ghiyaatsal Mustaghiitsin, yaa Hayyu, Yaa Qayyuum, yaa Dzal-Jalaali wal-Ikraam/ Wa ufawwidhu amrii illallaah, inn-Allaha bashiirun bil-`ibaad/ Ya man la malja-a minhu illa ilayhi fa la tukhayyib raaja-ana, yaa Qadiimal-Ihsaan/ Allaahumma ahsin ilainaa bi-ihsaanikal qadiim yaa Allah.

Wahai Allah SWT Penyebab dari segala sebab, wahai Pembuka dari segala Pintu, wahai Yang selalu Membalikkan kalbu serta penglihatan, wahai Pembimbing dari segala ketersesatan, wahai Penolong bagi orang yang mencari pertolongan, wahai Engkau Yang Maha Hidup dan Mandiri, wahai Engkau Yang Maha memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, Kupasrahkan segala urusanku kepada-Mu, ya Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT Maha Memperhatikan semua hamba-Nya, wahai yang tiada tempat bersandar kecuali Engkau maka janganlah Engkau pupuskan harapan kami, wahai yang kebaikan-Nya abadi. Wahai Allah SWT, berbaiklah kepada kami dengan segala kebaikan-Mu yang abadi.

Rabithatusy-Syariifah
Hubungkan kalbu Anda dengan kalbu Syekh, dari beliau kepada kalbu Rasulullah SAW, dari dari Rasulullah SAW kepada Hadirat Ilahi.

Syekh lalu membagikan 7 kerikil besar: 1 untuk dirinya sendiri dan 6 kerikil dibagikan pada hadirin di sebelah kanannya. Yang mendapat kerikil-kerikil besar ini membaca surat al-Fatiha. Kemudian kerikil-kerikil itu dikembalikan pada Syekh.

Faatihatusy-Syariif
Surat al-Faatiha yang mulia (7 kali)

Syekh lalu meminta hadirin untuk membaca Shalawatusy-Syariifah. Setiap orang membacanya sekali untuk setiap kerikil kecil yang ada di tangannya. Imam melengkapi bacaan selawat dengan menghitung 21 kerikil kecil yang ada padanya.

Shalawatusy-Syariifah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

Selawat yang Mulia
Ya Allah SWT, limpahkanlah rahmat dan kedamaian bagi kunjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.

Syekh lalu meminta hadirin untuk membaca Surat Al-Insyrah, dengan cara yang sama.

Alam Nasyrah Lakasy-Syariif
Surat Al-Insyrah yang mulia (79 kali)

Syekh lalu membagikan 21 kerikil kecil yang ada padanya kepada hadirin. Kemudian Syekh meminta hadirin untuk membaca Surat al-Ikhlash dengan Basmalah. Setiap orang membaca sesuai dengan jumlah kerikil kecil yang ada padanya. Ini diulangi 10 kali. Setelah selesai 10 putaran membaca Surat al-Ikhlash, Syekh lalu mengambil batu yang besar dan membaca Surat al-Ikhlash padanya, menjadikan jumlahnya 1.001.

Al-Ikhlashusy-Syariif
Surat al-Ikhlash yang mulia (1.001 kali)

Syekh kembali 7 kerikil besar, 1 untuk dirinya dan 6 lainnya kepada hadirin di sebelah kirinya. Sekali lagi, mereka yang memegang kerikil membaca Surat al-Fatiha kemudian kerikil-kerikil besar itu dikembalikan pada Syekh.

Faatihatusy-Syariif
Surat al-Faatiha yang mulia (7 kali)

Syekh kembali meminta hadirin untuk membaca Shalawatusy-Syariifah, setiap orang membaca sesuai dengan jumlah kerikil kecil yang ada di tangannya.

Shalawatusy-Syariifah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim (100 kali)

Selawat yang Mulia

Ya Allah SWT, limpahkanlah rahmat dan kedamaian bagi kunjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.

Ya Tuhan, berikan salam dan kedamaian kepada para nabi dan rasul beserta seluruh keluarga mereka. Dan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam

Syekh, atau seseorang yang ditunjuk olehnya lalu membaca al-Quran, Surat Yusuf, ayat 101 [QS 12: 101].

A’udzubillahi minasy syaythaanir rajiim. Bismillahi rahmaanir rahiim. Rabbi qad ataytanii minal mulki wa `allamtanii min ta’wiilil ahaadiits/ faathiras-samaawaati wal ardh/ anta waliyyii fiddun-yaa wal aakhirah/tawaffanii muslimaw wa al-hiqnii bish-shaalihiin.

Amanabillahi shadaqallahu rabbunal azhim, subhana rabbika rabbil `izzati `amma yashifuun was-salaamun `alal mursaliina wal hamdulillahi rabbil `aalamin.

Aku berlindung dari kepada Allah SWT dari godaan Setan yang terkutuk. Dengan nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah SWT! Sesungguhnya Engkau telah memberiku sebagian kerajaan dan telah mengajariku sebagian tabir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan persatukan aku dengan orang-orang yang saleh.

Kami beriman kepada Allah SWT, Maha Benar Allah SWT dengan segala firman-Nya, Maha Suci Engkau, Tuhan yang suci dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir. Semoga kedamaian tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Syekh lalu membaca dedikasi (Ihda), mempersembahkan bacaan yang telah dibaca kepada Nabi SAW dan seluruh Syekh di Tarekat Naqsybandi.

Allaahumma balligh tsawaaba maa qara’naahu wa nuura maa talawnaahu hadīyyatan waashilatan minnaa ila ruuhi Nabiyyinaa Sayyidinaa wa Mawlaanaa Muhammadin (shall-Allaahu `alayhi wa sallam). Wa ilaa arwaahi ikhwaanihi min al-anbiyaa’i wa ’l-mursaliin wa khudamaa’i syaraa`ihim wa ila arwaahi ’l-a`immati ’l-arba`ah wa ila arwaahi masyaayikhinaa fii ’th-thariiqati ’n-naqsybandiiyyati ’l-`aliyyah khaash-shatan ila ruuhi Imaami ’th-thariiqati wa ghawtsi ’l-khaliiqati Khwaajaa Bahaa’uddīn an-Naqsyband Muhammad al-Uwaysii ’l-Bukhaarii Wa ‘ilaa hadhrati Mawlaanaa Sulthaanil Awliya Syaykh ‘Abdullah Daghistaanii, Wa ‘ilaa Mawlaanaa Sayyidinaa Syaykh Muhammad Naazhim al-Haqqaani mu’ayyid-diin wa ilaa saa-iri saadaatinaa wash-shiddiqiina al-Faatiha

Ya Allah SWT! Sampaikanlah pahala dari apa yang telah kami baca dan cahaya yang telah kami peroleh, sebagai hadiah dari kami kepada roh Nabi Muhammad SAW dan kepada seluruh roh anbiya dan rasul dan para awliya, khususnya untuk roh Imam tarekat, Ghawts Utama dari seluruh makhluk, Khwaja Bahauddin Naqsyband Muhammad al-Uways al-Bukhari QS dan kepada guru dan mursyid kami yang mulia, Sultan Awliya Syekh `Abdullah Fa’iz ad Daghestani QS dan mursyid kami, junjungan kami, Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqani Muayyid-diin QS dan kepada semua guru kami dan para Shiddiqiin, Al-Faatihah

Syekh lalu melanjutkan dengan bagian yang dibaca dengan suara keras berikut ini:

Fa`lam annahu:
Laa ilaha illallaah (100 kali)
Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT

Sayyidinaa wa nabiyiinaa Muhammadun Rasuulullaah shall-Allaahu ta`aala `alayhi wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallam

Junjungan kita dan Nabi kita, Muhammad Rasulullah SAW semoga Allah SWT memuliakan dan mengagungkan beliau beserta seluruh keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Syekh kembali membaca dedikasi (Ihda)

Ila hadhratin-nabiyyi (SAW) wa alihi wa shahbihil kiraam wa ilaa arwaahi saa-iri saadaatinaa wash-shiddiqiina al-Faatiha

Ke hadirat junjungan kami Nabi SAW dan keluarganya dan kepada para sahabatnya yang terhormat dan kepada arwah guru-guru kami dan para Shiddiqiin…Al-Faatihah

Dzikir al-Jālāla:
Allāh, Allāh (100 kali)

Hasbun-Allaah wa ni`mal-wakīl, ni`mal-Mawlaa wa ni`man-Nashiir, laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’l-`Alīyyi ’l-`Azhiim.

Cukuplah Allah SWT sebagai Penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.

Huu, Huu…(33 kali)
Dia, Yang Maha Tidak Diketahui

Hasbun-Allaah wa ni`mal-wakīl, ni`mal-Mawlaa wa ni`man-Nashiir, laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’l-`Alīyyi ’l-`Azhiim.

Cukuplah Allah SWT sebagai Penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.

Haqq, Haqq… (33 kali)
Yang Maha Benar

Hasbun-Allaah wa ni`mal-wakīl, ni`mal-Mawlaa wa ni`man-Nashiir, laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’l-`Alīyyi ’l-`Azhiim.

Cukuplah Allah SWT sebagai Penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.

Hayy, Hayy… (33 kali)
Yang Maha Hidup

Hasbun-Allaah wa ni`mal-wakīl, ni`mal-Mawlaa wa ni`man-Nashiir, laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’l-`Alīyyi ’l-`Azhiim.

Cukuplah Allah SWT sebagai Penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.

Allaah Huu, Allaah Haqq… (10-12 kali)
Allah SWT adalah Dia, Yang Maha Tidak Diketahui, Allah SWT adalah Yang Maha Benar

Allaah Huu, Allaah Hayy… (10-12 kali)
Allah SWT adalah Dia, Yang Maha Tidak Diketahui, Allah SWT adalah Yang Maha Hidup

Allaah Hayy, Yaa Qayyuum… (10-12 kali)
Allah SWT adalah Yang Maha Hidup, Wahai Yang Berdiri Sendiri

Hasbun-Allaah wa ni`mal-wakīl, ni`mal-Mawlaa wa ni`man-Nashiir, laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’l-`Alīyyi ’l-`Azhiim.

Cukuplah Allah SWT sebagai Penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.

Yaa Huu, Yaa Huu, Yaa Daa-im… (3 kali)
Wahai Dia Yang Maha Tidak Diketahui, Wahai Yang Maha Kekal

Allaah Yaa Huu, Yaa Daa-im… (3 kali)
Allah SWT, Wahai Dia Yang Maha Tidak Diketahui, Wahai Yang Maha Kekal

Yaa Daa-im, Yaa Daa-im, Yaa Daa-im, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Kekal (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Haliim, Yaa Haliim, Yaa Haliim, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Penyantun (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Hafiizh, Yaa Hafiizh, Yaa Hafiizh, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Pemelihara (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Lathiif, Yaa Lathiif, Yaa Lathiif, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Lembut (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Mujiib, Yaa Mujiib, Yaa Mujiib, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Menjawab Doa (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Mu`iin, Yaa Mu`iin, Yaa Mu`iin, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Penolong (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Mu`iiz, Yaa Mu`iiz, Yaa Mu`iiz, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Membantu (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Mughits, Yaa Mughits, Yaa Mughits, Yaa Allaah …(2 kali)
Wahai Yang Maha Menyelamatkan (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Ghaffar, Yaa Ghaffar, Yaa Ghaffar, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Pengampun (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Sattar, Yaa Sattar, Yaa Sattar, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Menyembunyikan (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Jabbar, Yaa Jabbar, Yaa Jabbar, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Memaksa (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Qahhar, Yaa Qahhar, Yaa Qahhar, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Menguasai (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Kariim, Yaa Kariim, Yaa Kariim, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Mulia (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Rahiim, Yaa Rahiim, Yaa Rahiim, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Penyayang (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Samii`, Yaa Samii`, Yaa Samii`, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Mendengar (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Wahhab, Yaa Wahhab, Yaa Wahhab, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Pemberi (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Razzaq, Yaa Razzaq, Yaa Razzaq, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Memberi Rezeki (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Waduud, Yaa Waduud, Yaa Waduud, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Mencintai (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Rahmaan, Yaa Rahmaan, Yaa Rahmaan, Yaa Allaah …(2 kali)
Wahai Yang Maha Pengasih (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Hannaan, Yaa Hannaan, Yaa Hannaan, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Lembut (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Mannaan, Yaa Mannaan, Yaa Mannaan, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Mencukupi (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Dayyaan, Yaa Dayyaan, Yaa Dayyaan, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Memberi Pinjaman (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Subhan, Yaa Subhan, Yaa Subhan, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Suci (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Sulthaan, Yaa Sulthaan, Yaa Sulthaan, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Penguasa (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Amaan, Yaa Amaan, Yaa Amaan, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Yang Maha Pemberi Keamanan (3 kali), wahai Allah SWT

Yaa Allaah, Yaa Allaah, Yaa Allaah, Yaa Allaah … (2 kali)
Wahai Allah SWT (4 kali)

Syekh bisa saja menambah Nama-Nama Indah Allah SWT yang lain yang terinspirasi oleh beliau.

Hasbun-Allaah wa ni`mal-wakīl, ni`mal-Mawlaa wa ni`man-Nashiir, laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’l-`Alīyyi ’l-`Azhiim.

Cukuplah Allah SWT sebagai Penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.

Innalaaha wa malaa-ikatahu yushalluuna `alan-nabiyy, yaa ayyuhal ladziina aamanuu shalluu `alayhi wa sallimuu tasliimaa

Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya berselawat atas Nabi SAW. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah dan ucapkan salam penghormatan baginya. [QS 33:56]

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

Ya Allah SWT, limpahkanlah rahmat dan kedamaian bagi kunjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.

Shalli yaa rabbi wa sallim `alaa jamii`il anbiyaa-i wal mursaliina wa aali kullin ajma`iina wal hamdulillaahi rabbil `aalamiin

Ya Tuhanku! Berikan selawat dan kedamaian kepada para nabi dan rasul dan seluruh keluarganya. Dan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam

`alaa asyrafil `aalamiina sayyidinaa Muhammadinish-shalawat
Kepada makhluk yang paling mulia di alam semesta, Sayyidina Muhammad SAW (selawat)

`alaa afdhalil `aalamiina sayyidinaa Muhammadinish-shalawat
Kepada makhluk yang paling baik di alam semesta, Sayyidina Muhammad SAW (selawat)

`alaa akmalil `aalamiina sayyidinaa Muhammadinish-shalawat
Kepada makhluk yang paling sempurna di alam semesta, Sayyidina Muhammad SAW (selawat)

Shalaawaatullaahi ta`aalaa wa malaa-ikatihii wa anbiyaa-ihii wa Rusulihii, wa jamii`i khalkihii `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammad, alayhii wa `alayhimus-salaam wa rahmatullaahi ta`aalaa wa barakaatuh, wa radhiyallaahu tabaaraka wa ta`aalaa `an saadaatina ash-haabi Rasuulillaahi ajma`iin. Wa `anit-taabi`iina bihim bi ihsaan, wa `anil a-immatil mujtahidiinal maadhiin wa `anil `ulamaa-il muttaqiin, wa`anil awliyaa-i shaalihin, wa am-masyaayikhina fii thariqatin Naqsybandiyyatil `aliyyah Qaddas Allaahu ta`aalaa arwaahahumuz zakiiyah, wanawwarallaahu ta`aalaa adhrihatahumul mubaarakah, wa a`aadallaahu ta`aalaa `alaynaa min barakaatihim wa fuyuudhaatihim daa`iman wal hamdullilaahi rabbil `aalamiin, al-Faatihah

Selawat Allah SWT Yang Maha Tinggi dan para malaikat, para nabi dan rasul dan seluruh ciptaan-Nya, kepada Muhammad SAW dan kepada keluarga Muhammad SAW, semoga kedamaian dan rahmat Allah SWT serta berkah-Nya diberikan kepadanya dan kepada mereka. Semoga Allah SWT Yang Maha Besar dan Maha Tinggi rida dengan semua guru kami, para sahabat Rasulullah SAW dan kepada mereka semua yang mengikutinya dengan sempurna. (Semoga Allah SWT rida) terhadap Imam ijtihad yang terdahulu, para ulama dan orang-orang yang bertakwa dan awliya dan orang-orang yang saleh, terhadap masyaikh kami di Tarekat Naqsybandi yang mulia. Semoga Allah SWT mensucikan roh-roh mereka yang suci dan menerangi makam mereka yang penuh berkah. Semoga Allah SWT mengembalikan berkah mereka dan keutamaan yang melimpah kepada kami, selalu. Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, Al-Faatihah

Ihda:
Ila hadhratin Nabiyyi (SAW) wa ‘aalihi wa shahbihil kiram, wa ilaa arwaahi ikhwaanihi minal-anbiyaa’i wal mursaliin wa khudamaa-i syaraa-ihim wa ilaa arwaahil a-immatil arba`ah wa ilaa arwaahi masyaayikhinaa fii thariiqatin Naqsybandiyyatil ‘Aliyyah, khaassatan ila ruuhi imamith-thariqati wa Ghawtsil khaliiqati Khwaajaa Bahaauddiin Naqsyband Muhammad al-Uwaysiyil Bukhaari, Wa ‘ilaa hadhrati Mawlaanaa Sulthaanil Awliya Syaykh ‘Abdullah Daghistaanii, wa Mawlaanaa Syaykh Muhammad Naazhim al-Haqqaani wa ilaa saa-iri saadaatinaa wash-shiddiqiina al-Faatiha

Ke hadirat junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, dan kepada para sahabatnya yang terhormat. Dan kepada arwah para nabi dan rasul dan kepada arwah imam yang empat dan kepada arwah masyaikh kami dalam Tarekat Naqsybandi yang mulia, khususnya kepada roh imam tarekat, ghawts utama dari seluruh makhluk Khwaja Bahauddin Naqsyband Muhammad al-Uways al-Bukhari QS dan kepada Mursyid kami Sultan awliya, Syekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Mursyid kami Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS dan semua guru kami dan para shiddiqiin, al-Faatiha.

Subhana rabiyyal `aliyyil a`lal wahhab
Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi, Utama dan Maha Pemberi.

Kemudian Syekh membaca doa sesuai inspirasi dalam kalbunya, seperti doa berikut yang biasa dibaca oleh Syekh Hisyam al-Qabbani QS

A’udzubillahi minasy syaythaanir rajiim.
Aku berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk.

Bismillahi rahmaanir rahiim.
Dengan nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Alhamdulillaahi rabbil `aalamiin
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan sekalian alam.

Wash-shallatu was-salaamu `alaa asyrafil mursaliina sayyidinaa Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin

Selawat dan salam untuk Rasul yang paling mulia, junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya yang mulia.

Allaahummaj`al awwala majlisinaa hadzaa shalaahan wa aw sathahu falaahan wa akhirahu najaahan

Wahai Allah SWT, jadikanlah permulaan majelis kami ini kebaikan dan pertengahannya kejayaan dan penghabisannya kesuksesan.

Allaahummaj`al awwalahu rahmatan wa aw sathahu ni`matan wa akhirahu takriimatan wa maghfirah

Wahai Allah SWT, jadikanlah permulaannya rahmat dan pertengahannya nikmat dan penghabisannya kemuliaan dan ampunan.

Alhamdulillaahil-ladzii tawaadha`a kullu syay-in li`adhamatih wa dzalu kullu syay-in li `izzatih wa khada`a kullu syay-in li mulkih wastaslama kullu syay-in li qudratih

Segala puji milik Allah SWT dan segala sesuatu menjadi rendah di hadapan keagungan-Nya dan segala sesuatu menjadi hina di hadapan kemuliaan-Nya dan segala sesuatu menjadi tunduk di hadapan kekuasaan-Nya dan segala sesuatu berserah atas ketentuan-Nya.

Alhamdulillaahil-ladzii sakana kullu syay-in lihaybatih wa ath-tharra kullu syay-in lihikmatih wa tashaaghara kullu syay-in likibriyaa-ih

Segala puji untuk Allah SWT, dan segala sesuatu menjadi mantap dengan kehebatan-Nya dan segala sesuatu terlahir dengan hikmah-Nya dan segala sesuatu menjadi kecil di hadapan kebesaran-Nya.

Allaahumma inkunnaa fii hablisaa `ati ilayka yaa waduud

Ya Allah SWT, bangunkanlan kami di saat-saat yang paling Engkau sukai, wahai Yang Maha Pencinta.

Rabbana taqabbal minna waghfirlanaa warhamnaa innaka antal ghafuurur-rahiim

Ya Tuhan kami, terimalah amal perbuatan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Wahdinaa ilal haqqi wa ilaa thariiqim mustaqiim
Bimbinglah kami menuju kebenaran, dalam jalan yang lurus.

Wanshurnaa `alal qawmil mufsidiin
Tolong kami dalam menghadapi kaum perusak

Wanshur imaamanaa imaamal muslimiin
Tolong para pemimpin kami, pemimpin kaum muslimin.

Wanshur awliyaa Allah, innaka `alaa kulli syay-in qadiir wabil ijaabati jadiir

Tolong pula para awliya Allah SWT, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Mampu untuk menjawab segala doa.

Subhana rabbika rabbil `izzati `amma yashifuun was-salaamun `alal mursaliina wal hamdulillahi rabbil `aalamin.

Maha Suci Engkau, Tuhan yang suci dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir. Semoga kedamaian tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Alhamdulillaah, wasy-syukrulillaah, astaghfirulaah
Segala puji bagi Allah SWT, Syukur kepada Allah SWT, aku mohon ampun kepada Allah SWT

Sumber:
The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions
by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 2004, Islamic Supreme Council of America





>Khatm Khwajagan Pendek

21 01 2011

>Khatm yang pendek hampir sama dengan Khatm yang panjang, kecuali bahwa khatm ini dilakukan dengan suara keras secara keseluruhan, dan mempunyai beberapa perbedaan dalam mengulangi beberapa kalimat zikir.

????????? ????????????? … (7 �)
Faatiha yang Mulia
Surat al-Faatiha (7 kali)

????????? ??????????
?????????? ????? ????? ????????? ?? ????? ?? ?????????? ?? ???????… (10 � )
Shalawatusy-Syariifah
Allaahumma shalli �alaa Muhammadin wa �alaa aali Muhammadin wa sallim

Selawat yang Mulia
Ya Allah ?, limpahkanlah rahmat dan kedamaian bagi kunjungan kami Nabi Muhammad ? beserta keluarganya.

… (7 � ) ?????? ???????? ???? ??????????
Alam Nasyrah Lakasy-Syariif
Surat Al-Insyrah (7 kali)
??????????? ????????????? … (11 �)?
Al-Ikhlashusy-Syariif
Surat al-Ikhlash (11 kali)

????????? ????????????? … (7 �)
Faatiha yang Mulia
Surat al-Faatiha (7 kali)
????????? ??????????
?????????? ????? ????? ????????? ?? ????? ?? ?????????? ?? ???????… (10 � )
Shalawatusy-Syariifah
Allaahumma shalli �alaa Muhammadin wa �alaa aali Muhammadin wa sallim (10 kali)
Selawat yang Mulia
Ya Allah ?, limpahkanlah rahmat dan kedamaian bagi kunjungan kami Nabi Muhammad ? beserta keluarganya.

Bagian Khatm berikutnya identik dengan Khatm panjang, dimulai dari ketika syaikh menunjuk seseorang untuk membaca al-Quran Surat 12:101.





>Sejarah Zikir Khatm Khwajagan

21 01 2011

>Syaikh Nazhim al-Haqqani ? berkata, �Allah ??berkata pada Nabi ? pada malam Mi�raj, �Ya Muhammad ?, telah Ku-ciptakan seluruh makhluk demi dirimu, dan Aku berikan semua itu padamu.� Pada saat itu, Allah ??mengaruniakan pada Nabi ? kekuatan untuk melihat semua yang telah Ia ciptakan, dengan semua cahaya dan nur mereka, dan semua kenikmatan yang telah Allah ??karuniakan pada makhluk-Nya dengan menghiasi mereka dengan Atribut-Atribut-Nya dan dengan Cinta dan Keindahan Ilahiah-Nya.

Muhammad ? terkesima dan terpesona karena Allah ??telah memberi beliau suatu hadiah berupa makhluk-makhluk seperti itu. Allah ??berfirman kepada beliau, �Ya Muhammad ?, apakah kau bahagia dengan ciptaan-ciptaan-Ku ini?� Beliau menjawab, �Ya, wahai Tuhanku,� Ia berfirman, �Kuberikan mereka kepadamu sebagai amanah untuk kau jaga, agar kau bertanggung jawab atasnya, dan untuk mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan seperti saat mereka Kuberikan padamu.� Muhammad ? memandang pada mereka dengan penuh kegembiraan karena mereka begitu berkemilau dengan cahaya-cahaya yang indah, dan beliau berkata, �Wahai Tuhanku, aku terima.� Allah ??berfirman, �Apakah kau terima?� Beliau menjawab, �Kuterima, kuterima.� Dan begitu beliau selesai menjawab untuk ketiga kalinya, Allah ? mengaruniakan beliau suatu kasyf (visi) akan dosa-dosa dan berbagai bentuk kesengsaraan, kegelapan, dan kejahilan di mana mereka akan terjatuh ke dalamnya.

�Saat Muhammad ? melihat hal ini, beliau kaget dan cemas, berpikir bagaimana beliau akan dapat mengembalikan mereka kepada Tuhannya dalam keadaan suci seperti keadaan awalnya. Beliau berkata, �Wahai Tuhanku, apa ini?� Allah ??menjawab, �Wahai kekasih-Ku, inilah tanggung jawabmu. Engkau harus mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan suci seperti ketika Aku berikan mereka padamu.� Kemudian Muhammad ? berkata, �Wahai Tuhanku, berikan padaku penolong-penolong untuk membantuku membersihkan mereka, untuk mensucikan roh mereka, dan untuk membawa mereka dari kegelapan dan kejahilan menuju maqam pengetahuan, kesalihan, kedamaian, dan cinta.��

�Allah ??kemudian mengaruniakan pada beliau suatu pemandangan (kasyf) di mana Ia memberitahukan pada beliau bahwa di antara seluruh ciptaan itu, Ia telah memilih bagi beliau 7.007 Wali Naqsybandi. Ia berfirman, �Wahai kekasih-Ku, Ya Muhammad, wali-wali ini adalah termasuk wali-wali istimewa yang telah Ku-ciptakan untuk menolongmu menjaga agar ciptaan ini tetap suci. Di antara mereka, terdapat 313 yang memiliki tingkatan tertinggi, maqam paling sempurna di Hadirat Ilahiah. Mereka adalah pewaris rahasia dari 313 rasul-rasul. Kemudian Ku-berikan padamu empat puluh, yang membawa kekuatan yang paling istimewa, dan mereka adalah tonggak-tonggak dari seluruh wali. Mereka akan menjadi guru dan syaikh besar di masa-masa mereka, dan mereka akan menjadi para pewaris dari Rahasia Haqiqat.��

��Di tangan para wali inilah, setiap orang akan disembuhkan dari luka-lukanya, baik luka luar maupun luka dalam. Wali-wali ini akan mampu membawa seluruh umat dan seluruh makhluk ciptaan tanpa ada tanda-tanda kelelahan. Setiap orang di antara mereka adalah Ghawts (Pemberi Syafa�at Tertinggi) di zamannya, yang di bawahnya ada lima orang Qutub (Kutub Spiritual).��

�Nabi ? begitu bahagia dan beliau berkata, �Wahai Tuhanku, berikan lagi bagiku!� Kemudian Allah ??pun menunjukkan padanya 124.000 wali, dan Ia berfirman, �Wali-wali ini adalah pewaris dari 124.000 nabi. Seorang wali adalah seorang pewaris dari seorang nabi. Mereka pun akan di sana membantumu membersihkan umat ini.��

�Ketika Nabi ? sedang naik ke Hadirat Ilahiah, Allah ??membuat beliau untuk mendengar suara seorang manusia. Suara itu adalah suara dari seorang teman dan sahabat terdekatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq ?. Nabi ? diperintahkan oleh Allah ??untuk memerintahkan Abu Bakar ash-Shiddiq ??untuk memanggil seluruh wali-wali Naqsybandi: yang 40, yang 313, dan yang 7.007, beserta seluruh pengikut dan murid mereka, dalam bentuk spiritual (roh) mereka, ke Hadirat Ilahiah. Semuanya untuk menerima Cahaya dan Barakahyang istimewa itu.�

�Kemudian Allah ??memerintahkan Nabi ?, yang kemudian memerintahkan Abu Bakar ?, untuk memanggil 124.000 wali dari 40 tarekat lainnya beserta murid-murid mereka untuk diberikan Cahaya di Hadirat Ilahiah. Seluruh syaikh mulai muncul di perkumpulan itu beserta seluruh murid mereka. Allah ??kemudian menyuruh Nabi ? untuk melihat mereka dengan kekuatan dan cahaya Kenabiannya, dan untuk mengangkat mereka semua ke Maqam Shiddiqin, Yang Terpercaya dan Yang Benar. Kemudian Allah ??berfirman kepada Nabi ?, dan Nabi ? pun berkata kepada para wali, �Kalian semua dan seluruh pengikut kalian akan menjadi bintang- gemintang yang berkilauan di antara manusia, untuk menyebarkan cahaya yang telah kuberikan pada kalian di pra-keabadian ke seluruh manusia di permukaan bumi.��

Mawlana Syaikh Nazhim ? berkata, �Itu semua hanyalah satu di antara rahasia-rahasia yang telah dibuka tentang Malam Mi�raj kepada kalbu para wali melalui periwayatan (transmisi) dari Sanad Emas Tarekat Naqsybandi.� Lebih banyak lagi kasyf yang diberikan kepada Nabi ?, tetapi tidak ada izin untuk membukanya.�

Malam itu, Nabi ? diperintah Allah ??untuk melakukan 50 salat dalam sehari. Beliau meringkasnya menjadi lima kali salat dalam sehari atas nasihat Nabi Musa ?. Beliau kembali dari Malam Isra� Mi�raj, dan orang pertama yang mempercayai beliau adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ?. Orang-orang kafir, sambil berharap untuk mempermainkan beliau, menanyakan pada beliau untuk melukiskan Yerusalem. Beliau melukiskannya dengan seluruh detailnya, dan orang-orang kafir dipermalukan.

Siksaan atas Nabi ? dan sahabat-sahabat beliau semakin meningkat. Kemudian Allah ??mengirimkan pada beliau, kaum Ansar (Penolong) dari Madinah. Islam telah mulai tersebar pada suku-suku dari oasis kecil ini yang terletak tak jauh dari Makkah. Allah ??memberikan izin-Nya bagi kaum Mukmin untuk berhijrah ke Madinah, rumah dari kaum Ansar. Abu Bakar ? menginginkan untuk berhijrah, tetapi Muhammad ??berkata padanya, �Jangan pergi dulu, tunggulah, dan mungkin kau akan berhijrah bersamaku. Ada suatu kejadian amat penting yang mesti terjadi.�

Nabi ? meninggalkan Makkah di malam hari bersama Abu Bakar ?, dan meninggalkan di belakang beliau �Ali ? untuk berpura-pura berperan sebagai beliau di tempat tidur beliau. Di perjalanan, beliau berhenti untuk bersembunyi di Gua Tsaur. Abu Bakar ? berkata, �Wahai Nabi ?, jangan masuk, aku akan masuk lebih dahulu.� Dalam hatinya, Abu Bakar ??berpikir bahwa mungkin akan ada sesuatu yang berbahaya di dalam dan ia memilih untuk menghadapinya lebih dulu. Abu Bakar ??menemukan sebuah lubang di dalam gua itu. Abu Bakar ??memanggil Nabi ? untuk masuk ke dalam, dan ia sendiri menaruh telapak kakinya di atas lubang itu, menutupinya. Nabi ? masuk dan menaruh kepala sucinya di pangkuan paha Abu Bakar ?. Seekor ular di dalam lubang tadi mulai menggigit kaki Abu Bakar ?. Abu Bakar ??mencoba sekuat tenaga untuk tidak bergerak, sekalipun ia dalam kesakitan yang amat sangat. Air mata mulai menetes dari matanya, dan mengalir melalui pipinya. Setetes air mata itu terjatuh mengenai wajah suci Nabi ?. Saat inilah, sebagaimana disitir dalam Quran, �Ia berkata pada sahabatnya, �Jangan bersedih; sungguh Allah ??beserta kita.�� [9:40]. Abu Bakar ??berkata pada Nabi ?, �Wahai Nabi Allah ?, aku tidak bersedih, tetapi aku dalam kesakitan. Seekor ular tengah menggigit kakiku dan aku khawatir ia akan menggigitmu. Aku menangis karena hatiku terbakar demi dirimu dan demi keselamatanmu.� Nabi ? begitu bahagia dengan jawaban sahabat terkasihnya ini hingga beliau memeluk Abu Bakar ash-Shiddiq ?, menaruh telapak tangan beliau di kalbu Abu Bakar ??dan menuangkan pengetahuan yang telah Allah ??karuniakan pada beliau, ke dalam kalbu Abu Bakar ash-Shiddiq ?. Karena itulah beliau bersabda dalam sebuah hadis, �Apa pun yang telah Allah ??tuangkan dalam kalbuku, aku tuangkan ke dalam kalbu Abu Bakr.�

Grandsyaikh kita Muhammad Nazhim al-Haqqani ? berkata, �Selanjutnya Nabi ? menaruh tangan beliau yang lain ke kaki Abu Bakar ash-Shiddiq ??dan membaca, Bismillahir-Rahman ir-Rahim, dan kaki Abu Bakar ??pun segera sembuh. Kemudian beliau memerintahkan sang ular untuk keluar, dan ular itu pun keluar, menggulung dirinya di depan Nabi ?. Kemudian Nabi ? bersabda kepada ular tersebut, �Tak tahukah engkau bahwa daging seorang Shiddiq diharamkan bagimu? Mengapa engkau memakan daging Sahabatku?� Ular itu menjawab kepada Nabi ? dalam bahasa Arab yang murni dan sempurna, �Wahai Nabi Allah ?, tidakkah semua ciptaan diciptakan demi dirimu dan demi cintamu? Wahai Nabi ?, aku pun mencintaimu. Saat kudengar bahwa Allah ??berfirman bahwa umat terbaik adalah umatmu, aku pun memohon pada-Nya untuk memperpanjang umurku dan mengaruniakan padaku kehormatan untuk dapat tergolong sebagai umatmu dan untuk dapat melihat wajah sucimu. Dan Allah ? mengabulkan harapanku dan kehormatan itu bagiku. Ketika Abu Bakar ??menaruh kakinya di lubang itu, kakinya menghalangi pandanganku. Aku ingin agar ia memindahkan kakinya agar aku dapat melihat dirimu. �Nabi ? bersabda, �Pandanglah diriku sekarang dan penuhi harapanmu.� Ular itu memandang dan memandang; setelah beberapa saat, ia mati. Nabi ? memerintahkan Jinn untuk membawa ular itu pergi dan menguburkannya.�

Mawlana Syaikh Nazhim ? berkata, �Hal-hal ini adalah rahasia-rahasia yang telah diberikan kepada kalbu-kalbu para Wali Naqsybandi.� Beliau melanjutkan ceritanya sebagai berikut, �Kemudian Nabi ? bersabda kepada Abu Bakar ?, �Sebenarnya tak ada keperluan apa pun untuk berhenti di gua ini, kecuali suatu peristiwa yang penting akan terjadi di sini. Suatu Cahaya dari akar suatu Pohon Spiritual yang akan menyebar ke seluruh umat manusia, suatu Cahaya yang datang langsung dari Hadirat Ilahiah, akan muncul di sini. Allah ??telah memerintahkan padaku untuk menyampaikannya padamu dan ke seluruh pengikut Tasawuf Naqsybandi.��

�Jalur transmisi ini tidaklah disebut sebagai Naqsybandi saat itu, tetapi dikenal sebagai anak-anak dari Abu Bakar ash-Shiddiq ?, dan beliau (Abu Bakar ?) dikenal oleh para wali sebagai �Bapak� dari jalur sanad ini.�

�Kemudian Allah ??memerintahkan Nabi ? untuk menyuruh Abu Bakar Ash-Shiddiq ??untuk memanggil seluruh syaikh (guru) dari Sanad Emas yang merupakan pewaris dari Abu Bakar ?. Abu Bakar ??memanggil para grandsyaikh dari Sanad Emas, seluruh dari mereka, dari zamannya hingga ke zaman Al-Mahdi ?. Mereka semua dipanggil lewat roh-roh mereka dari Alam Arwah. Kemudian Abu Bakar ??diperintahkan pula untuk memanggil 7.007 Wali Naqsybandi. Kemudian Nabi ? memanggil 124.000 nabi-nabi. �

�Abu Bakar ash-Shiddiq ?, dengan perintah Nabi ?, memerintahkan setiap grandsyaikh untuk mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk hadir secara spiritual. Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq ? memerintahkan seluruh syaikh untuk mengambil tangan para pengikut mereka untuk menerima bay�at (inisiasi). Abu Bakar ??menaruh tangannya di atas mereka semua, dan kemudian Muhammad ? menaruh tangan beliau di atas mereka semua, dan kemudian Allah ??meletakkan Tangan-Nya, Tangan Kekuasaan (Qudrat), di atas mereka semua. Dan Allah ?, oleh Diri-Nya Sendiri-lah, menaruh di lidah setiap orang yang hadir bacaan zikir-Nya (talqin az-dzikr), dan Ia memerintahkan Nabi ? untuk menyuruh Abu Bakar ash-Shiddiq ??untuk memerintahkan semua wali yang hadir bersama pengikut-pengikut (murid) mereka untuk melafazkan apa yang mereka dengar dari Suara Qudrati:

ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ

�Semua mereka yang hadir mengikuti syaikh mereka dan para syaikh itu mengikuti apa yang mereka dengar dari Nabi ? yang juga melafazkan. Kemudian Allah ??mengajarkan rahasia dari zikir, yang dikenal sebagai Khatm-il-Khwajagan, kepada �Abdul Khaliqal-Ghujdawani ?, yang memimpin zikir pertama di antara para wali dari tarekat ini. Nabi ? mengumumkan kepada Abu Bakar ?, yang kemudian mengumumkannya ke seluruh wali, bahwa Abdul Khaliq al-Ghujdawani ? adalah pemimpin dari Khatm-il-Khwajagan. Setiap orang mendapat kehormatan untuk menerima rahasia dan cahaya itu dari Khwaja Abdul Khaliq al-Ghujdawani ?, di hadirat para wali, di hadirat AbuBakar ash-Shiddiq ?, di hadirat Nabi ?, dalam Hadirat Allah ?.�

Mawlana Syaikh Nazhim ? berkata, �Siapa pun yang menerima bay�at (inisiasi) dari kami atau menghadiri Majelis Zikir kami mesti mengetahui bahwa dirinya telah hadir di gua tersebut di saat barakah itu, di Hadirat Nabi ?, dan bahwa ia telah menerima semua rahasia-rahasia ini kemudian. Rahasia-rahasia ini telah disampaikan kepada kami melalui para syaikh dari Sanad Emas, melalui Abu Bakar ash-Shiddiq ?.�

Abu Bakar ash-Shiddiq ?, teramat bahagia dan gembira dengan apa yang terjadi di dalam gua itu, dan beliau kini mengerti mengapa Nabi ? telah memilihnya untuk menjadi teman dalam hijrah beliau. Para Syaikh Naqsybandi menganggap kejadian-kejadian dalam gua tadi sebagai fondasi dari tarekat. Tidak hanya sebagai sumber dari wirid harian, tetapi juga karena roh-roh dari seluruh anggota tarekat ini telah hadir bersama di saat itu.

Setelah kejadian di gua tadi, mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah al-Munawwarah. Saat mereka mencapai Quba, suatu desa di dekat Madinah, di hari Senin di bulan Rabi�ul Awwal, mereka berhenti untuk beberapa hari. Di sana Nabi ? membangun masjid pertamanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka di hari Jumat, setelah mendirikan Salat Jumat di Quba. Itu adalah Jama�ah Jumat pertama yang beliau dirikan. Beliau memasuki Madinah bersama sahabat beliau, di tengah-tengah teriakan takbir (ALLAHU AKBAR) dan tahmid (AL-HAMDU LILLAH) dan kegembiraan serta kebahagiaan yang meluap dari setiap orang yang hadir. Beliau bergerak ke arah mana unta beliau akhirnya berhenti, dan di sanalah kemudian beliau membangun masjid beliau dan rumah beliau. Beliau tinggal sebagai seorang tamu di rumah Abu Ayyub Al-Ansari sampai masjid beliau terbangun.

Saat Nabi ? datang ke Madinah, Madinah sedang dipenuhi berbagai wabah. Begitu beliau tiba, seluruh wabah penyakit itu lenyap.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.