>MELURUSKAN KISAH NABI IBRAHIM

9 01 2011

>Oleh: Alvian Iqbal Zahasfan

Pekan lalu, Islam Digest di Republika edisi Ahad, 12 April 2009, mengangkat tema Namrud. Di dalamnya, diceritakan tentang seorang raja cerdas yang lalim. Sebagaimana diketahui bahwa Raja Namrud bin Kan’an bin Kusy bin Sam bin Nuh adalah Raja Babilonia (2275-1943 SM) yang hidup semasa dengan Nabi Ibrahim.

Dalam kolom tersebut juga diceritakan sepak terjang Nabi Ibrahim ketika menghadapi orang tua dan kaumnya, termasuk Raja Namrud yang musyrik. Sangat menarik untuk dibaca guna menambah wawasan. Namun sayang, menurut hemat penulis ada uraian tentang Nabi Ibrahim yang sangat berbahaya bagi kelestarian akidah umat Islam dan karenanya mendesak untuk diluruskan.

Bahwa sebagaimana dikisahkan dalam Alquran, Ibrahim AS telah melakukan pencarian siapa Tuhan sebenarnya. Saat menyaksikan bintang, Ibrahim mengira itulah tuhannya. Demikian pula saat melihat bulan pada malam hari dan matahari di siang hari, Ibrahim mengira itulah tuhannya. Namun, ketika pada waktu-waktu tertentu, bintang, bulan, dan matahari itu tenggelam, Ibrahim mengeluh dan mencari Tuhan yang menciptakan bintang, bulan, dan matahari, yakni Allah SWT. Dan, ia percaya, tidak ada tuhan selain Allah yang menciptakan langit dan bumi .

Asumsi yang perlu diluruskan di sini adalah–sebagaimana beredar di kalangan awam bahkan intelektual–kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Asumsi ini menggambarkan bahwa Nabi Ibrahim beriman dengan cara berpikir terlebih dahulu; siapa yang berhak untuk dijadikan sebagai Tuhannya. Hal ini menyatakan bahwa ia pernah ateis (tidak bertuhan/kebingungan mencari Tuhan) atau musyrik karena mengikrarkan ketuhanan bintang, bulan, dan matahari.

Pada kenyataannya, sesungguhnya kisah Nabi Ibrahim bukanlah seperti asumsi yang beredar selama ini bahwa Nabi Ibrahim adalah Bapak Monoteisme pertama karena petualangannya mencari Tuhan. Oleh karena itu, laik untuk dicermati dan disimak arti QS Al-An’am ayat 75-80 sebagai berikut: Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin (75) Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ”Inilah Tuhanku”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

(76) Lalu, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku.” Tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, ”Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (77) Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku, ini lebih besar.”

Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan.” (78) Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (79) Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, ”Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran? (80)

Pada terjemahan ayat Alquran tersebut di atas yang perlu digarisbawahi adalah kalimat ”Inilah Tuhanku ( Hadza Rabbi )”. Dari kalimat itulah bersumber kesalapahaman di tengah umat. Padahal, makna hadza rabbi (inilah Tuhanku) bukan bermakna ikhbar (pernyataan), tetapi bermakna istifham ingkari/istifham taubikhi (pertanyaan untuk mengingkari).

Jadi, makna kalimat ”inilah Tuhanku” semestinya diartikan dan ditulis dengan ”inikah Tuhanku?”. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Imam Abu Hayyan al-Andalusi (W. 745 H/ 1345 M), ia berkata dalam tafsirnya An-Nahrul Mad : ”Perkataan Nabi Ibrahim, hadza rabbi , bukanlah pernyataan keyakinan bahwa bintang (zahrah/venus), bulan dan matahari adalah Tuhannya. Hal ini diibaratkan seperti ketika Anda melihat orang lemah yang tak mampu berdiri, lalu anda mengatakan hadza nashiri (inikah penolongku?)”.

Perkara kedua yang perlu digarisbawahi adalah bahwa semua nabi termasuk Ibrahim terpelihara atau dijaga oleh Allah dari kekufuran, syirik, serta melakukan dosa besar dan dosa kecil yang menghinakan. Maka, mustahil bagi seorang penyampai dakwah rabaniah dan pembawa misi ilahiah tidak mengenal Tuhan yang ia sembah. Imam al-Qadli ‘Iyadl (W. 544 H/ 1149 M) mengatakan dalam kitabnya asy-Syifa : ”Sesungguhnya para Nabi itu ma’shum (terjaga)–baik sebelum maupun sesudah menjadi nabi–dari kebodohan, keraguan (walau sedikit saja) dan ketidakmengenalan terhadap Tuhan dan sifat-sifat-Nya.”

Allah berfirman dalam QS Al-Anbiya’ ayat 51:Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim Rusydahu (hidayah petunjuk kebenaran) sebelum ia mencapai umur balig (tafsir Imam Mujahid W. 104 H). Ayat ini menjelaskan bahwa sebelum Nabi Ibrahim berdakwah, ia telah diberikan iman yang kokoh dan ma’rifat/pengetahuan bahwa hanya Allah Tuhannya yang layak disembah, bukan bulan, bintang, ataupun matahari.

Sedangkan konteks surat Al-An’am ayat 76-78 tersebut di atas adalah disebabkan kondisi (medan dakwah) kaum Nabi Ibrahim, yakni kaum Harran yang gandrung terhadap ilmu astronomi, bahkan mereka sampai menyembahnya (bintang, bulan, dan matahari).

Oleh sebab itu, Allah mengutus Nabi Ibrahim kepada mereka dengan membawa hujjah qawiyah (argumentasi yang kuat). Bahwa, Apakah layak sesuatu yang terbit lalu tenggelam, sesuatu yang berubah, dan tidak dapat memberikan manfaat dan mudarat untuk dijadikan Tuhan? Oleh karena itu, Ibrahim berkata kepada kaumnya La uhibbul afilin (Saya tidak suka sesuatu yang tenggelam). Dalam tafsir Jalalain (karya Jalaluddin al-Mahalli W. 864 H/ 1459 M dan Jalaluddin as-Suyuthi W. 911 H/1505 M) dijelaskan: ”Saya tidak suka sesuatu yang tenggelam untuk dijadikan Tuhan, sebab Tuhan itu tidak patut mempunyai sifat yang berubah-rubah, bertempat, dan berpindah-pindah. Karena, sifat-sifat itu hanya pantas disandang oleh makhluk.”

Adapun dalil lain yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah mencari-cari Tuhan atau kebingungan dan mengeluh siapa Tuhannya di antaranya; QS Al-An’am ayat 79: Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik .

QS Ali Imran ayat 67: Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/lurus lagi Muslim (seorang yang tidak pernah mempersekutukan Allah dan jauh dari kesesatan) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik (tidak pernah musyrik sama sekali baik sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya) .

Sejatinya, tafsir makna surat Al-An’am 76-78 berdasarkan keterangan tersebut di atas adalah sebagaimana berikut: ”Ketika malam telah menjadi gelap, Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang lalu ia menyatakan, ”Inikah Tuhanku?

sebagaimana kalian kira?”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia menyatakan, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam” yakni layakkah sesuatu yang terbenam dijadikan Tuhan sebagaimana yang kalian yakini? Maka, ketika kaumnya tidak memahami maksud pernyataan Nabi Ibrahim tersebut, bahkan mereka tetap menyembah bintang, Nabi Ibrahim menyatakan untuk kedua kalinya ketika ia melihat bulan dengan pernyataan yang sama ”Inikah Tuhanku?”.

Demikian Nabi Ibrahim mengulangi kembali pernyataannya ketika melihat matahari ”Inikah Tuhanku?”. Lalu, ketika Nabi Ibrahim tidak dapat memberikan kesadaran/hidayah terhadap kaumnya, ia menyatakan kepada kaumnya, inni bariun mimma tusyrikun (Sungguh, aku berlepas diri [tidak bertanggung jawab dan tidak ikut menyembah bintang] dari apa yang kalian persekutukan).

Kesimpulannya, Ibrahim sebagai nabi dan rasulullah telah mengenal dan beriman kepada-Nya jauh-jauh hari sebelum menjadi nabi sebagaimana para nabi lainnya. Tidak pernah ada keraguan sedikit pun akan keberadaan Allah Sang Pencipta Semesta. Dan, ketuhanan hanya layak disandang oleh Allah. Tiada pencipta yang berhak disembah kecuali Allah.

Bukan seperti asumsi sebagian orang bahwa Nabi Ibrahim, suatu ketika, pernah kebingungan, ragu, lalu mencari siapa Tuhannya. Karena, semua para nabi mustahil melakukan atau jatuh dalam kesesatan, kekufuran, syirik, dosa besar, dan dosa kecil yang menghinakan, baik sebelum maupun sesudah menjadi nabi. Karena, para nabi dan rasul diutus sebagai Hudatan Muhtadin (orang yang mencerahkan dan tercerahkan) guna menyampaikan risalah kebajikan kepada seluruh alam semesta. Wallahu A’lam bis Sowab

Penulis: Ketua Umum SYAHAMAH

Sumber: Harian Republika, Jumat 24 April 2009


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: