>Hati Yang Terkunci Mati

23 02 2011

>

Ada yang bertanya, “Apakah Tekhnik NAQS 100% berhasil untuk semua orang..?”
Saya Jawab : “Tidak semuanya berhasil, ada juga yang belum beruntung. Mungkin belum jodoh aja dengan NAQS. Namun Alhamdulillah dari keseluruhan siswa, tingkat keberhasilan sudah mencapai dikisaran angka 75%.”
Tanya :”Apa sebab kegagalan mereka..?
Jawab : “Rata-rata karena Hatinya sudah terkunci mati, jadi sulit menerima Nur Ilahi.”
Tanya : “Apakah masih ada harapan buat mereka untuk berhasil…?
Jawab : “Tentu saja ada, selama nyawa belum sampai di tenggorokan mereka. Maka masih ada kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada jalan Allah SWT. Bila Allah berkehendak untuk memberikan hidayahNya, Maka apapun bisa terjadi.”

Hati adalah tempat / wadah untuk Hidayah dari Allah berupa iman. Kian bersih hati seseorang maka selain berfungsi sebagai wadah hatinya juga akan memancarkan keimanan keseluruh tubuhnya. Dengan iman dihati ia akan mendapatkanketenangan batin dan ketentraman jiwa, tapi sebaliknya jika hatinya jauh dan kotor maka hidayah iman itu tidak akan masuk sehingga yang akan dirasakan adalah kehampaan dan kegelisahan.

Qolbu / Hati yang hidup sebab iman yang memancar, akan membuat ia berada dalam suasana ruhiyah yang kuat, sehingga ia akan mampu mengarahkan hidupnya untuk taat kepada Allah SWT, dengan melaksanakan apa yang disukai dan diperintahkan Allah kemudian menjauhkan diri dari segala apa yang tidak disukai dan dilarang oleh Allah SWT.

Adanya potensi hati ini yang akan membedakan kualitas ruhiyah seorang manusia dari manusia yang lain. Sebagaimana yang disampaikan para ulama, bahwa bila hati dalam diri manusia sudah mati maka ia tidak ada bedanya dengan mayat yang berjalan.

Sahabat yang baik untuk mengakhiri tulisan ini mari kita renugngkan sabda Rasulullah SAW :
“ didalam diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila segumpal daging itu baik maka baik pula seluurh tubuhnya. Jika segumpal daging itu buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. “

Hati Yang Terkunci Mati
Firman Allah (s.w.t)

خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka , dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.(Al-Baqarah: 7).

Mengenai firman-Nya, Khatam allahu ( خَتَمَ اللّهُ ), As-Suddi mengatakan, artinya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengunci mati. 

Masih berkaitan dengan ayat ini, Qatadah mengatakan, “Setan telah menguasai mereka karena mereka telah mentaatinya. Maka, Allah mengunci mati hati dan pendengaran serta pandangan mereka ditutup, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat mendengarkan, memahami, dan berpikir.”

Ibnu Juraij menceritakan, Mujahid mengatakan, Allah mengunci mati hati mereka. Dia berkata ath-thab’u artinya melekatnya dosa di hati, maka dosa-dosa itu senantiasa mengelilinginya dari segala arah sehingga berhasil menemui hati tersebut. Pertemuan dosa dengan hati tersebut merupakan kunci mati.

Lebih lanjut Ibnu Juraij mengatakan, kunci mati dilakukan terhadap hati dan pandangan mereka.

Ibnu Juraij juga menceritakan, Abdullah bin Katsir memberitahukan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan, arraan (penghalangan) lebih ringan daripada ath-thob’u (penutupan dan pengecapan), dan ath-thob’u lebih ringan daripada al-iqfaal (penguncian).

Al-A’masy mengatakan, Mujahid memperlihatkan kepada kami melalui tangannya, lalu ia menuturkan, mereka mengetahui bahwa hati itu seperti ini, yaitu telapak tangan. Jika seseorang berbuat dosa, maka dosa itu menutupinya sambil membongkokkan jari kelingkingnya, ia (Mujahid) mengatakan, “seperti ini,”  Jika ia berbuat dosa lagi, maka dosa itu menutupinya, Mujahid membongkokkan jarinya yang lain ke telapak tangannya. Demikian selanjutnya hingga seluruh jari-jarinya menutup telapak tangannya. Setelah itu Mujahid mengatakan, “Hati mereka itu terkunci mati.” Mujahid mengatakan,  mereka memandang bahwa hal itu adalahar-raiin (kotoran, dosa).

Hal yang sama juga diriwayatkan Ibnu jarir, dari Abu Kuraib, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Mujahid.

Al-Qurthubi mengatakan, umat ini telah sepakat bahwa Allah SWT telah menyifati diri-Nya dengan menutup dan mengunci mati hati orang-orang kafir sebagai balasan atas kekufuran mereka itu, sebagaimana yang difirmankan-Nya, “Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.” (An-Nisaa’: 155).

Al-Qurthubi juga menyebutkan hadis Hudzaifah yang terdapat di dalam kitab As-Shahih, dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Fitnah-fitnah itu menimpa pada hati bagaikan tikar dianyam sehelai demi sehelai. Hati mana yang menyerapnya, maka digoreskan titik hitam padanya. Dan hati mana yang menolaknya, maka digoreskan padanya titik putih. Sehingga, hati manusia itu terbagi pada dua macam: hati yang putih seperti air jernih, dan ia tidak akan dicelakai oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan yang satu lagi berwarna hitam kelam, seperti tempat minum yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari  kemungkaran.”

Ibnu Jarir mengatakan, yang sahih menurutku dalam hal ini adalah apa yang bisa dijadikan perbandingan, yaitu hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan,

Rasulullah saw. bersabda,

Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia mengerjakan suatu perbuatan dosa, maka akan timbul noda hitam dalam hatinya. Jika ia bertaubat, menarik diri dari dosa itu, dan mencari redha Allah, maka hatinya menjadi jernih. Jika dosanya bertambah, maka bertambah pula nodanya sehingga memenuhi hatinya. Itulah yang disebut ar-ran (penutup), yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang telah mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”

Hadis di atas diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Nasa’i dari Qutaibah, Al-Laits bin Sa’ad. Serta Ibnu Ibnu Majah, dari Hisyam bin Ammar, dari Hatim bin Ismail dan Al-Walid bin Muslim. Ketiganya dari Muhammad bin Ajlan. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini bersetatus hasan sahih.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, Rasulullah saw. memberitahukan dalam sabdanya bahwa dosa itu jika sudah bertumpuk-tumpuk di hati, maka ia akan menutupnya, dan jika sudah menutupnya, maka didatangkan padanya kunci mati dari sisi Allah Ta’ala, sehingga tidak ada lagi jalan bagi iman untuk menuju ke dalamnya, dan tidak ada jalan keluar bagi kekufuran untuk lepas darinya. Itulah kunci mati yang disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.”

Perbandingan kunci mati terhadap apa yang masih dapat dijangkau oleh kasad mata, tidak dapat dibuka dan diambil isinya kecuali dengan memecahkan dan membongkar kunci mati itu dari barang itu. Demikian halnya dengan iman, ia tidak akan sampai ke dalam hati orang (oleh Allah SWT) telah terkunci mati hati dan pendengarannya, kecuali dengan membongkar dan melepas kunci mati tersebut dari hatinya.

Perlu diketahui bahwa waqaf taam (berhenti sempurna saat membacanya) adalah pada firman-Nya, Khatamallahu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.” Dan juga pada firman-Nya, Wa’alaa abshaarihim ghisyaawah, “Serta penglihatan mereka ditutup,” (ayat-ayat di atas) merupakan kalimat sempurna, dengan pengertian bahwa kunci mati itu dilakukan terhadap hati dan pendengaran. Sedangkan ghisyawah adalah penutup terhadap pandangan, sebagaimana yang dikatakan
As-Suddi dalam tafsirnya, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa orang sahabat Rasulullah saw. mengenai firman-Nya, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka,” ia mengatakan, ‘Sehingga dengan demikian itu mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berpikir dan mendengar. Dan dijadikan penutup pada pandangan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

Setelah menyifati orang-orang mukmin pada empat ayat pertama surah Al-Baqarah, lalu memberitahukan keadaan orang-orang kafir dengan kedua ayat di atas, kemudian Allah SWT menjelaskan keadaan orang-orang munafik, yaitu mereka yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Ketika keberadaan mereka semakin samar di tengah-tengah umat manusia, Allah SWT semakin gencar menyebutkan berbagai sifat kemunafikan mereka, sebagaimana Allah telah menurunkan surah Bara’ah dan Munafiqun tentang mereka serta menyebutkan mereka di dalam surah An-Nur dan surah-surah lainnya guna menjelaskan keadan mereka agar orang-orang menghindarinya dan juga menghindari dari terjerumus kepadnya.

Sumber: Terjemahan Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir), Tim Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Al-Islam-Pusat Informasi dan Komunikasi Islam


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: