>IKHLAS adalah Energi Niat Terkultivasi

17 11 2010

>

Oleh itu maka sembahlah kamu akan Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya (dan menjauhi bawaan syirik), sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai (amalan yang demikian). ( Ayat 14 : Surah al-Mu’min )

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh berlaku adil (pada segala perkara), dan (menyuruh supaya kamu) hadapkan muka (dan hati) kamu (kepada Allah) dengan betul pada tiap-tiap kali mengerjakan sembahyang, dan beribadatlah dengan mengikhlaskan amal agama kepada-Nya semata-mata; (kerana) sebagaimana Ia telah menjadikan kamu pada mulanya, (demikian pula) kamu akan kembali (kepada-Nya)”. ( Ayat 29 : Surah al-A’raaf )

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

IKHLAS adalah Niat Yang telah Dimurnikan (terkultivasi)
Ikhlas adalah parameter tersuci dari kualitas sebuah niat atau motivasi yg melandasi suatu perbuatan. Niat adalah buah dari hasrat & keinginan. Hasrat adalah buah dari gerak nafsu. Ikhlas hanya bisa terjadi jika nafsu kita suci & bersih dari segala kotoran (NAFSUL MUTHMAINNAH).

Niat adalah tumbuh dari gerak dan bisikian hati dan Nafsu, sedangkan Nafsu itu bertingkat derajatnya. Bila seseorang dikuasai oleh kondisi Nafsul Ammarah, maka pola fikir dan gerak hatinya akan selalu mengajak kepada keburukan. Sehingga motivasi yang melandasi Niatnya di dalam setiap perbuatan tidaklah mungkin didasari oleh keihlasan hati. Pasti ada sebuah motif tersembunyi (PAMRIH) dari setiap langkah dan perbuatannya.
Oleh karena itu agar Kondisi Ikhlas ini tumbuh di dalam hati, maka kita harus memurnikan kondisi Nafsu kita. Nafsu yang telah dimurnikan akan naik derajatnya dalam maqom Nafsul Muthmainnah.

Pemurnian diri dan Olah spiritual oleh manusia adalah sekedar langkah untuk menjolok turunnya karunia Hidayah (Nurun ‘Ala Nuurin) dari Allah. Yang menerangi langkahnya sehingga memperoleh keselamatan & kebahagiaan dunia akhirat.

Metode Kultivasi (Pemurnian diri Dzahir Bathin)

Karena Ikhlas bersumber dari gerak Nafsu dan hati, maka majelis N-AQS dalam berupaya untuk memperoleh maqom Ikhlas langsung beroperasi dan menata pada sumbernya langsung yaitu membersihkan hati dan mengevolusikan spiritualitas manusia. Sehinnga bisa diperoleh derajat spiritual yang murni dan bersih (Nafsul Muthmainnah).

Pencerahan Ruhaniyyah hanya didapatkan dengan evolusi spiritual, yaitu peningkatan spiritualitas dari maqom kehidupan yang berorientasi jasmaniah menuju kehidupan yang berorientasi Ruhaniyah. Hal ini dimaksudkan untuk perluasan kesadaran menuju kesadaran yang lebih tinggi dari sekedar kesadaran sebagai makhluk fisik.

Sibghatullah (Celupan Allah)

Manusia biasa (Yang belum berlatih metode kultivasi) dalam kondisi biasa tidak akan mungkin dapat memunculkan kondisi ikhlas ini di dalam hatinya. Kecuali dengan adanya hidayah dari Allah yang berupa celupan Ilahi (Sibghatullah).

Firman Allah dalam QS. Al Baqoroh, ayat 138 :

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.

Wa man ahsanu minallahi sibghah artinya, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada celupan Allah. Namun karena ini bersifat celupan, maka kondisi yang terjadi adalah bersifat sesa’at saja (ahwal), dan tidak bersifat permanen (maqom). Sehingga suatu sa’at seseorang itu karena karunia Allah sehingga timbul kesadaran bathinnya dan bisa berlaku ikhlas di dalam segala perbuatannya. Namun karena Nafsunya belum sepenuhnya dimurnikan, maka di lain sa’at dia akan kembali pada kondisinya yang telah lampau. Inilah yang di sebut Maqom Nafsul Lawwamah, maqom Nafsu yang masih belum tetap kedudukannya.

Oleh Karena itu agar kondisi ini bisa menetap, maka dia harus secara serius berjuang (mujahadah) untuk memurnikan dirinya. Hal inilah yang ditempuh oleh Anggota Majelis N-AQS, yaitu bersama-sama melangkah berjuang untuk memurnikan keruhaniannya. Demi mencapai Ridlo Allah SWT. Ilahi Anta Maqsudi Wa Ridloka Mathlubi.

Di dalam Surat Al Baqarah ayat 208-209, Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Islam Kaffah artinya berislam secara lahir batin di dalam segala aspeknya, yang meliputi Syari’at, Thariqoh, Hakikat, & Makrifat.

Orang yang telah bersyahadad, yang telah menetapkan hatinya bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, akan selalu setia untuk mewarnai seluruh kehidupannya dengan warna Islam.

Tidak hanya shalatya, puasanya, namun semuanya. Hidupnya, matinya, seluruh jiwa raganya, seluruh aktifitasnya, hanya untuk keridhaan Allah, dan semuanya dilakukan dengan suasana imani, suasana tauhid, yang citranya akan menimbulkan cinta, persahabatan, kedamaian, dan keindahan.

Sesunguhnya, seorang muslim itu adalah orang yang mempunyai pegangan yang kuat, kokoh. Dia adalah orang yang mempunyai prinsip dan pendirian, yang tidak mudah pudar, yang akan menjaga dan menuntunnya ke arah kebajikan, keselamatan & kebahagiaan Dunia Akhirat.

Maka dikatakan, jika kita berserah diri kepada Allah SWT, lantas kita beraktifitas positif, berbuat kebajikan, maka sesungguhnya kita telah berpegang pada buhul (tali wasilah / Nurun ‘Ala Nuurin) yang kuat, bahwa sebenarnya kita sedang dalam jalan yang benar.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22)

Energi Quantum Ikhlas

1. Berkahnya Amal, Ikhlas menjadi Faktor kali yang melipatgandakan nilai dari sebuah amal.

Sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut.

Abdullah bin Mubarak berkata :

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat”.

Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda :

“Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata : demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya” (HR Muslim).

Lihatlah saudaraku, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya.

Dalam hadits lain Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda :

“Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya ” (HR Bukhari Muslim). 

Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ?.

Dan sebaliknya, wahai saudaraku, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya.

Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili , dia berkata : seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya : wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain, maka Rasulullah pun menjawab : Dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab : Dia tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian beliau berkata : Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya” (Hadits Shohih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.

2. Benteng dan Perisai Diri dari serangan Energi Negatif dari Luar Diri

Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya :

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka” (Shod : 82-83).

Banyak orang yang mencari solusi untuk persoalan perisai diri ini. Bahkan terkadang menghabiskan biaya yang tidak kecil, ribuan hingga ratusan juta rupiah. Padahal seandainya mereka mau mengolah Qalbu mereka agar senantiasa menghadap kepada Allah, serta mensucikan qalbunya dari segala noda. Dengan jalan senantiasa berdzikrullah, maka kejernihan hati dan keikhlasan ini akan tumbuh di dalam hatinya. Sehingga secara otomatis segala energi jahat tak akan ada yang bisa menempel padanya.

Energi Jahat adalah balatentara iblis dan syetan, mereka hanya bisa mengganggu kita bila kondisi batiniah kita juga kotor. Bagaikan lalat yang hinggap di atas kotoran. Namun bila bathin kita bersih, maka kotoranpun akan enggan menempel ke dalam bathin kita. Apalagi bila sering-sering dibersihkan dengan Dzikir.

3. Benteng dan Perisai Diri dari serangan Energi Negatif Yang Tumbuh Dari Kelemahan Diri

Orang yang ikhlas akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya

“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. ” ( Yusuf : 24).

Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai saudaraku, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka instropeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini,.

Semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.
Amin ya Robbal alamin.

MAJELIS CAHAYA QALBU SIRRULLAH


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: